Menggosip vs Memberi Tahu

Entah ada angin muson apa, hari ini teringat sebuah hadits yang matan-nya: “Atadruuna maal ghiibah? Qaaluu: Allahu wa rasuuluhu a’lam. Qaala: Dzikraka akhaaka bimaa yakrahu qiila.”

Suatu waktu, Rasulullah nanya ke sahabatnya: “Apakah kalian tahu apakah ghibah itu?” Sahabat menjawab: “Allah dan RasulNya lebih tahu.” Jawab Rasulullah: “Kamu membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak dia sukai.”

Kalau yang kita  mengatakan sesuatu yang benar, dan orang yang diomongin nggak suka dengan perkataan kita, itu namanya ghibah (atau menggosip). Kalau yang kita beritakan itu bohong, namanya fitnah. Wah, repot. Jadi, intinya nggak boleh ngomongin orang?

Boleh, dalam hal-hal tertentu: misalnya mengadukan kezaliman yang diderita, minta bantuan untuk menghilangkan kemunkaran, dan meminta fatwa atas suatu peristiwa.

**

Sayangnya, ngomongin orang sering dibenarkan dengan alasan, “Aku kan ngasih tahu, bukan nggosip.”  Oke. Tapi masalahnya, memberi tahu dan ngegosip itu bedanya tipis banget (atau malah nggak ada bedanya?).

Jalan keluarnya sudah diatur: berkata baik atau diam.

*iri dengan orang pendiam.

Iklan

2 thoughts on “Menggosip vs Memberi Tahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s