I am an opportunist, then ?

Semakin lama, saya makin merasa jadi orang oportunis – yang cuma mau tahu senangnya dan nggak mau ambil pusing sama susahnya.
Hal ini jadi pikiran sejak ada seorang teman –yang saya sayang- mengajak belajar cost accounting bersama. Namun, saya bilang kalau saya tipe yang kurang cocok untuk belajar bersama. Apalagi, materi yang diujikan adalah cost accounting, yang –kata teman saya—gaya belajarnya kaya di SPBU. “Mulai dari nol ya Bang!”

Untuk cost accounting, ada enam bab yang harus dikejar sementara saya tertatih memulai dari awal. Jadi, apa saya salah kalau mau belajar sendiri? Kok rasanya egois banget. Kenapa kalau main bersama saya bersedia dengan senang hati, tetapi untuk belajar [?] Rasa keadilan mengetuk-ngetuk dinding hati. Saya bingung. Merasa bersalah, pasti.

Keadaan seperti ini selalu berulang, saya mau enaknya aja. Salah satunya kalau diminta mengambil sikap. Saya tipe orang yang cari enaknya aja alias bermain aman –makanya saya nggak suka ke Dufan. *loh?

Selain tukang mencari aman, keadaan juga sering berkonspirasi menempatkan saya pada posisi nyaman – posisi innocent, pasang wajah tanpa dosa. Tapi, (akhir-akhir ini saya sering memikirkan) apa benar posisi saya selalu nyaman? Posisi saya seringkali tidak nyaman ternyata, hanya saja saya sering menutup mata pada kenyataan.

Seperti dulu, ketika (saya pikir) telah berteman baik dengan seseorang tetapi ternyata ia tidak suka terhadap saya.
Saya menghindari kenyataan yang tak seindah bayangan. Saya terlalu sering memilih untuk percaya pada si bayangan. Katakan saya naif. Terserah.

***

Memihak


Contoh lain dari tipe saya– seseorang yang suka cari aman.

Misalnya, seperti saat ini, saya diminta memihak. Saya berada di sisi mana? Saya memilih tidak memilih seperti ini saja. Saya terlalu takut berjibaku dengan kenyataan yang tidak diharapkan. Karena (mungkin), kalau saya tahu realita jauh dari ekspektasi, hati yang sudah ringkih ini akan mudah diinfeksi banyak penyakit lain. Tidak semudah itu hati ini menyembuhkan luka. Selalu ada trauma setelahnya.

Namun, mau tidak mau ada yang mengganggu pikiran saya.Kalau saya begini terus. Menganggap segala sesuatu baik-baik saja padahal kenyataannya tidak demikian, akan sulit bagi saya untuk memahami perasaan orang lain.

Sementara, muslim itu ibarat satu tubuh. Bila satu bagian sakit, yang lain ikut merasakan. Dengan sikap tidak peduli yang mengarat ini, apa iya saya bisa merasakan penderitaan orang lain? Entahlah. Dan saya gelisah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s