Ngeteng

Minggu (19/2). Hari ini hujan awet. Turun sejak pagi dan enggan berhenti. Inilah yang saya khawatirkan; hujan. Akan repot sekali apabila saya membawa tas plus harus memegang payung. Tapi, untuk tinggal lebih lama di indekos pun, saya sedang tidak nyaman karena suatu hal. Dan rumah, selalu menjadi tempat utama untuk mencari perasaan bernama ‘nyaman’.

Maka, saya memutuskan untuk pulang pada hari ini. Dengan ngeteng meski sendiri. Pun bila saya tetap bersikeras pergi ke Gambir untuk naik Damri, kemungkinan saya kehabisan tiket. (*ya, saya pernah kehabisan tiket Damri untuk perjalanan pukul sepuluh malam. Nggak lagi-lagi kemalaman di stasiun. Makasih.) Jadi pilihan paling realistis saya apabila ingin pergi di hari itu adalah: ngeteng.

Dan inilah saya , berjalan dari indekos menuju gerbang komplek membawa dua tas –satu ransel berisi laptop dan snack dan satu tas jinjing sisanya berisi pakaian dan buku bacaaan.

Baru sampai di depan sebuah toko bernama Omi –masih di sekitaran komplek, tangan saya sudah gemetar, “Ya ampun, bawaan gue berat banget!” Sempat terlintas untuk kembali ke indekos saja.

Akhirnya, saya tiba juga di gerbang komplek. Setelah sekitar sepuluh menit, angkutan umum D22 yang saya tunggu tiba juga. Di angkot, ada Ibu dan anak yang berniat mengunjungi ayahnya di tempat kerjanya. Si anak menagih uang lima ribu yang dijanjikan Ibunya tetapi janji tersebut belum ditunaikan. Adapula tujuh bocah yang berpakaian bola yang menawar ke supir angkot ‘Bang, seribu aja ya Bang?’ :D

Saya turun dan meneruskan perjalanan dengan angkutan umum B02. Saya berpesan kepada supir supaya menurunkan saya bila sampai di fly over. Di luar masih rintik. Angkot ngetem cukup lama. Perjalanan pun ternyata cukup jauh. Saya mengantuk dan tertidur di angkot. Di angkot ada mas-mas yang bilang “Pinjam payungnya mbak.” Errr. Saya tersenyum datar. Lalu mas yang satunya lagi bertanya: “Memangnya Mbak mau kemana?” Jawab saya agak malas-malasan, “Ke Merak.” Lalu ia malahan memberi tahu saya untuk berhenti di depan pom bensin dan menunggu bus di sana. Ia juga menyetop angkot itu di tempat tersebut. Orang yang awalnya saya pikir menyebalkan ternyata malah menolong saya :’)

Menunggu bus Merak cukup lama juga. Ada Ibu-Ibu yang sedang menelepon di tepi jalan. Usai ia menelepon, saya chit-chat dengan beliau. Mengetahui tujuan saya adalah pelabuhan, Ibu itu menyetop bus Arimbi tujuan Merak. Yaampun, makasih Bu (:

Berangkat dari Tangerang sekitar pukul dua belas, saya sampai di terminal Merak sekitar pukul tiga. Saya pun menjamak salat di Musala yang (lagi-lagi) bersebelahan dengan WC umum. Tapi, tempat tersebut cukup bersih menurut saya. Saat menyerahkan selembar dua ribuan ke Bapak penjaga, saya sempat chit-chat lagi. Hehehe. Ternyata si Bapak berasal dari Tasik. Di saat inilah, saya merasa sedih karena nggak bisa bahasa Sunda. Hanya bisa mengaku-ngaku kalau si nenek juga asal Tasik.

Usai salat, saya berjalan menuju dermaga. Ketika membeli tiket, petugas menanyakan hal ini: nama, usia, alamat. Dan saya mendapat e-ticket. Serius nih, pakai tiket elektronik? Hmmm. Kemajuan. … Tapi ternyata si e-ticket hanya pemanis. Kita cukup menyerahkannya pada petugas –yang kemudian memegang e-ticket tsb.

Saya pergi ke dermaga IV yang jauh banget. Oh oke. Nah, kita juga masih harus menunggu kapal merapat. Saat itu, saya memperhatikan sekitar. Di bawah, ada bapak pedagang asongan yang tersenyum sumringah karena bertemu rekannya. Terpujilah orang-orang yang bahagia sebab hal-hal kecil.

Kapal yang saya naiki cukup bagus. Saya mengambil tempat di sofa. Di sana saya mendapat teman duduk sebuah keluarga yang baik. Turun dari kapal, langsung disambut oleh para penjaja jasa travel yang rada maksa. “Travel mbak?” “Kemana mbak?” Zzz

Saya menyambung bus AC Rosalia Indah yang bertarifnya 22ribu. Disana ketemu Adit. Oalah, ternyata dia juga pulang sendiri. AC di bus ini bocor. Jadi bingung mau duduk dimana. Saya pun memilih tempat di paling belakang. Sip, duduk sendiri. Tapi tak lama bus berjalan, ada tetes air yang membasahi jaket saya. Ternyata di sini juga AC-nya bocor. Saya pun pindah ke baris depan. Ada kakak-kakak yang duduk di sana. Saya mengambil tempat di sebelahnya. Dilihat dari mukanya, kakak ini mahasiswa juga.

Bus berjalan lambat sebab jalanan rusak ditambah licin sebab hujan. Terdengar bunyi berkeriut. Agak ngeri juga tapi bismillah aja deh.

Di perjalanan saya lebih banyak tidur. Di luar gelap. Ketika kira-kira sudah sampai daerah Panjang, saya mulai mengobrol dengan teman seperjalanan. Sementara si Adit yang tadinya duduk sendiri sekarang sudah ditemani bapak tentara yang antusias bertanya ini-itu tentang kampus kepadanya.

Nama teman seperjalanan itu Kak Obi. Ternyata Kak Obi udah S2 :O Beliau juga dosen di UBL. Mukanya awet banget T.T Banyak yang menjadi bahan obrolan. Beliau asik banget orangnya.

Sebelum sampai rumah, makan bubur ayam dulu :-9 Alhamdulillaaah. Perjalanan yang menyenangkan.

Iklan

2 thoughts on “Ngeteng

  1. Hanifah Muslimah,
    kamu pulang ke bandar lampung??
    Kalau iya, mari kita bertemu lagi,,,

    Sekilas cerita mu, mirip dengan cerita saya >,<

    "bedanya saya ganti tiket, dari ac bisnis, ke eksekutif"
    soalnya kebagian bus yang "maaf" jelek banget, alhamdulillahnya ada satu lagi tiket eksekutif yang belum laku, bangku no 6 lagi :)
    asli, gak berani ngeteng :)
    panik panik panik.. :)

    segera kabari ya saudari :)

  2. Elis Damayanti
    kemarin pulang lis, tapi ngerem aja di rumah hehe
    nanti kalau mau studi lapangan insyaAllah pulang lagi.

    Eh itu ada Negeri 5 Menara udah ada. nonton giiih :D

    oke saudariiii d(^^)b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s