Saya Suka Hujan, Baik Gerimis Maupun Lebat

Saya kurang tahu, sejak kapan saya menyukai hujan. Mungkin, karena hujan memiliki auranya sendiri. (Banyak yang suka hujan kan, selain saya?) Mungkin juga karena hujan adalah rahmat.

Mungkin pula, karena momen-momen berkesan dalam hidup saya seringkali disambangi hujan.

Apapun alasannya, saya cinta hujan, baik gerimis maupun lebat.

***

Waktu kecil, rasa gembira meluap bila hujan tiba. Orang tua saya tidak melarang anaknya mandi hujan, Namun, kami baru boleh keluar rumah bila hujan telah lebat. Senang sekali rasanya menyusuri selokan di masjid depan rumah yang dipenuhi air –hey, selokannya bersih ya!— atau meluncur turun dari perosotan yang licin di TK samping rumah. Kami tetap tertawa saat terjerembab. Tetap senang saat terduduk dengan bunyi gedebuk keras. –sambil meringis juga sih. Ah, saya suka hujan.

____

Meski kadang rasa takut juga menyelinap saat hujan. Waktu masih SD, sepulang sekolah, saya, adik dan kakak hanya bertiga di ruang tamu. Padahal di luar hujan turun diselingi petir. Kami memandang dari balik kaca di ruang tamu. Merasa terperangkap. Ingin keluar.  Lalu kami mendengar gelegar keras,  petir menyambar pohon mangga di depan rumah hingga dahannya patah. Keinginan kami untuk keluar menguap sudah.

Jadilah, kami hanya bermain ‘telunjuk yang tahan api walalu terkena lilin’. Tahu kan? Itu loh, telunjuk yang dikibaskan secara cepat di atas api lilin sehingga tidak terasa panas. Kakak yang waktu itu baru tahu trik tersebut memamerkannya kepada kami –adiknya- dengan jumawa. Waktu itu, saya dan adik hanya bisa terbengong kagum dengan bodohnya. Saya rindu hujan di masa itu.

___

Lain lagi dengan hujan di Kuningan. Hujan di atap asrama Ummahatul Mu’minin yang saya pandang bersama Zahra, sahabat saya. Saat itu hujan berangin, dan atap asrama Ummahat yang ditimpa hujan terlihat indah seperti … bunga es? apalah namanya. (saya nggak tahu kosakatanya, maaf.) Tapi yang pasti, itu indah.

Dan Zahra mulai beranalisis dengan pedenya, bahwa itu akibat perubahan suhu secara mendadak, –panas yang biasanya diserap atap tiba-tiba hilang dan berganti dingin yang dibawa hujan. Sampai sekarang saya masih percaya penjelasan Zahra, tanpa berusaha mencari sebab sebenarnya. Saya selalu mengenang hujan di saat itu.

____

Juga hujan yang saya lihat lewat celah jendela kamar Hafshah. Hujan yang tetes airnya membasahi pucuk daun jambu biji di Bundaran HK. Awesome!

Atau hujan rintik nakal yang awet di Kuningan. Dapat turun sepanjang hari, pagi hingga sore. Membuat kami (ya, bukan saya saja, tapi saya dan teman-teman) malas berangkat tahfidz di pagi hari dan malas mengantar laundry di sore hari. Hihi :D

____

Juga hujan berkesan yang saya lewatkan di Masjid Al Husna II bersama Russy Nur Aida (Uchie), teman tersayang. Kami masih betah di masjid selepas salat Asar. Pembicaraan kami saat itu –yang diiringi musik hujan, terekam jernih dalam benak. Bahkan Uchie bilang kalau dia mengingatku saat hujan! Dan pertanyaan retorisnya “Hujan itu rahmat kan ya, mus?” Uwaaa. Uchie, you are the best!

____

Hujan yang sedih juga ada. Hujan yang turun bersamaan dengan bus yang membawa Zahra pergi. (Zahra memutuskan keluar dari PPHK di kelas 3 MTs, menjelang UN.) Kami, teman temannya yang mengantar, kembali ke asrama diiringi hujan. Seolah kesedihan kami atas keputusan Zahra tersampaikan oleh hujan.

.. hujan saat berenang di kolam renang Tirta bersama anggota kamar Zainab II.

.. hujan besar saat camping di Cibeureum hingga kami dipulangkan ke asrama.

____

Dan ketika SMA,

.. hujan sepulang sekolah. Kami beramai-ramai berlindung di bawah satu payung. (Niat menyelamatkan diri dari kebasahan nggak sih?) Hahaha :)

.. hujan pagi-pagi di asrama Pusdiklat saat outbond ke Bandung.

.. hujan yang menyebabkan Bandar Lampung banjir. Terjebak dalam mobilnya Intan –bersama Intan tentu saja. Saya penebeng sejati :) Salat Asar di dalam mobil. Wudhu dari air hujan. Si Intan yang waktu itu belum pakai kerudung salat pakai kerudung cadangan saya. Dan saya nggak boleh ngintip katanya.–padahal kepingin liat banget deh, beneran. Baru pulang ke rumah malam-malam karena banjir baru surut. Hihi, Intan dan saya jadi saksi mata banjir loh! *Kok malah seneng (?)

.. hujan pas ujian praktek Bahasa Inggris. Kami –anak aksel 6 duduk di depan kelas, menunggu giliran. Dan tiba-tiba ada orang yang jatuh di depan kami. Sial banget orang itu. Dia dapat jackpot, karena ‘kejatuhannya’ kami saksikan.

.. wah banyak pokoknya.

***

Karenanya saya mereka-reka, momen apa lagi yang akan terjadi saat hujan? Can’t wait the future.

Semoga indah, ya Allah. Amin.

P.S. ternyata tulisan sampah saya sudah sepanjang ini. Makanya hujan yang pas SMA nggak saya tulis lebih banyak lagi. Tentu saja momen yang sebenarnya lebih banyak. Cheers :)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s