Ibu Titi

Alhamdulillaaaah, selama kuliah ini saya sering sekali mendapatkan dosen yang keren, asik, baik hati, dan (insya Allah) ikhlas. Saya ceritakan satu di antaranya yaa =)

Salah satunya adalah Ibu Titi Saraswati, dosen Pengantar Akuntansi II. Saya diajar beliau di Semester II. Prinsip Bu Titi adalah “Masuk nggak boleh telat, tapi pulang boleh duluan.” Jadi, kalau ada mahasiswa yang terlambat, beliau akan menanyakan perihal Akuntansi kepada si ‘sial’ itu. Namun, bisa menjawab pertanyaan atau tidak, kita tetap boleh mengikuti pelajaran kok.

Dosen saya yang satu ini gaul. Akun facebook dan twitter-nya aktif terus. Jadinya mudah kalau mau komunikasi atau konsultasi asmara, eh, pelajaran :] –tapi jeleknya, jadi ketahuan kan siapa saja yang suka begadang dan online malam-malam– Oya, satu lagi ciri khas beliau, orangnya cantiiik (eh, ini bukan ciri khas ya?) oh, oke, ciri khasnya; pakaian yang beliau kenakan selalu serasi. Sampai-sampai Dian, teman saya, bilang, “Gue kalo udah Ibu-Ibu mau kaya Ibu Titi.” Saya mengamini, “Iya, gue juga mau kaya Ibu Titi”. Wah, pokoknya Bu Titi itu favorit deh.

Eits, yak. Nggak semuanya seneng juga sih. Salah satu hal yang bikin deg-degan adalah pembagian kertas ujian—baik kuis maupun UTS. Gemetar. Soalnya, si Ibu memanggil mahasiswa dengan nilai terendah sampai ke nilai yang tertinggi. Jadilah, kita harap-harap cemas; kapan nama kita dipanggil. Kalau sudah begitu, suasana jadi horor. Tapi, biasanya setelah nilai dibagikan, tiga orang dengan nilai tertinggi mendapat hadiah. Sekali waktu tiket bioskop, dan Goodtime di lain waktu. Si Ibu menerapkan positive reinforcement!

Oiya, ketika mendekati ujian, si Ibu juga menyediakan waktu di luar jam perkuliahan bagi siapa-siapa yang mau belajar. Super sekali kan saudara-saudara? Dan di akhir pertemuan, Ibu membagikan sebatang cokelat silverqueen untuk tiap orangnya. Terharu. Perhatian banget yak, saudara-saudara. Virus dosen yang begini harus ditularkan ke segala penjuru Indonesia, beneran deh.

(Ngomong-ngomong, kenapa yang disebut makanan terus?)

Di tingkat II kemarin, teman-teman dan saya diajakin makan siang sama Ibu Titi. Yah, tentu saja kami menyambut ajakan ini dengan hati riang. (Mahasiswa mana sih yang menolak makan gratis?) Beliau masih inget aja sama kami, padahal sudah setahun berlalu :’)

Beliau juga perhatian sama muridnya, coba bayangin, pertanyaan pertama Ibu Titi saat kami makan siang bersama (lagi) adalah, “Udah tahun ketiga, kamu udah dapet cowok belum?” >> astaga, pertanyaan tidak terduga. Udah gitu, si Ibu tahu aja kalau si A jadian dengan si B. Dan di sela-sela makan siang sempat menanyakan, “Gimana kabar X?” atau “Apa si Y masih pinter aja di kelas?”

Yah, ini kan “Bu Titi di Mata Saya”, — meskipun rasanya sih banyak yang setuju sama saya. Hehe. Terima kasih banyak Ibu Titi, semoga segala kebaikan Ibu dibalas Allah dengan balasan yang jauh lebih baik. Akhirnya, selamat untuk Ibu Titi yang semester kemarin jadi dosen terbaik versi angket mahasiswa. \(^^)/ You are the best, Bu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s