Reviu Suka-Suka (1)

Sebelum memulai tulisan ini, saya menyampaikan terimakasih banyaaaak kepada sponsor, kak Ismulianita Djalinas, yang begitu baik memperkenankan saya meminjam buku-bukunya yang super keren itu *_*

Izinkan saya mereviu dengan reviu awam dan asal –sebab “memposting reviu buku di blog” ada di life plan sebagai what to do tahun 2012 T____T Jadi posting ini dengan tujuan menunaikan life plan :s

pls stop

gambar dari sini

Please, Stop Laughing at Me – Jodee Blanco


“The bullies never remember, but the outcast never forget.”

“Tiny, jagged hunks of mortar were being hurled at me from all sides. My hands over my face, I tried to run home, but the assault was too relentless. “Please stop,” I pleaded. My knuckles and wrists were swollen and bloody. Red welts covered my skin. I didn’t know what was worse, the physical or emotional agony.”

“When you’re a victim of any kind of abuse, you can do one of two things. You can learn how to turn pain into purpose and make a difference in the world, or you can allow it to extinguish the light inside you. If you permit the latter, you are sacrificing far more than your childhood to the Gods of popularity.”

Dikisahkan dari pengalaman penulis –Jodee Blanco, yang mengalami bullying tak berkesudahan sejak SD hingga SMA. –Sebenarnya membaca buku ini membuat saya menyimpulkan: pergaulan di Amerika begitu keras. Kayak sinetron aja, penderitaannya hampir-hampir tiada ujung—

Awalnya saat SD, Jodee adalah murid yang disenangi kawan dan cukup populer. SD-nya, yang merupakan sekolah milik gereja & diasuh oleh para suster, juga menerima siswa berkebutuhan khusus. Jodee menawarkan untuk menjadi relawan di “kelas khusus” tersebut pada jam makan siang. Tapi, oleh teman-teman sebayanya, anak-anak khusus ini seringkali diejek dan direndahkan. Jodee diperingatkan untuk tidak dekat-dekat dengan anak-anak tersebut atau mereka tidakmau lagi berteman dengannya. *ancaman seperti ini sering dipergunakan anak kecil, see? “Nggak usah temenin dia lagi yuk!” and it works.

Awalnya, Jodee termakan ancaman itu. Dia tidak lagi datang dan melakukan tugasnya sebagai relawan. Ia juga mulai menjauhi anak-anak khusus itu. Tapi kemudian, hatinya tergerak. Ia merasa hal itu salah & “pasang badan” melindungi anak-anak itu. Hasilnya? Dimusuhi teman-teman.

Itu peristiwa pertama, dan hal yang sama selalu berulang. Ia sampai disebut “a misfit” dan “social failure”. Daya tarik buku ini terletak pada kisah bullying yang diceritakan langsung oleh si korban. Agak merinding disko bacanya. Segitunya kah? Misalnya, di bus sekolah nggak diterima duduk dimana-mana (*di bus* Jodee: “hey. Boleh duduk disini? X: “Nggak lihat di atas kursi ada jaketku? Mending juga jaket yang duduk disitu daripada kamu …” *melengos) belum cukup menyedihkan, Jodee juga dilempari kunyahan permen karet T,T

***

Nggak rugilah baca buku ini. Selamat tercerahkan 

PS. Tapi membawa ingatan ke masa sekolah dulu; sering terjadi peristiwa labrak-melabrak. Meski nggak “segila” yang diceritakan Jodee. Apa perasaan orang-orang –biasanya adik kelas– yang dilabrak itu ya? Terintimidasikah? T.T *inget DiJe*“the bullies never remember” jadi yang nggak inget apa-apa dari masa kelam sekolah ada kemungkinan si pem-bully ya? #jumpalitan

snow flower
gambar dari sini


Snow Flower & Secret Fan – Lisa See

Buku fiksi ini mengisahkan tentang persaudaraan dua orang wanita yang disebut lao tong. Settingnya di masa *duh dinasti apa sih ya namanya* dimana para wanita harus melakukan “foot binding” untuk mendapatkan “lily foot”. Jadi pada masa itu, ukuran kecantikan seorang wanita dilihat dari kakinya. Kalau kakinya kecil dan berbentuk seperti bunga lili, maka dia cantik. Kalau dia cantik, diperistri bangsawan. Maharnya besar. Mengangkat derajat keluarga. *kalau yg ukuran kakinya besar –nggak di-foot binding, nggak ada yang mau memperistri. Biasanya jadi pelayan*

Oleh sebab itu, kira-kira seorang anak berusia 6-7 tahun (saat bentuk kaki mereka masih kecil), mereka melakukan tradisi ini. Kakinya dibebat kuat-kuat dengan bentuk tertentu sehingga menyerupai sepatu –mereka disuruh berjalan sampai terdengar bunyi ‘krek’ tulang patah. Bentuk kakinya ada hak-nya >.< *cari di wikipedia ya, apa itu foot binding. Sereeem.* Banyak juga yang meninggal karena melakukan tradisi ini.

Kenapa kaki kecil melambangkan kecantikan? Karena lily foot artinya, si gadis patuh kepada orangtuanya, bisa diajak hidup susah, dan juga lambang kecantikan yang nggak akan pernah pudar. Wajah bisa keriput tapi bentuk kaki segitu-gitu aja. *kalo nggak salah ngartiin pas baca ya #plak*

Oh oke sudah lospokus. Balik lagi. Ini cerita kekuataan persaudaraan lao tong. Saat itu para wanita yang berada dalam satu rumah mempunyai satu ruangan tersendiri. *khusus wanita, pria nggak boleh masuk.* nah mereka mengembangkan sistem persaudaraan antarwanita antardesa *sebutannya lupa. deuh*. Biasanya ada matchmaker-nya yang jodohin gadis A dari desa A, gadis B dari desa B dst sampai terbentuk satu kelompok sebanyak 5-6 gadis. Gunanya apa? Untuk membantu –memeriahkan, menyanyi dst — saat pernikahan. Nah, persaudaraan ini bubar saat gadis terakhir dari “geng” mereka menikah. Nah kemudian baru saat para wanita telah menjadi janda, mereka akan membentuk kembali kelompok semacam ini –dengan anggota yang berbeda. Tugasnya? Meratap apabila salah satu saudari mereka meninggal.

Ada persaudaraan yang derajatnya jauh lebih tinggi. Lao tong. Hanya terdiri dari dua orang. Tidak terpisahkan seumur hidup. Nggak semua orang berkesempatan menjalani persaudaraan lao tong. Nah inilah cerita persaudaraan(?)persahabatan(?)-sampai-mati itu dengan segala intriknya. Walaupun sebenarnya –bagi saya– yang sangat melekat adalah tradisi ikat kaki itu T,T kasihan sekali wanita jaman dulu ya. *sambil lihat kaki sendiri **lospokusterus

Bukunya menarik karena faktor historisnya, imho 

life of pi

gambar dari sini

Life of Pi –Yan Martell

Buku petualangan yang keren. Pas baca seringkali bergidik membayangkan.

Bercerita tentang Piscine Molitor Patel yang tinggal di India bersama kedua orangtuanya dan saudaranya, Ravi. Piscine tinggal di kebun binatang Pondicherry. Ayahnya mendirikan kebun binatang dan sekaligus jadi direkturnya. Nama Piscine sendiri diambil ayahnya dari nama kolam renang di Perancis. Ayahnya seorang atheis, tapi Piscine menemukan “tiga jalan”-nya sendiri. Kemudian, situasi politik dan pertimbangan lainnya menyebabkan keluarga tersebut memutuskan pindah ke Kanada. Menumpang kapal Jepang Timtsum.

“Keluarga” disini bukan hanya mereka berempat. Tapi juga termasuk binatang-binatang yang akan “pindah rumah” ke kebun binatang lainnya di Kanada(?) Amerika(?) Loh, terus mana petualangannya? Ini cerita Piscine bersama Richard Parker. Siapa lagi itu Richard Parker? Silakan baca bukunya :) Ah, namanya juga reviu suka-suka ya kan? XP

–nggak mau spoiler lagi kaya dulu pas ngetweet tentang Narnia—

Oh ya, hal yang paling saya suka dari buku ini ketika Piscine –yang susah diucapkan—seringkali terpeleset jadi ‘Pissing’. Yang akhirnya jadi bahan olokan. Bayangin aja kemana-mana dipanggil “hey Pissing!” Tapi kemudian di kelas barunya saat SMP, si Piscine melakukan hal cerdik. Teman-teman sekelasnya kebanyakan adalah teman SD-nya yang tahu “gelar”nya. Sangat mungkin ia kembali dipanggil Pissing. Piscine tidak menyebutkan nama seperti siswa lain pada umumnya. Tapi ia langsung maju ke depan kelas. Menulis dengan kapur: Piscine. Kemudian menggarisbawahi dua huruf pertama: “Pi”. “Nama saya Piscine, bisa dipanggil Pi.” Pi= π 3,14. Begitulah, panggilan “Pissing” berubah menjadi “Pi”.

Keren sekali cara Pi mengubah ejekan itu >.< Elegan.

“And so, in that Greek letter that looks like a shack with a corrugated tin roof in that elusive irrasional number which scientist try to understand the universe, I found refuge.” –p.30

Dibilangnya sih, dengan baca buku kita akan kembali percaya Tuhan. Di bagian dialog antaragama saya tertawa –habisnya lucu—sekaligus tertegun. Tapi sampai sekarang belum ngerti sih, itu nemu “kembali percaya pada Tuhan” di bagian mananya ya :/ *bukan pembaca yang baik kah(?)*

Anyway, Life of Pi bagus sekali. Yaiyalah menang Booker Prize -.-
Sudah di-film-kan juga, dan yang 3D wajib ditonton! (kata teman)

*kemudian meratapi nasib kenapa film ini nggak tayang disini*

***

Okeh. Sekian reviu suka-suka kali ini :D :D *kaya ada yang baca aja hahahaahaaa*
Habis ini, bisa coret program ini di life plan dan menandainya dengan tanda centang. Akhirnyaaa :”)

Semoga ada reviu suka-suka selanjutnya :)

Iklan

6 thoughts on “Reviu Suka-Suka (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s