Penaut Dua Rindu*

gambar diambil dari sini

Lelaki Arab itu bercerita tentang peristiwa yang sangat membekaskan rasa. Di masanya. Saat ia dan sahabatnya bertukar tanya, untuk satu hal: wudhu.

“Sahabatku bertanya kepadaku, ‘Bagaimana cara kamu berwudhu?’”

Aku jawab dengan tenang, “Seperti umumnya orang-orang berwudhu.”

Jawabanku membuatnya melihatku sambil tersenyum. Dia bertanya lagi, “Seperti apa orang-orang berwudhu?”

Akupun membalas senyum, lantas menjawab, “Seperti kamu berwudhu.” Aku jawab seperti itu, karena aku pikir dia mengira cara wudhuku berbeda dengan kebanyakan orang. Tapi kemudian aku kaget karena dia berkata, “Kalau begitu shalatmu batal, wahai sahabatku.”

Dia berucap sembari tersenyum. Tapi kali ini senyumnya tak aku jawab. Saat dia melihatku terdiam, ia berkata, “Kelihatannya, kamu berpikir terlalu jauh. Sangat jauh. Yang aku maksud, terkadang orang berwudhu tapi jiwanya hampa. Tolong terangkan kepadaku, agar aku bisa menemukan kenikmatan dalam wudhuku, dan dari kenikmatan itu aku menemukan kelezatan, lalu keindahan, dan dari keindahan itu aku dapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi, serta makna-makna yang banyak, yang tak terkira.”

Kata-katanya seakan membuat banyak tanda tanya di wajahku. Namun belum sempat aku menjawab, dia menyambung kembali ucapannya. “Aku kutipkan untukmu sebuah hadits dari Nabi saw. coba renungkan kalimat-kalimatnya dalam-dalam. ‘Beliau bersabda, jika seorang muslim berwudhu dan membasuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya segala kesalahan yang didatangkan oleh kedua matanya, hingga tetesan air yang terakhir. Jika ia membasuh kedua tangannya, keluarlah dari dua tangannya segala kesalahan yang didatangkan oleh kedua tangannya. Jika ia membasuh kedua kakinya, keluarlah segala kesalahan yang disebabkan kedua kakinya kepadanya, sampai ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa.’”

Temanku mengutip hadits yang lain, “Jika ia berdiri lalu shalat, memuji Allah dan memuja-Nya, dia mengosongkan hatinya hanya untuk mengingat Allah, dia akan lepas dari segala kesalahannya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya.”

Sejenak ia terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam seakan meresapi kalimat-kalimat Nabi yang diucapkannya. Dia lalu menoleh ke arahku dan berkata, “Kalau kamu perhatikan hadits ini baik-baik, sungguh kamu akan merasakan kelezatan dan kenikmatan dalam wudhu, dan kamu akan merasakan bahwa air yang kamu gunakan untuk membersihkan anggota badanmu tidak lain adalah cahaya yang kamu pakai untuk membersihkan hatimu.”

“Ya, tapi bagaimana caranya? Bantu aku menemukan makna-makna itu!” ucapku meminta saran.

“Demi Allah, bertahun-tahun aku berwudhu tapi aku tidak merasakan makna itu. Aku hanya membasuh anggota badanku lalu pergi. Aku tidak menemukan makna dalam wudhuku,” katanya.

“Karena itu, hadirkan hatimu saat kamu berwudhu dan kamu akan merasakan bahwa hati ini akan terasa lembut. Ada banyak makna-makna yang kau dapatkan dan hati itu terasa tunduk. Dan itu adalah pertanda bahwa hati itu siap untuk dibawa melakukan shalat. Yang penting, kamu hadirkan hatimu saat berwudhu dan saat kamu membasuh tiap anggota badanmu,” lanjutnya.

Aku berkata, “Jika demikian, mungkin ini yang mendorong kita berwudhu di setiap akan salat, memperbarui wudhu meskipun wudhu masih ada. Benar-benar cahaya di atas cahaya. Dan makna yang lahir dari makna.”

Sejak percakapan itu, setiap kali ingin berwudhu, lelaki itu selalu mengingat kembali nasihat sahabatnya, hingga ia merasa seperti membersihkan diri dengan cahaya, bukan dengan air.

**

Suatu hari Rasulullah bersabda, seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Aku sangat ingin sekiranya aku bisa melihat saudara-saudaraku.” Para sahabat berkata, “Bukankah kami ini saudara-saudara engkau wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Kalian adaah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku, mereka belum ada. (Dalam riwayat lain, saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku tetapi belum pernah melihatku.)” Para sahabat bertanya lagi, “Bagaimana engkau bisa mengenali bahwa mereka yang akan datang belakangan itu adalah umat engkau?” Rasulullah menjawab, “Bagaimana menurutmu jika seseorang memiliki kuda yang dahinya putih bercahaya dan berada di tengah-tengah kuda-kuda lain yang semuanya hitam kelam pekat, tidakkah ia tahu yang mana kudanya? Para sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah melanjutkan, “Begitulah mereka saudaraku itu, kelak mereka datang dalam keadaan bercahaya wajahnya dan putih pada daerah-daerah bekas wudhunya.”

Hadits di atas menumpahkan rasa rindu. Dari Rasul yang mencintai orang-orang beriman yang belum pernah ia lihat dan mereka pun belum melihat wajah beliau yang mulia. Orang-orang itu pun rindu melihat Rasulullah, rindu untuk berjumpa dengannya. Rindu untuk berbaris kelak di barisan umatnya yang berbaris-baris. Tapi hadits di atas juga menjelaskan soal lain, bahwa kerinduan-kerinduan itu kelak dipertemukan melalui wudhu. Wudhu, adalah identitas yang menautkan dua rindu.

*sebagian artikel rubrik Dirosat majalah Tarbawi Edisi 267 Th. 13, oleh Ahmad Zairofi AM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s