Ta’aruf

Kala itu adalah pertama kalinya saya membolos dari kuliah.

Karena waktu itu Tante saya—yang sangat sering saya repotkan– sedang berulang tahun, saya menyambut senang tawaran untuk berkunjung ke rumahnya di bilangan Ampera, Jakarta Selatan. Saya dijemput pukul tujuh pagi dari indekos.

Di sana saya bermain game, menguncir rambut Rahmi, bermain lempar bola –dan segala macam permainan yang disenangi anak kecil. Karena terlalu asik bermain bersama adik Rahmi, saya pun melewatkan jam kuliah saya. Agak miris juga. Di Ampera saya menyusun puzzle 3D bersama Rahmi sementara di ruang kelas sana, teman-teman saya khusyuk menyimak mata kuliah Akuntansi Pemerintahan.

Saya diantar pulang ke indekos sekitar pukul sembilan malam, setelah Cilandak Mall tutup. (Ya, jika bermain ke sana, mampir ke Amazone dan bermain di sana hingga larut adalah acara wajib.)

Di perjalanan, Rahmi yang kelelahan sehabis bermain DDR tertidur di samping saya, sehingga tinggal Tante dan saya yang terjaga. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari pengalaman Tante yang dikeluarkan dari SMA-nya karena memakai kerudung sampai masalah da’i yang terjun ke kancah politik.

“Islam hanya bisa tegak dengan revolusi,” kata Tante saya.

Ia melanjutkan, “Lihat deh sekarang banyak anggota Dewan yang kena masalah. Itu suatu teguran buat ‘partai itu’.”

“Yang haqq dan yang batil itu memang nggak bisa bercampur,” Tante berkata penuh yakin.

Saya berusaha menyanggah. Namun, alasan saya lemah. Payah.

“Orang sekarang memang banyak yang ‘ngaji’, tapi kualitasnya beda sama yang dulu,” tutur beliau.

“Coba deh, teman ‘ngaji’ teteh ada berapa orang?” tanya beliau.

“Ada lima. Enam sama aku,” jawab saya.

“Udah berapa lama ‘ngaji’ sama mereka?” tanya Tante.

“Sudah hampir dua tahun,” kata saya.

“Sudah kenal sama mereka?” selidik Tante.

“Sudah,” mantap saya menjawab.

“Tahu mereka anak ke berapa? Saudaranya ada berapa?”

“Err,” saya tidak menjawab.

Tante saya melanjutkan, “Sudah pernah ke rumahnya? Kenal sama orangtuanya?”

Saya tertegun. “Belum,” jawab saya pahit.

“Berarti teteh belum kenal mereka. Padahal tingkatan persaudaraan dala Islam kan: ta’aruf (mengenal), tafahum (memahami), takaful (merasa sepenanggungan), ta’awun (saling menolong). Dengan keadaan seperti itu, apa teteh merasa sudah melewati tahapan ta’aruf?” tanyanya retoris.

Saya terdiam.

***

“Apakah kita sudah melewati tahapan ta’aruf?”

Pertanyaan itu berulang-ulang mampir di benak saya. Saya pun paham, saya belum benar-benar mengenal kalian. Dengan kata lain, saya masih berkutat pada tataran ta’aruf dan belum naik kelas.

Terlalu jauh rasanya bila berkaca pada tiga syuhada yang saling mendahulukan saudaranya (itsar). Ketiga syuhada itu dalam keadaan sekarat pascaperang dan ketiganya dalam keadaan haus. Ketika ada orang yang datang ingin memberikan air, orang pertama berkata padanya, “Berikanlah pada saudaraku, sesungguhnya ia lebih membutuhkan.” Begitulah, mereka saling mendahulukan saudaranya hingga ketiganya meraih syahid.

Tapi ‘terlalu jauh’ bukan berarti tidak mungkin. Memang masih banyak langkah yang harus kita tempuh sebelum mencapai tahap itsar. Tapi masih ada kemungkinan bagi kita untuk naik kelas kan?

Masih tersisa satu tahun untuk merajut tali persaudaraan dengan kalian, saudari-saudariku yang berharga –sahabat untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Semakin waktu berlalu, semoga semakin rekat pula hati-hati kita.
Aamiin.

P.S. Pssst, bertemu kalian adalah salah satu hal yang membuat saya bersyukur ada di Kampus ini.
Uhibbukunna fillah, insya Allah.

[H2O1|1]

Iklan

4 thoughts on “Ta’aruf

  1. ini yg dulu tanya dari Ampera ke Bintaro berapa lama itu kan?

    keknya udah ngasih tau kalau waktunya masih nyukup untuk nyusul. Tapi…

    Tanya kenapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s