Perihal Berkawan

*dari Tarbawi Edisi 280 Th 14

“Siapa yang meremehkan pertemanan akan hilang kehormatannya. Di antara adab berkawan, jangan engkau putuskan seorang kawan setelah engkau berteman dengannya, dan jangan engkau menolaknya setelah engkau menerimanya.” (Abdullah Ibnu Mubarak)

Diantara rahasia penciptaan manusia, adalah ‘misi perkawanan’. Pada mulanya adalah kita yang beragam, kita yang berbeda, kita yang bermacam rupa. Latar perbedaan itu, memiliki maksud sosiologis: supaya saling mengenal (Q.S. Al-Hujurat: 13)

Kini lewat jaringan internet, berkawan tidak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun pertemanan dapat dijalin. Kita coba mengenali peta kita dalam kemudahan interaksi yang semakin mudah dan semakin kuat kita rasakan itu:
Nyata, bila kita saling berbagi informasi dan ilmu pengetahuan
Nyata, bila kita saling mengingatkan dan menguatkan
Semu, bila kita terjebak dalam paham yang keliru
Semu, bila ia menjadi pelarian yang tidak pada tempatnya
Misal: melarikan persoalan dengan keluarganya di jejaring sosial

***

Bicara tentang hikayat perkawanan, bahkan dulu Rasulullah digoda dengan jebakan pertemanan. Oleh orang-orang musyrik yang menolak ajakan risalahnya, Rasul dirayu untuk dijadikan teman istimewa, ditaati, asal Rasulullah juga mau mengikuti kehendak mereka dalam kemusyrikan. Besarnya godaan pertemanan dan iming-iming persahabatan itu, sampai-sampai oleh Allah disebut dengan istilah hampir-hampir. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami, dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.” (Q.S. Al Isra : 73)

Persahabatan setia – penawaran yang sangat menggoda itu, harus dibayar mahal dengan membuat dusta dan kebohongan terhadap wahyu Allah. Tetapi Rasulullah diteguhkan oleh Allah untuk menolak jebakan persahabatan itu.

Kisah ini menegaskan bahwa godaan pertemanan bagi seorang muslim, adalah pada apa sesungguhnya nilai-nilai yang diagungkan dari persahabatan itu sendiri. Maka, ini bukan soal mudah atau sulit mendapat kawan. Ini tentang apa yang kita bangun dari perkawanan. Tidak mengherankan bila Allah juga mengingatkan, bahwa perjalanan perkawanan itu akan bersambung hingga akhirat kelak.

Itu dibuktikan dengan adanya penyesalan bagi mereka yang dulu salah berkawan selama di dunia. Yaitu perkawanan yang semu, yang melenakan tanpa makna yang bernilai, menyimpangkan dan bukan mengantarkan ke jalan petunjuk. Di hari penyesalan itu, orang-orang yang keliru secara fatal dalam mengambil kawan akan berkata, seperti perkataan yang diabadikan dalam Al-Qur’an, “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya (dulu) aku tidak mengambil si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang padaku.’ Dan syaitan itu tidak mau menolong manusia.”

Pertemanan tidak semata soal emosi dan perasaan. Tidak pula sekadar pendekatan psikologis. Tetapi bahwa perkawanan adalah soal interaksi untuk saling memengaruhi, saling memberi sikap, saling mematulkan efek dari perilaku masing-masing.

Maka tak heran bila Luqman Al-Hakim menaasihati anaknya, “Wahai anakku, berkawanlah dengan orang-orang yang berilmu. Mendekatlah sesering mungkin dengan mereka. Karena sesungguhnya hati itu hidup dengan hikmah, sebagaimana tanah yang mati akan hidup oleh siraman air.”

Karena itu, Islam kemudian meciptakan sebuah model pertemanan yang dibangun atas dasar iman. Itu yang kemudian kita sebut ukhuwah (Islamiyyah). Ukhuwah seniri mendapat pembobotan yang luar biasa, juga kesudahan yang luar biasa. Bahkan, orang-orang yang saling mencintai karena Allah ketika mereka di dunia, kelak di akhirat akan mendapatkan panggilan khusus dari Allah. “Dimanakah mereka yang dulu saling mencintai karena Aku?”

Kini sejarah perkawanan terus berkembang, tetapi bukan berarti sepi dari godaan. Jebakan persahabatan di era baru ini justru semakin banyak. Dahulu kita tidak mengenal kawan yang semu. Semua nyata. Kini kita bisa punya kawan yang tidak nyata tapi secara emosi menguras pikiran dan perasaan. Pemaknaan atas sebuah perkawanan itulah, yang harus terus kita pelajari, kita benahi.

Dahulu Rasulullah mengajarkan, agar dalam bersaudara dan berteman, kita menghindari sikap memata-matai (tajassus), terlalu ingin tahu. Sementara saat ini budayanya justru terbalik. Setiap orang yang merasa terhubung dengan berbagai macam kawan, merasa harus memberi tahu semua hal tentang dirinya. Mungkin termasuk aib-aibnya. Ini yang kita maksud dalam perbedaan pemaknaan. Sementara seorang ulama dulu berkata: “Janganlah engkau ambil teman, mereka yang tidak bisa menjaga rahasiamu, dan tidak menutupi aibmu.” Sedangkan perkawanan masa kini tak jarang adalah tentang berbagi rahasia sebanyak-banyak, bahkan yang tidak perlu dibagi sekalipun, dengan dukungan teknologi. Perkawanan, kini kadang juga tentang aib diri yang dibagi tanpa rasa risih.

Maka, seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Pilihlah kawanmu yang bisa engkau banggakan, sesungguhnya seseorang itu juga dinisbahkan kepada siapa sesungguhnya kawannya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s