Mantra

Meski niscaya, kehilangan adalah sebuah momen yang mengagetkan. Juga, tak jarang membawa kesedihan. Apalagi  kehilangan orang-orang tercinta. Seperti saya yang kaget dengan sebuah pesan singkat yang mengabarkan bahwa hari ini, di Padang sana, ada sebuah keluarga yang tengah berduka. Saudara saya kehilangan Ayahandanya.

Empat bersaudara. Yang pertama, wanita salihah yang memilki satu putri. Yang kedua sedang kuliah. Yang ketiga baru menginjak tahun pertama kuliah. Dan yang bungsu,  mungkin sekarang masih SMP.

Beberapa tahun yang lalu, keluarga ini masih berdomisili di Lampung, sampai akhirnya menutuskan hijrah ke tempat asal, Solok, Sumatera Barat.

Ah, masih ingat senyum Beliau (alm) saat menyambut Abi dan saya di depan rumahnya yang berjarak tak jauh dengan rel kereta api.

Masih pula terkenang kata-kata yang diucapkan Abi saya. Perkataan yang dikutipnya dari Beliau (alm) ketika keadaan kami sedang sulit.

“Kalau anak sudah masuk (diterima sekolah/ kuliah), pasti Allah memberi jalan,” tutur Abi saya kala itu.

Dan kabar duka yang saya terima tadi pagi, membuat saya sedih sekaligus takut. Saya sedih atasa kehilangan yang dialami saudara saya itu. Khawatir akan kelanjutan pendidikannya.  Juga takut kehilangan orang tua.

Saya selalu takut dengan kehilangan. Dengan kematian. Dan terutama, kematian orang tua, kematian saya sendiri, kematian orang-orang terdekat. Meski saya tahu, jika rezeki seseorang sudah dicukupkan, maka habislah waktunya di dunia.

Saya takut orang tua saya akan meninggal terlebih dahulu. Jangan-jangan ketika saat itu tiba saya belum juga menjadi qurrata a’yun untuk orang tua. Saya juga takut kematian saya sendiri. Namun, selalu berharap mati dalam keadaan terbaik, sebagai muslim. Keadaan yang diridai oleh Tuhan saya.

Mengenai kematian, ketika saat-saat paranoid sedang meraja, saya akan berulang mengucap mantra. Mantra yang saya dapat dari sebuah perbincangan dengan Abi di beranda rumah di suatu malam.

***

Ketika tamu Abi pulang, dan meja plastik di beranda belum dibereskan. Saya berbincang dengan Abi saya tentang masa depan.

Saat itu, saya bertanya kepada Abi: “Bi, kalau Abi meninggal duluan, Teteh gimana?” Beliau memandang saya sebentar, tersenyum, lalu berkata: “Tenang Teh, sesayang-sayangnya orang tua, ada Allah yang Mahasayang.”

Kalimat itu bagaikan mantra yang merasuk di benak ketika saya sedang lelah dan gelisah. Seperti saat ini, saat saya khawatir terhadap keadaan saudara seiman di Padang sana, khawatir tentang ketiga anaknya yang masih sekolah, dua kuliah. Tapi, mantra itu bekerja, di tengah kesedihan, ia menyeruak, membisiki  “Allah Mahasayang” dan hati jadi tenang.

Saya yakin, sebuah keluarga kecil di Solok itu tak hanya sedang berduka, tetapi juga tegar menerima ketetapan yang telah digariskan. Saat ini, yang terbayang di benak saya adalah kisah Hajar yang bertanya pada Ibrahim saat ia dan bayi Ismail ditinggalkan di lembah tandus Bakkah. “Apakah ini perintah Allah?” hajar bertanya. Ibrahim tak kuasa menjawab. Ia hanya menjawab lewat tatap mata. Dan Hajar berkata dengan suara mantap penuh yakin “Jika ini perintah Allah, maka lakukan. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya.”

*tiap-tiap manusia akan merasakan mati, itu janjiNya. Sudah saatnya bersiap. Dan cukuplah kematian sebagai peringatan.

“Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihii wa’fu’anhu wa akrim nuzuulahu wa wassi’ madkhalahu wa waghsilhu bil maa’i wats tsalji wal barad. Wa naqqiihii daaran khairan min daarihi wa ahlan khaira min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa qiihi fitnatal qabri wa ‘adzaaban naar”

“Allahumma innii as’aluka husnil khaatimah wa a’uudzubika min suu’il khaa timah”



Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s