entah (1)

01:15

Setelah sekian lama nggak begadang, akhirnya malam ini begadang lagi.

Saya nggak tega kalo bilang ini begadang yang sia-sia. Emm, rasanya memang sia-sia. Tapi satu hal yang saya rasakan, begadang ini semacam pintu pembuka untuk begadang di malam-malam berikutnya.

Saya  belum pernah merasa sebodoh ini. Semuanya sedang berada di titik nadir. Nyaris tidak mampu bangkit menuju kebaikan. Atau mungkin, semuanya kebaikan menjauh? Kaya kata Ibu, kebaikan akan diikuti kebaikan-kebaikan lainnya. Keburukan akan diikuti keburukan-keburukan lainnya.Atau kaya kata teh Igoh ketika aku malas baca Qur’an. “Nimus, pertama-tama memang kita yang menjauh dari Qur’an tapi lama-lama Qur’an yang akan menjauh dari kita. Tiap kita ingin baca, ada aja yang menghalangi.”

Ah, betapa aku rindu berkumpul bersama kalian setelah sekian lama terombang-ambing. Aku benar-benar merasa tersesat. Sekarang aku sedang mencari-cari mata air kebaikan. Semuanya seperti fatamorgana, menggodaku dengan keindahan tapi hilang ketika didekati. Di sana aku tak menemukan hatiku serta. Ketika kupikir akan menemukan kebaikan, dengan semangat aku menujunya. Namun, aku tak berhasil mendapat kesejukan yang aku idamkan. Hingga akhirnya aku jengah sendiri.

Kebaikan. Kebaikan. Kebaikan.

Bagaimana bisa aku hilang arah sementara ia bertebaran di sekelilingku, bahkan seringkali menyapaku. Hatiku saja terlalu bebal untuk dapat menginderanya. Berdamailah denganku hati. Berdamailah.

PS: Ada yang tahu, dimana bengkel hati?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s