Si Iting Bersinar *uhuks*

Sore itu, aku bertemu Abang Iting di pertigaan fotokopian dekat gereja –fotokopian yang di spanduknya tercetak “Terima Soft Kaper, Hard Kaper”. Seperti selalu, dia terlihat nggak rapi, terutama karena rambutnya yang awut-awutan. Tapi hari itu lebih parah lagi. Sebab, mukanya juga nggak enak dilihat. Hahaha X)

Karena kami sudah lama nggak ngobrol ketimur kebarat, kami pun berbicara di pinggiran jalan –ganggu orang yang mau lewat aja. Seperti slogan sebuah merk, “Mari berdiri, mari bicara.”

Katanya, “Fah, aku nggak dapet sinyal positif. Sepertinya, aku siap mundur.” Ini adalah sebuah pernyataan, tapi bagiku ini seperti keluhan. Oya, Iting ngomong begitu tapi terasa banget kalau dia menyimpan harapan.

Aku nggak terlalu ingat detil percakapannya, tapi waktu itu aku menyarankan Iting untuk mundur saja. Karena, memang yang kulihat zahirnya, tak ada gelagat dari dia yang memberi lampu hijau buat temanku yang satu ini. (Ah, makhluk berjenis perempuan memang susah ditebak apa maunya -,- )

Aku juga bilang padanya, kalau kemungkinan baginya memang tipis sebab bla … bla ..bla

*hanifah memang nggak ngerti perasaan orang -_- Lagi down tapi malah semakin ditenggelamkan.

Lalu malamnya aku mengirimkan pesan singkat .. tentang ovum (yang kukutip dari Partikel-nya Dee) tentang burung manyar (*duh baca di blog siapa ya? Oh ini dia Lucky_Luqman?* –meski aku sendiri nggak tahu bentuk burung manyar itu yang seperti apa.

Tapi intinya adalah, aku ingin menyampaikan ke Iting kalau … “kamu harus maklum dengan keadaan ini. Kalau memang dia bukan buatmu, maka kamu harus cari kesempatan berikutnya.”

Tapi sms-ku yang banyak dan panjang-panjang itu malah dibalas begini, “Jadi aku ini manyar jantan yang nggak terpilih dan merusak sarangnya.

-percakapan selesai-

Tanpa kutahu bahwa Iting sibuk dengan praduganya.

***

Waktu berlalu, seminggu .. dua minggu .. tiga minggu

Sampai suatu waktu
(malam hari sehabis Magrib, @SF)

Aku –yang baru saja selesai salat—dipanggil keluar. “Ada Iting di depan, dia mau ngomong sama kamu.”

Masih mengenakan mukena, aku keluar. Temanku yang berkulit sawo matang itu (oh ini ameliorasi sekali :P ) duduk di atas sepeda fixie putih. Dia terlihat semakin tinggi saja dan aku merasa sangat pendek.

Namun, lihatlah wajahnya yang sumringah, kuralat, sangat sumringah. Sepertinya hari itu sudah dipasang absolut mood happy.

Kalimat pertama kali yang ia ucapkan adalah: “Fah, aku sebel sama kamu. Aku sempat suuzan, kamu tahu?”

….

Hahaha. “Kenapa?” tanyaku.

Ternyata pemisalan burung manyar yang dulu kubilang –entah karena angin apa—berpengaruh pada lting.

| Oya, tempat kami ngobrol ini adalah di depan kosan. 22 Juni 2012 pukul 7 pagi adalah tanggal yang bersejarah sebab Iting pernah masuk ke dalam got untuk mengambil hp samsung pink-nya yang bandel nyebur ke got. Niatnya mau meminjam tugas mankeu –kuliah mankeu pukul 8 hari itu—tapi kantong celananya sobek dan hp-nya meluncur ke dalam got. Manapula hp-nya jatuh di bagian got yang atasnya tertutup semen, jadi Iting harus masuk ke gorong-gorong yang gelap, sempit, dan bau itu. Hahaha. –dan waktu itu aku sama sekali tidak membantu, hanya tertawa sulit berhenti. |

.. kembali ke topik.

“Akhirnya aku dapat kejelasan. Setelah berminggu-minggu aku nggak bisa memprediksi feedbacknya ke aku, akhirnya sekarang semua terang. Alhamdulillah.”

Dia tersenyum lebar.

| “btw, aku brhenti merokok. Udah dua hari gak merokok :) dan aku udah gak pacaran lagi. Alhamdulillah.” sms bertanggal 12 Maret 2012 17:05:53 –yang masih kusimpan sebagai sumber dokumen bila ia melanggar. |

Terus katanya lagi “Tapi kami berkomitmen untuk nggak pacaran. Tunggu saatnya tiba. Maka sekarang, masing-masing dari kami menunggu.”

Sebeginikah orang yang sedang menyukai orang lain?

Sumringah? Tersenyum terus? Ingin ‘memantaskan diri’?

Waktu itu, bukan aku yang banyak bicara. Aku mengambil peran sebagai pendengar.

Iting melanjutkan, “Saat ini aku sedang memantaskan diri, fah. Mungkin salah satu motivasinya adalah dia. Tapi, apabila dia tidak memilihku, apakah aku akan berhenti berubah jadi lebih baik? Meski kuakui, dia itu, salah satu katalisator buatku untuk berubah.”

Ehm, karena aku tidak sempat membela diri di awal saat disemprot, aku merasa ini saat yang tepat untuk itu.

“Eh, justru itu, aku ini teman yang baik. Aku nggak mau kamu menggantungkan harapan kosong. Makanya aku memperingatkanmu sebelum kau lebih jauh melangkah.”
Haha. Pembelaan tak bertaji.

Lagi-lagi, aku mengempaskan harapannya.

“Bagaimana kalau akhirnya ia tidak memilihmu?”

Entahlah si Iting sedang kemasukan jin bijak atau gimana –atau mungkin karena dia intens bergaul dengan Fauzi. Reaksi yang ia tampakkan, bukanlah yang aku perkirakan.

Dia tersenyum. Katanya, “Kalau memang bukan aku, yasudah. Aku berterimakasih atas kehadirannya. Kita tidak mungkin memaksakan tulang rusuk orang lain untuk bisa pas di kita kan?’

Baiklah,

Mendengar jawaban itu, aku pun lega.


Wish the best for you two, curly bigbro :D

Iklan