UTS dan Kartu-kartunya

Saya bukan orang yang menanti ujian. Sebelas-dua belas dengan mahasiswa pada umumnya. Tapi, ada beberapa hal yang saya sukai dari ujian. Salah satunya, kartu UTS.

Di Kampus saya, biasanya, mahasiswi mendapat kartu-ucapan-selamat-ujian beruntaikan kalimat motivasi ataupun doa-doa dari suatu organisasi Islam Kampus, IMM**. Kartu ujian berupa sepotong karton warna-warni, biasanya digulung atau dilipat, lalu dipermanis dengan pita. (Catatan: yang mendapat kartu ini biasanya mahasiswi, karena jumlah mahasiswa di Kampus saya sangat banyak. Nggak tega membayangkan, berapa lama para pengurus organisasi itu begadang supaya semua mahasiswa mendapat ‘kartu UTS’).

Namun, sebelum saya mendapat ‘kartu UTS’ dari IMM**, sudah ada ‘kartu UTS’ lainnya yang merebut hati saya.

***

Kartu biasanya berukuran kecil. Tapi yang ini berbeda. Kadang, ia ‘hanya’ secarik kertas merah jambu ukuran A4 dengan tinta hitam tercetak di atasnya. Tanpa tambahan lain. Tanpa pita warna-warni. Polos saja. Murni. Semurni hati si pemberi.

Lain waktu, sedikit lebih ‘wah’, masih dengan kertas merah jambu yang sama. Bedanya, kertas merah jambu itu dicetak dengan tinta berwarna dan dihiasi dengan gambar indah. Meski begitu, kesannya tetap sederhana. Sesederhana niat si pemberi. Ikhlas tanpa tendensi.

***

Masih lekat dalam ingatan, di suatu siang yang mendung, setelah penat dengan ujian hari pertama. Kamu ada di sana. Di depan Gedung Piet Harjono. Sendirian. Tersenyum simpul saat melihatku. Aku bahkan tak ingat kalau tadi kamu mengirim pesan singkat yang menanyakan kapan aku selesai ujian. Penat yang dirasa seketika menguap. Imbas dari memandang senyum simpulmu. Aku berseru memanggil namamu dan mendekat. Lalu kamu menyerahkannya ke tanganku.

Kartu UTS yang ditujukan untukku. (Hey, aku nggak kepedean kan? Tertulis namaku di sana.) Terlihat jelas, kamu masih memegang beberapa kartu lain untuk dibagi. Tapi aku terharu. Aku merasa diistimewakan. Kartu pertamaku di ujian pertamaku. Tidak tergantikan.

Teman mana yang di tengah-tengah ujian, ketika waktu menjadi sangat berharga, rela membagi waktunya untuk ‘sekadar’ mengantarkan selembar kertas merah jambu? Kamu.

Sejak itu, kartu UTS (terutama darimu) menjadi sangat berharga untukku. Maaf karena tidak pernah mengatakannya padamu.

02:05

*untuk seorang teman yang selalu mendahului dalam kebaikan.

**setelah tulisan ini selesai, aku menatap selembar kertas merah jambu yang tertempel di dinding kamar, lalu tersenyum

Iklan

One thought on “UTS dan Kartu-kartunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s