Bertahan

Hari ini, setelah ikut evaluasi dosen, saya memulai kuliah. Kuliah Sistem Informasi Akuntansi (SIA). Dengan dosen pengganti. Saya menghela napas. Mungkin karena kurang paham, saya jadi kurang antusias dengan pelajaran satu ini.

Kuliah SIA dimulai.

Saya duduk di baris ketiga paling kanan. Sayangnya, suara dosen saya itu tidak menjangkau hingga sudut ruang kelas. Suaranya terdengar mendayu. Butuh konsentrasi penuh untuk sekadar mendengarkan.

Sindrom kantuk tingkat dua yang akhir-akhir ini sering berkunjung, agaknya akan segera datang.

Tapi, saya berpikir…

Bapak ini punya anak. Anak yang pasti sangat bangga dengan Bapaknya. Kalau anaknya melihat saya tidur di mata kuliah Bapak tercintanya ini, bagaimana perasaannya?

Seperti…

***

Seperti tujuh tahun lalu, ketika saya masih Sekolah Dasar. Ketika itu, saya ikut Ayah saya mengajar di suatu Kampus. Sampai di Kampus itu, saya langsung menuju tempat tujuan saya, perpustakaan, sementara Ayah saya mengajar.

Saya asyik di perpustakaan hingga waktu hampir Magrib. Sadar magrib segera tiba, saya mencari Ayah saya ke ruang kelasnya. Saat sampai di pintu kelas, saya memperhatikan sekeliling. Tidak sedikit yang mengobrol sendiri, banyak pula yang menahan kantuk. Dan saya paham, tidak ada ruap antusiasme di sana. Mahasiswa-mahasiswa itu ada di sana karena mereka wajib ada di sana dan harus lulus mata kuliah wajib: agama.

Menyaksikannya, rasanya sakit. Rasa sakit yang, bila teringat, masih terasa sampai hari ini.

Lalu, ketika tiba waktu mengoreksi lembar ujian, saya ikut membantu mengoreksi dengan iming-iming uang jajan. Sehingga saya tahu, banyak di antara mahasiswanya yang mendapat nilai C, D, atau E. Padahal, soal-soal yang diajukan adalah pertanyaan-pertanyaan agama umum yang mudah. Saat itu rasanya, teman-teman saya yang kelas lima SD pun dapat menjawabnya dengan baik.

“Bi, kok pada nggak bisa sih? Ini kan mudah,”  tanya saya.

“Nggak tahu, Teh. Mereka ini kurang perhatian sama pelajaran Agama,” kata Ayah saya. Ada nada kesal, sedih juga kecewa di sana. Saya melihat luka di mata Ayah saya. Serius. Saat mengoreksi, saya melihat ada luka di mata laki-laki terbaik dan terhebat dalam hidup saya.

Menyaksikannya, rasanya sakit. Rasa sakit yang bila teringat, perihnya masih terasa sampai hari ini.

***

Karena itu Pak, walaupun saya nggak ngerti pelajaran Bapak. Nggak paham dengan slide-slide yang berseliweran itu. COSO, CHOBBIT (gimana sih tulisannya?), apapun itu. Saya bertahan di sudut, berusaha bertahan dari gempuran kantuk yang menghebat dengan mencoret-coret hal yang kurang berfaidah.

Setidaknya, agar saya tidak jatuh tertidur di pelajaran pagi ini. Karena saya membayangkan, ada putri Bapak yang akan merasa sakit, sakit yang sama dengan yang saya rasakan, bila melihat saya jatuh tertidur di kelas Bapaknya tercinta.

25 November 2010

*coret-coret pelajaran SIA. Subyektif sekali. Misal:soal agama yang mudah. Maaf, namanya juga perasaan anak yang (waktu itu) masih SD.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s