yang Terdekat

Di mata kuliah KSPK kemarin belajar tentang “Konsep Diri” –bagaimana kita menilai diri sendiri. Sebenernya nggak asing lagi sih, karena di buku2 kepribadian sering dibahas. Namun, tetap saja saya masih meraba-raba konsep diri saya, serta berusaha menekan citra negatif yang saya bentuk sendiri.

Oke, pelajaran dimulai…
dan saya ditanya, “Hanifah” panggil dosen saya –Pak Saryono.
Saya yang lagi nggak fokus agak terkejut.
“Kamu memandang diri kamu seperti apa?” tanya beliau.

Saya mau jawab apa? Bingung. Tadinya mau jawab begini —> “Saya orangnya ceria, Pak!” (tapi rasanya enggak juga ._.)
Saya pun mencoba mengulur waktu,
Saya: “Emm dari sisi mana dulu nih Pak?”
Dosen: “Yaa, darimana saja. Physicly juga boleh..”
Saya: (Ebuset kalau saya bilang ‘hidung saya ga mancung, Pak’ ga guna juga kali. itu sih semua juga tahu.)
Mmmm. Aha. Diplomatis saya menjawab, “Saya merasa beruntung, Pak!”
Yes. Tugas selesai. Sekarang giliran orang lain.

…tapi ternyata si Bapak malah nanya lagi.
D: “Beruntung yang seperti apa?”
S: “Beruntung… Lahir di keluarga yang baik, bersekolah di sekolah yang baik, dan keberuntungan2 lainnya.”
trus saya melihat wajah teman-teman yang sedang memperhatikan.
YaTuhan, bagaimana bisa saya lupa menyebut mereka.
saya pun segera menambahkan…
“Dan teman-teman yang baik, Pak” :D
trus Pak Saryono bilang, “Ada yang kurang nih. Harusnya, “Diajar dosen yang baik. Hehe.”
Ah, maaf Pak bagian penting itu terlewat.

***

Pelajaran pun berlanjut, jadi intinya konsep diri itu bukan bawaan lahir tapi terbentuk oleh lingkungan, pengalaman, dll. Nah, siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidup kita?
1. Orangtua
2. Saudara Kandung
3. Rekan
4.
5.
6. dst. ga inget deh hehehe

Namun, sayangnya kita seringkali memperlakukan mereka dengan nggak pantas.
Pikirkan, kita sering marah ke siapa?
ke orangtua kan ya? orang yang harusnya paling kita hormati dibanding siapapun.
trus biasanya ngomel kemana lagi?
ke adik? iya nggak?
coba deh bandingkan dengan teman, nggak semudah itu kita bakalan marah dengannya.

Semalam saya ingat keluarga. Sepertinya, saya jarang memberi pujian dan ungkapan terimakasih, baik untuk Ummi, Abi, Aa, Kakak, Adik, Nenek, ataupun Kak Las.

–kali ini giliran membahas Aa dan kakak

Semisal, dengan kakak.
Ada orang yang bilang “Ih kakaknya Ipeh ganteng.” Saya: “Hallloooo?”
Dan di rumah pun begitu, kami berdua bercermin dan mulai saling mengejek.
“Ih mukanya penuh bintang, ya ampun. mana sepet banget gak pernah senyum.”
Dia pun membalas, “Kamu tuh ya nifah, muka rata, mukanya kaya ikan pari..”
dan segala macam ejekan lainnya.

Itu loh kakak yang mau jemput adiknya malam-malam, yang sering banget menolong –meski mukanya kadang males tapi tetap dilakukan, yang selalu merasa nggak enak untuk minta uang ke orangtua….

Atau dengan Aa.
yang dibilang Abinya Sarah, yang menunjuk Aa yang sedang melintas “Lihat itu Qudwah, jalan kepalanya duluan. Keberatan otak.”
tapi saya lebih sering mengkritik “Aa kamu sih begini…” atau “Aa kenapa kamu begitu?”
Padahal itu Aa — anak pertama yang jadi teladan. Yang menghabiskan satu juta uang pribadinya di Gramedia untuk beli buku-buku pesanan saya. Yang membelikan tiga jilid Campbell saat saya bilang ingin buku itu –walaupun akhirnya tidak dibaca, hehe.

Yah, dan kenangan pun membanjir.
Kenangan masa-masa di Kuningan dulu, ketika Aa-Kakak-dan saya sering bertemu sehabis Ashar di balik mading. Ketika dibelikan bubur ayam mang Kumis. Dijenguk di klinik putri saat sakit campak–sampai orang-orang merasa iri karena saya dijenguk dua orang ikhwan XP. Ketika mereka berdua juara umum (dan aku tidak) dan kami bertemu di dekat mading dengan hati gembira. Mengkopi rapor dan mengirimkannya pada ummi lewat pos –bukti hasil belajar kami.

Mungkin kelak, saya akan menyesali ini– bahwa saya jarang memuji, bahwa jarang berterimakasih, jarang mengungkapkan betapa bahagia dan betapa bangga menjadi adik kalian.

Kalian tahu?
Selama ini rasa sayang menelusup ke hati meski tidak terkatakan.

| Banjir kenangan, begitu pula air mata

Iklan

12 thoughts on “yang Terdekat

  1. Nifah kamu tau gak? Aku selama ini bertanya-tanya, kok kamu bisa sedeket itu sama ortu dan kakak2mu. Hahaha. Kebanyakan org si deket tp gak segitunya. Dididik gmana sama enyak babehmu mu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s