Revenue Recognition

Cash Basis. Cash towards Accrual. Accrual Basis.

Pakai yang mana?
Kalau saya, pakai yang “suka-suka gue” alias yang mana aja bisa dipakai, tergantung mood. Saya tahu pentingnya pengakuan pendapatan, tapi sabodo. Sekarang? Ugh. Saya merasakan pentingnya T.T

***

Alhamdulillah,
beberapa hari kemarin saya dapat busyra –berita gembira–. Hari itu saya lemas sekali. Saya tertidur sehabis dzuhur, masih lengkap dengan mukena (oh, jangan ditiru!) Lalu, sekitar pukul 15, hp saya berdering dan itu membuat saya terbangun. Setengah sadar, panggilan tersebut saya angkat.
“Ibu Hanifah?” (apaaa? dipanggil ‘ibu’? -____-)
“Iya, saya.”
“Selamat ya, Bu. Ibu memenangkan bla bla bla. untuk itu, ibu harus datang ke alamat ini. tidak bisa diwakilkan ya Bu.”
“Alhamdulillaaah~,” serus saya. *bengong*
—–diam agak lama—–
*tiba-tiba sadar*
“Mbak, saya datengnya hari apa? Weekend ini boleh?”
“Oh nggak, Bu. (BU?) Harus hari kerja. Ibu datang hari Kamis antara jam sembilan sampai jam empat ya.”
“Oh iya iya”
*hening*
telepon belum ditutup,
tapi saya juga masih cengo. nggak ada ide, mau nanya apaan lagi.
keheningan itu hanya bertahan sekitar dua menit.
telepon saya tutup karena kasihan juga sebelah sana pulsanya berkurang terus.

***

Oke. Buru-buru sujud syukur.
Terus biasa lagi. sok cool.
padahal dalam hati udah bersorak.
“Asiik iseng2 berhadiah. Hore!”

Terpikir untuk membagi uang hadiah tersebut, sekian untuk ini, sekian untuk itu. oke, deal. Namun ternyata di hari yang ditentukan, saya berhalangan. Ada kuliah. Niat hati ingin membolos apa daya tiga mata kuliah terlalu ‘berharga’ untuk dikorbankan. Lagipula, salah satunya kuis. Mana berani saya cabut.

Selesai kuliah, saya segera menuju stasiun. Pukul 14.30 saya sudah sampai.
*30 menit kemudian*
krik .. krik ..
*30 menit kemudian*
krik .. krik ..
bahkan loket pun baru dibuka sekitar pukul 15.30
Kalau selama menunggu saya nulis, mungkin sudah ada tulisan berjudul “Menanti Kereta Ciujung”. Sigh.

***

Ketika hendak menyeberang ke peron sebelah timur, weits! saya terpeleset saudara-saudara! Tangganya licin sehabis hujan. Saya mengaduh.Nggak sakit.Malu? jelas.

Mendekati pukul 16, saya mulai gelisah. Bukannya batas akhir perjanjian pukul 16? kalau jam sekian saja kereta belum datang, saya mau sampai lokasi jam berapa? Saya pun meminta pendapat ke beberapa -oh, oke dua- orang, “Apa saya harus melanjutkan perjalanan ini?”

Akhirnya, saya memutuskan untuk pulang. Toh, kalau saya memaksakan diri untuk pergi, mungkin saya hanya akan kecewa melihat kantor yang kosong. Tapi, ehm, nggak dimungkiri kalau saya agak kecewa. Kenapa? Karena saya mengakui pendapatan secara akrual! #garuktanah Uang belum juga di tangan, tetapi pengeluarannya sudah dialokasikan. Eueuuu.

Saya memutuskan untuk menghibur diri pergi ke salah satu plasa terdekat (menghibur diri macam apa ini).
Sembari berjalan menuju plasa tersebut, saya menelepon ummi tapi yang mengangkat adalah abi karena hp ummi tertinggal.

Cerita mengalir. Waktu itu rasanya masih sesak. Tapi, seperti selalu, Abi selalu menasihati, “Nggak apa-apa Teh. Itulah yang namanya hidup, nggak bisa manis terus. Yang penting kan teteh sudah tahu kalau teteh bisa,” kata abi. Dan segala nasihat lainnya.

Waktu itu saya sudah sampai di Gramedia. Beli post-it warna biru. (Ya, cara menghibur diri saya memang agak aneh)
Saat itulah, Abi bertanya apa saya sudah salat Ashar. Malu, saya menjawab “Belum Bi, ini Teteh masih di Gramedia.”
“Di situ ada tempat salat?”
“Ada Bi. Tapi teteh mau salat di kosan aja,” saya bersikeras.
“Salat dulu Nak. Sekarang. Segera, ya?”
“Iya bi, iya,” saya mengiyakan.
Sambungan terputus.
Saya pun segera membayar di kasir dan turun ke lantai bawah untuk salat.

Sehabis salat, saya baru merenungi.Semuanya kan rezeki dari Allah. Seperti juga hadiah yang seharusnya saya dapat itu. Awalnya saya nggak punya apa-apa, lalu Allah memberi saya rezeki. Bila rezeki itu dicabut, apa hak saya untuk protes? Ah Allah, mahaAgung, mahaBaik, mahaSayang.

***

Lagi, untuk menghibur diri, saya berniat membeli jeruk :9 –buah favorit saya. Sempat-sempatnya pula sms “Bi, Teteh beli jeruk ya?” (ngapain juga pakai sms). Dibalas Abi, “Baik sekali, Nak (beli jeruk) Kalau Teteh kurang dana, silakan bikin proposal.” Saya tersenyum –bahagia sekaligus haru. Nikmat manakah lagi yang akan saya dustai?

Memiliki keluarga –orang tua,kakak-adik — yang superduper baik, bukankah itu jauh dari sekadar cukup?

***

Di perjalanan pulang, sms masuk dari seorang teman
“Aduh, trus hangus ya fah, hadiahnya?”
Saya jawab,
“Nggak tahu. Nggak papa. Aku biasa aja *sok pasrah. belum diakui jadi pendapatan kok. Aku kan pake cash basis.”

:D

Ya, saudara-saudara. Mulai sekarang, pengakuan pendapatan saya dengan cash basis.

#ayambakarlamongan. setengah enam. Dengan beberapa butir jeruk navel dalam plastik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s