Playing God, Sebuah Rekomendasi

Jempol mengarah ke bawah. Artinya: MATI! Jempol mengarah ke atas. Artinya: HIDUP!

Peristiwa ini terjadi di Colesseum Roma pada zaman kaisar Commodus (Tahun 180-192 M). Pada zaman itu, para gladiator yang akan bertarung sampai mati, dipaksa memberi hormat kepada sang kaisar, yang agak gila dan haus darah, dengan ucapan “Ave imperator, morituri te salutant!” Artinya, kira-kira “kami yang akan mati memberi hormat untuk sang kaisar!” Kemudian, mereka bertarung. Jika salah satu terluka, kaisar akan menentukan nasibnya. Jika jempol kaisar mengarah ke bawah, gladiator yang kalah dan terluka harus dibunuh. Jika jempol kaisar mengarah ke atas, orang itu bisa terus hidup.

***

gambar diambil dari sini

Playing “God” adalah hasil karya seorang dokter ahli ginjal, Rully Roesli. (Ya, beliau adalah cucu dari Marah Roesli sang pengarang Sitti Nurbaya dan kakak dari Harry Roesli sang seniman.)

“Bila hari Jumat tiba” , adalah salah satu bagian dari buku ini. Alkisah, setiap hari Jumat, Rully yang bekerja di Rumah Sakit Khusus Ginjal (RSKG) mengumpulkan stafnya untuk rapat. Dalam rapat itu, ditentukan pasien cuci darah mana yang akan mendapatkan bantuan, dibebaskan dari biaya. Jika lebih banyak yang tidak setuju, bantuan akan diberikan pada pasien lain. Jika pasien dibebaskan dari biaya cuci darah, artinya dia bisa bertahan hidup lebih lama. Jika tidak? Mungkin ia bisa meninggal karena kehabisan biaya pengobatan.

Pada 1998, belum ada program Jamkesmas. Saat itu adalah satu tahun setelah terjadinya krisis moneter. Biaya cuci darah yang tadinya 125ribu tiap cuci darah melonjak jadi 1,5 juta. Akibatnya, banyak pasien tidak mampu membayar, lalu menghentikan pengobatan dan meninggal. Terutama pasien golongan ekonomi rendah.

Atas prakarsa pemilik RSKG, biaya cuci darah beberapa pasien dapat dibebaskan dengan cara subsidi silang. Tapi jumlah bantuannya terbatas. Jika salah seorang pasien penerima bantuan berhenti cuci darah, karena meninggal atau sebab lain, tempatnya dapat diisi oleh orang lain. Masalahnya, daftar tunggu sangat panjang sehingga Rully dan staf harus memilih, siapa saja yang berhak mendapat bantuan. Dengan demikian, “rapat hari Jumat” menjadi peristiwa yang sangat menentukan nasib bagi pasien.

***

Buku ini mengisahkan tentang seorang dokter yang seringkali harus berperilaku ‘seolah Tuhan’. (Bukan cuma dokter, hampir setiap kita sering berperilaku ‘seolah Tuhan’.)

Penulisnya seorang dokter, tapi istilah-istilah kedokteran yang digunakan cukup sederhana sehingga mudah dimengerti orang awam. Rangkaian kalimat demi kalimat pun begitu mengasyikkan: padat bermakna. Hal ini menjadikan buku ini enak dibaca. Saya tidak tahu, mengklasifikasi buku ini dalam sebagai buku jenis pengalaman atau buku religius, sebab Playing “God” sarat akan hikmah. Membaca buku ini dengan alur yang teratur, pada akhirnya membawa saya pada ending yang apik. Ending yang membuat tertegun, yang membuat saya kembali memikirkan hal yang paling penting dalam kehidupan.

Selamat membaca!

Judul: Playing “God”
Penulis: Rully Roesli
Penerbit: Qanita, cetakan I, Januari 2012
Jumlah halaman: 198

P.S. Terimakasih buat kakak yang sudah menyuruh saya membaca buku ini.

Iklan

2 thoughts on “Playing God, Sebuah Rekomendasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s