Basa-basi (Tak Selalu) Busuk

“Apa kabaar? Kangeen!” atau “Kamu kemana saja sih? Aku kepingin banget ketemu,” adalah kata-kata yang didasari oleh dua keadaan: realita atau pemanis bibir saja. Tentu tak sulit untuk membedakan kalimat ini termasuk pada klasifikasi yang mana. Kecuali kita membacanya dalam bahasa tulisan atau yang mengatakan adalah pembohong ulung.

Saya pernah berpikir, berbicara atau bertegur sapa dengan saudara jauh, tetangga, teman (arisan, pengajian, sekolah), yang (mungkin) sekadar menanyakan kabar, hanyalah sebuah formalitas pemanis bibir. Namun, rasanya saya salah.

Adanya basa-basi dapat meluruhkan prasangka; “mengapa dia diam saja? Apa dia marah padaku?” Dapat pula mencairkan beku suasana. Mampu menghadirkan empati atau minimal simpati. Juga mungkin bisa jadi titik awal yang membawa perbincangan berlanjut lebih jauh hingga mengakrabkan dua (atau lebih) hati manusia.

Bukan sekadar kultur, kita memang perlu basa-basi (kata yang akan saya ganti di kamus pribadi dengan “ramah tamah”).

P.S. Akan lebih baik bila sebelum beramah-tamah kita mengucapkan salam kesejahteraan dan senyum terkembang. Seperti yang Rasul ajarkan sebagai kewajiban terhadap sesama muslim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s