Bijak

Orang bijak adil sejak dalam pikiran — Aristoteles

Kalau di jalan saya bertemu mas-mas berpakaian belel, robek sana-sini, ngomongnya kasar, saya pikir dia preman. Dan asosiasinya, preman itu menakutkan.

Kalau saya bertemu mas-mas yang memakai kemeja rapi, sepatu mengilap, saya kira dia orang berpendidikan.

Padahal.., belum tentu kan?

Kali aja si preman serem tampangnya doang tapi hatinya baik.

Mungkin juga si mas-mas necis itu taunya pencopet.

Begitulah, pasti ada ‘blink’ –pikiran yang pertama kali melintas.

Kalau ‘blink’ saya negatif, setelahnya saya sering malu sendiri. Bukannya ‘blink’ itu menunjukkan siapa kita sebenarnya?

Ah, orang bijak memang adil sejak dalam pikiran.

*akpem2, minggudepagakadaakpem :), 13april2011

Iklan

4 thoughts on “Bijak

  1. sekedar nambahin, dari diskusi dengan seorang saudara beberapa waktu lalu, ternyata kalimat “jangan nilai seseorang HANYA dari penampilannya” punya perbedaan cukup signifikan dengan kalimat “jangan nilai seseorang dari penampilannya”.

    yang satu adl cerminan upaya bersikap adil, yang lain adl usaha merelatifkan nilai-nilai.

  2. Berarti klo ketemu saya pasti mikir bukan kayak ‘anak kebanyakan’ yak?

    stigma dan stereotype terhadap seseorang/sesuatu hanya dapat dihilangkan dengan komunikasi atau interaksi secara langsung.

    • Berarti klo ketemu saya pasti mikir bukan kayak ‘anak kebanyakan’ yak?” — Nggak tahu ya..
      Kalau impresi terhadap orang, cukup saya sendiri yang tahu.
      Nggak harus komunikasi secara langsung juga sih, imho.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s