Perjalanan 16 Februari

Ini sudah tahun ketiga, tapi saya sama sekali belum pernah mengunjungi perpustakaan nasional.

Sebenarnya, saya berencana pergi kemarin (15/2) bersama nurul. tapi ternyata ada force majeur sehingga kami batal ke perpusnas. Rencana itu nggak bisa ditunda esoknya karena Nurul sudah ada janji ke Tanah Abang sama Uni.

Sebenarnya, saya nggak berencana untuk pergi ke perpusnas. saya sudah punya beberapa rencana lain, tapi spontanitas saja, saya putuskan untuk berangkat. (baca: plin plan -_-)

Selepas mengunjungi bengkel –yang baru saja ditinggal pergi oleh penghuninya ke Kalimantan, saya berangkat. Sekitar pukul sepuluh.

Di bus, ada penjaja suara (pengamen) yang menyanyikan lagu Ebiet G. Ade. Lumayan banyak lagu yang ia bawakan. Sekitar empat lagu. Sebagai lagu penutup, ia membawakan ‘Berita kepada Kawan’. Somehow, sisi melankolis saya tiba-tiba muncul. Yap, benar. Tepat di lirik “Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan …” T.T

(Kaya nggak biasa pergi sendirian aja -,-)

Karena perjalanan cukup lama, saya tertidur di bus itu. Tapi untunglah ketika sampai di kawasan Sarinah saya terbangun. Berdasarkan instruksi Mbak Tulad, turun di lampu lalu lintas selatan monas. (*manapula itu timur-tenggara-selatan (?) –> buta mata angin)

Pokoknya, pas udah lihat monas langsung turun deh. nanya sama pak polantas “Perpusnas dimana ya?” tapi si bapak taunya malahan museum gajah. Oke, tanya pak polantas yang satunya. Beliau menunjukkan arah. Saya pun berjalan sesuai petunjuk. saat mau menyeberang, saya baru tahu kalau sekarang sudah ada lampu merah bagi pejalan kaki. tulisannya begini “Jika Anda ingin menyeberang, tekan tombol ini” –> lalu kita diberi waktu 20 detik untuk menyeberang. :O bisa-bisanya baru tahu. kemane aje lu peh?

Saya tiba sekitar pukul setengah dua belas. Di depan perpusnas, saya melongo. Oh, ini ya perpusnas. Kirain gedungnya tinggi sampai beberapa lantai. (ngarep kaya perpusnasnya Singapura yg pernah saya baca di majalah #plak) Tapi bangunannya bangunan tua. Oalah, ternyata cagar budaya. Pantas saja.

Saya masuk main slonong boy. gak pake tanya sana-sini, ga pake nitipin tas (*kaya ga pernah ke perpus aja u.u) Trus ditegur sama mbak2 yang jaga, “Mbak tasnya dititip”, katanya. “Oh iya,” kata saya. Malu. -_____- Saya pun mendapat kunci loker setelah menyerahkan kartu identitas.

Pandangan pertama. Saya cukup excited. tempatnya oke. nyaman. lantainya panel kayu. ada sofanya juga. tapi nggak sesuai bayangan. Ekspektasi berlebih sih. hehe. Di bayangan saya sih perpusnas itu kaya Perpustakaan Kongres di National Treasure, yang raknya tinggi sampai kita harus naik tangga segala. raknya berderet-deret gak habis-habis. Tapi ternyataa .. (kayaknya saya terlalu banyak nonton film -.-)

Oke, jadi perpusnas itu semacam terbagi-bagi jadi beberapa section. Ada bahasa, sastra, sejarah, ilmu murni … gitu deh. Nah, yang pertama kali saya kunjungi adalah bagian sejarah.

Buku yang pertama saya ambil adalah biografi Marie Curie –tokoh favorit saya :D biarpun udah tahu ceritanya tapi tetap saja ingin membaca lagi :D

Buku yang kedua yang saya ambil adalah buku Laksamana Cheng Ho. Oh oke, kalo ini nggak dibaca habis kaya yang pertama, cuma dilihat-lihat saja karena mau salat Dzuhur.

Musala terletak di sebelah kiri gedung. dan tempatnya nyaman juga. jadi, kalau mau berlama-lama di sana, bisa lah.

Selepas Dzuhur, saya balik lagi. Kali ini saya ke lantai dua. baca ensiklopedi. baca buku Wirausaha Muda Mandiri dan #jleb #jleb adalah kalimat “Tidak ada hasil yang didapat tanpa usaha.” Jadi kebanyakan ceritanya para wirausaha ini bukan karena miskin, tapi karena “ingin mencicipi hasil keringat sendiri.” #jleb Oh, oke.

kemudian saya berkeliling di lantai dua. cukup menyesal juga baru keliling di lantai dua pada sore hari. sebab ternyata, pilihan bukunya lebih banyak, tempatnya lebih dingin (ACnya dua orangnya satu yaiyalah) dan relatif lebih sepi.

nah, ini lagi parahnya. saya baru berkunjung ke section “Widow of Korea” saat akan pulang. yaampun, itu tempatnya keren banget :O tapi sayangnya nggak bisa baca hurufnya T.T
udah gitu, sampulnya pada manis-manis banget, warnanya imut juga :3 tapi lagi-lagi saya cuma bisa ngiler kepingin baca tapi nggak bisa T.T

Setelah itu saya pun salat Ashar dan bergegas pulang. Di dekat perpusnas ada feeder bus transjakarta. Jadi kita nggak perlu jalan untuk ke halte monas. ini pertama kalinya saya naik feeder transjakarta btw. jadi saya setengah berlari karena takut ditinggal. tapi ternyata tidak. saat beli karcis, saya bengong plus bingung. Ini bayar berapa sih? jadi ada dua karcis. yang satu tulisannya 3000, sebelah lagi 6500. Padahal kan biasanya transjakarta pasang tarif 3500. Jadi, ini bayarnya 3000, 3500, 6500, atau 9500?

Oke, ternyata jawabnya 6500. 3500 untuk tiket biasa transjakarta, dan 3000nya untuk feeder ._.

***

Nah, ini dia.

jadi, saya terlambat menyadari kalau seharusnya saya turun di halte Senen. Ketika saya ‘ngeh, bus sudah berjalan. Oke, saya turun di perhentian berikutnya: Galur. nunggu busnya lama banget T.T Udah gitu, berhubung saat jam pulang kantor –> Maceeeet. Dari Galur ke Senen aja memakan waktu sekitar 45 menit.
Estimasi saya, sampai di kost pukul 7 malam. tapi ternyata oh ternyata…

Karena saya salah naik bus, dari Galur saya transit di Harmoni. di perjalanan, saya lihat monas. dalam hati –> “yaampun dari tadi gue muter-muter aja di sini” miris.

Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 versi jam saya yang lebih sepuluh menit. Saya pun mengkhawatirkan keberlangsungan salat Magrib saya. “Mau salat dimana gueeeh?”

kata ustadz sih, kalau keadaan kaya gitu dan nggak memungkinkan, biarpun belum punya wudhu, salat saja dulu di perjalanan untuk menggugurkan kewajiban. nanti kalau sudah ketemu tempat yang layak untuk salat, salat tsb kita ulang. –> tapi kan tetep aja ga enaaak.
*tapi btw saya pernah salat magrib di transjakarta -_-*

(imho, pembagian sisi transjakarta berdasarkan gender ini bagus juga. jadi kalau penuh, kita nggak usah berdesak-desakan dengan lawan jenis :D Rawan kejahatan banget itu. mottonya transjakarta: “Saatnya wanita jadi yang utama” (y) *oh inikah salah satu bentuk emansipasi (?)*)

Turun di Harmoni. Alamaaak, tuh kan baris antrean mengular gitu. Habis deh gue. tapi ternyata saudara saudari, itu antrean bus tujuan Ancol. dan untuk arah Blok M nggak terlalu rame :’) Dapat busnya cepat. Alhamdulillaaah.

Oya, u know what? Saya ngelewatin monas lagi T________T jadi selama sekian ratus menit saya nggak ada perpindahan doooong?

yaTuhaaan. oke. saya pun mulai mikir “Kok gini ya? Kenapa?” Ternyata, selain karena tadi saya salah transit, ini cara Allah menegur saya. Saking khusyuknya baca buku, tadi saya salat Dzuhur pukul setengah dua. dan salat Ashar pukul setengah lima. padahal kan bisa di-skip dulu kan buat salat? Iya kan? Iya dong.

Tiba di Blok M pukul 19.00 versi jam saya. Untunglah sekarang Maghrib itu sekitar pukul setengah 7. jadi masih ada waktu. Alhamdulillaaah plus astaghfirullah.

Saya pun mencari musala yang biasa, tapi nggak ketemu. hampir desperate karena waktu magrib sudah mau habis. (udah berkali-kali lewat blok M tapi ga hapal-hapal. Gosh *tepokjidat*)

trus nanya sama seorang pedagang. dan ternyata di dekat situ – di parkiran ada musala. Alhamdulillaaah. tapi tetep aja saya mikir; tempat salat jarang yang ‘layak’ ya.

yah, sempit-sempitan aja semacam di parkiran gitu. atau mepet toilet. sejauh ini sih musala yang bagus yang pernah saya temui di pusat belanja baru tiga; BP, Plaza Semanggi, sama Tanah Abang. (*kalo ada yg lain-lain yg bagus juga berarti saya belum pernah ke sana ^^V*)

**

Okee, habis salat, saya sadar kalau dari siang belum makan dan saya beli burger. Pas bener burgernya selesai, adzan Isya berkumandang. hayuklah kita salat dulu. masa nggak belajar dari pengalaman sih fah?

Alhasil, saya baru naik metromini 71 pukul setengah delapan. Ada yang beda; pertama kali saya kemalaman di terminal –walaupun bertiga, saya beneran takut. tapi sekarang berhubung sudah sering, jadi rasa takutnya sudah jauh berkurang. Ouch. Oya, as you know, di daerah itu banyak penjaja suara.

Buat saya yang cukup jarang pergi sih, pengamen itu cukup jadi hiburan. Apalagi yang suaranya bagus seperti mbak2 yang sering saya temui kalo naik AC05 ke Bekasi. beneran seneng denger mbak itu nyanyi. Lagu ale-ale aja jadi bagus :’) Juga, mbak itu mengingatkan saya kepada Mbak Tyas –sama-sama bernyanyi dengan khusyuk.

Kali ini, di 71 dalam perjalanan pulang dari perpusnas, dalam kurun waktu sepuluh menit saja sudah ada dua kloter penjaja suara. yang pertama: fine. Dua anak muda –mungkin masih SMA *soktau* Pakaiannya rapi –keduanya pakai kemeja. yang satu kemeja hitam, yang satu kemeja hawaaii. pakai jeans panjang dan rapi juga. alat musiknya gitar dan semacam gendang. Oya, dan yang paling penting: mereka menghibur. Suaranya enak didengar. Juga, mereka membawakan lagu Insya Allah-nya Maher Zein. Nambah simpatik aja kan? daripada lagu-lagu nggak jelas (?) Terbukti, banyak yang apresiasi dengan uang.

Nah, yang kloter kedua: bapak sama anak laki-lakinya. kalo kata saya sih, si anak mirip Tebe. dia pake baju koko–yang banyak penitinya dan peci putih. si Bapak pegang kerincingan. suaranya nggak terlalu jelas, nggak bisa dibilang bagus juga (#plak *lo nggak ngaca peh?) ya, pokoknya kaya niat nggak niat. Tapi, dia bawain lagu Tombo Ati-nya Opick. Eeaaaa. Mau nggak mau selintas pikiran saya: ini kenapa sih lagunya gini semua? zzz. pikiran yang menjurus suuzhan itu buru-buru saya tepis. meski saya nggak jamin pikiran kaya gitu masih bisa datang sewaktu-waktu -_-

oke. yah, pokoknya saya lagi-lagi tertidur di metromini 71. dan terbangun di sekitar daerah Gandaria. Setelah itu nyambung angkot dan sampai di kost sekitar pukul sembilan malam. Rencana mau diskusi majalah sama partner a.k.a Akhi Tendi gagal (lagi). Dua kali gagal dalam hari yang sama. zzzz.

oke. saya capek tapi butuh curhat makanya nulis nyampah sepanjang ini.
Akhirnya ini blog terisi lagi walaupun makin lama makin random. Apa kita perlu pindah rumah ke blogsp*t? entah kenapa tapi wordpress ini kesannya ‘serius’ :|

**

tadi saya nggak sempat mengunjungi tempat baca anak T.T padahal di situlah terdapat banyak komik. *jedukin kepala ke tembok*

kalau kalian juga berminat mengunjungi perpusnas, ini dia waktu kunjungannya:
Senin- Jumat : Pukul 09.00 — 18.00
Sabtu — Minggu : Pukul 09.00 — 15.00
hari libur nasional : Tutup

*tenang saja, perpusnas buka dan tutup sesuai waktu.
nggak seperti di perpusda yang jam satu saja sudah diusir secara halus
#lagilagicurcol*


Happy Reading! (:

selipan doa:
yaTuhan, saya ingin jatuh cinta (lagi) pada buku-buku

Hanifah,
17 Feb, 00:17

Iklan

9 thoughts on “Perjalanan 16 Februari

  1. klo pingin liat perpusnas dngn gedung bertingkat, coba kunjungi yg di jalan Pramuka, dkt SMA 68 jkt, Salemba. Bertingkat dan penuh dengan rak-rak buku. Agak kaget juga liat foto perpusnas di dket monas ini: beda 180 derajat.

    klo di Blok M, tepatnya di Pasaraya ada satu lantai khusus untuk masjid. tempatnya bagus pake banget. klo yang lumayan ‘layak’ yg deket terminal Blok M-nya itu deket tangga keluar (naik ke atas, arah mau ke Pasaraya) ambil kiri, ntar ada WC umum dan musholla di lantai duanya, ruangannya berpendingin. information only.

    anyway, gaya penulisannya beda. No offense.

    • wooooow.
      makasih banyak Mas DSM.

      iya, biasanya aku ke musala yang itu –yg di lantai 2 atasnya toilet (toilet lagi -_-),
      tapi nggak kecarian makanya salat di tempat yang lain. karena udah mepet waktu juga. sigh.

      oiya, ini langsung nulis di dashboard nggak pake edit.
      (mulai dari yg judulnya Syukr Lillah sih kaya begini)
      mungkin karena itu (?)
      beda –> biasanya curhat aja, sekarang curhat pake banget
      *garuk kepala*

  2. Ping-balik: Tujuan Kami Sebenarnya Perpustakaan Nasional « Coretanlepas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s