Batu Besar

Seorang guru berdiri di depan kelas, ia membawa sebuah ember.
Lalu, sang guru mengisi ember tersebut dengan batu besar.
Ia bertanya, “Apakah ember ini sudah penuh?”
“Rasanya ya,” jawab murid-muridnya.
Kemudian, guru tersebut mengisi embernya dengan kerikil,
kerikil pun segera mengisi celah-celah yang ada.
kembali ia menanyakan hal yang sama, “Apakah ember ini sudah penuh?”
“Sepertinya belum,” balas para murid.
Sang guru mengisi ember tersebut dengan pasir.
Lalu bertanya, “Apakah ember ini sudah penuh?”
“Belum,” jawab para murid.
Akhirnya, sang guru pun mengisi ember tersebut dengan air, hingga air menyentuh bibir ember.
Kini, guru bertanya lagi, “Apakah ember ini sudah penuh?”
“Ya,” jawab murid-muridnya.

Apa hikmah yang bisa dipetik dari kisah tersebut?

Bayangkan, ember tersebut ibarat satu hari dalam hidup kita. Batu-batu besar adalah hal-hal yang berharga dalam hidup kita; hubungan dengan Tuhan, keluarga, cinta, pendidikan, karier …
Yang pertama kali harus kita letakkan adalah batu besar, kemudian sisanya menyusul.
Dengan demikian hidup kita akan ‘penuh’ kebahagiaan.

Tapi coba bayangkan, kalau yang kita lakukan (dan ini sering saya lakukan) adalah mengisi ember tersebut dengan pasir atau dengan kerikil terlebih dahulu. Maka, batu besar tidak akan mendapat tempat di ember tersebut kan?

Begitu juga hari-hari kita, kalau hal-hal nggak penting duluan yang kita lakukan, maka waktu kita akan habis sebelum kita sempat melakukan hal-hal yang ‘besar’.

#selfreminder
diambil dari rekaman “Resonansi Jiwa”

*sedang merasa hari-hari berlalu begitu saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s