Membagi Resah

Sudah beberapa waktu  ini ada yang aneh dengan keadaan hati saya.

Waktu UTS sementara persiapan masih mentah. Perlu motivasi lebih padahal hati ini kekeringan energi. Juga tentang amanat yang tak kunjung tunai. Semuanya berlomba menyesaki organ (yang sedang) sempit bernama hati. Semuanya terakumulasi menjadi kata yang disebut anak zaman sekarang: labil. Atau saya lebih senang menyebutnya resah.

Keadaan ini tidak biasa.

Saya sangat paham bahwa saya belum paham.

Saya mengerti sekali bahwa saya tidak mengerti.

Namun, hati, pikiran dan raga saya belum berdamai menjadi sebuah laku.

Akhirnya, saya sering membagi resah, ketakutan, kecemasan, apapun itu namanya pada orang-orang sekitar. Maafkan saya telah membuat hati kalian turut dihinggapi resah. Maafkan saya karena kalian tidak aman dari keburukan lisan saya.

Salah satu sisi dari saya adalah orang pesimis yang berprinsip untuk terbang rendah agar tak terhempas jika jatuh. Dan saya malah membagi rasa pesimis itu. Mau nangis rasanya dengan sikap seperti ini. Karena seharusnya kalau kita nggak bisa memotivasi, setidaknya nggak usah membagi resah kan?

 

menjelang UTS semester ganjil,

*maafkan saya teman-teman. Maafkan saya.

**sedang mencari, dimana semangat UTS?

Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, dengan setia saya berlama-lama menatap layar facebook. Akan tetapi, untuk sekadar memandangi slide-slide cost accounting, bahkan tiga puluh menit saya tidak sanggup bertahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s