Perspektif

Saya menaiki subway pada suatu sore. Lalu di suatu stasiun, naiklah seorang laki-laki bersama tiga anaknya. Ketiga anak itu segera saja membuat keributan di dalam subway. Mereka berlari kesana-kemari, bersuara keras, memukul-mukul tiang …

terlihat jelas bahwa penumpang lain merasa terganggu — dan kesal.
Apakah si Ayah tidak bisa menyuruh anak-anaknya agar bersikap manis dan sopan?
Namun, si Ayah hanya diam.

Saya pun mendekati si Ayah, dengan hati-hati memulai percakapan, “Apakah Anda dapat membuat anak-anak Anda duduk manis?” tanya saya.
“Ah, maafkan saya,” katanya, “dua jam lalu saya baru saja kehilangan istri saya dan tidak tahu harus melakukan apa. Mungkin anak-anak saya merasa kekalutan yang sama.”

Saya — yang tadinya merasa kesal dan ingin menegur secara halus, segera berubah rasa menjadi empati, turut merasakan pedihnya ditinggal istri.

***

Sikap kita akan berubah arah sejalan dengan berubahnya perspektif.
Seringkali, peristiwa tak sesederhana kelihatannya.

* kisah di atas diceritakan ulang dari buku Tipping Point-nya Malcolm Gladwell. (maaf, yg benar dari 7habits-nya Stephen R. Covey )

** menulis ini setelah mendapat jarkom duka– adik dari seorang dosen meninggal hari ini. Innalillah.

Iklan

4 thoughts on “Perspektif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s