Wisuda: Alhamdulillah. Jazakumullah Khairal Jazaaa’

Wisuda itu, sudah repot mahal pula. Karena itulah yang ada di benak, maka saat dibuka pendaftaran wisuda saya sempat bimbang: “Ikut nggak ya?” Namun, setelah konsultasi dengan Ummi, diputuskan untuk mendaftar terlebih dahulu –masalah hadir atau tidak urusan belakangan.

Tanggal wisuda mundur hampir satu bulan dari tanggal yang direncanakan karena menyesuaikan dengan kalender akademik kampus. Adanya Capacity Building menggeser tanggal yudisium –yang otomatis menggeser tanggal wisuda dan mengakibatkan abi tidak bisa hadir saat saya wisuda :” Abi tidak dapat hadir karena tanggal wisuda terlalu berdekatan dengan hari keberangkatan beliau berhaji. Tahu kabar ini, keinginan saya wisuda terjun bebas hingga batas tidak peduli.

Misalnya, soal kebaya. Ummi sudah mengingatkan sejak saya masih PKL di BPK untuk segera menjahit kebaya, tapi saya terus menunda. Sampai sepuluh hari menjelang wisuda –yang juga sehari sebelum saya berangkat lagi ke Bintaro, barulah saya mencari kebaya. Sebenarnya sudah deal dengan ummi, bahwa saya akan membeli kebaya siap pakai alih-alih beli bahan. Sebab kalau beli bahan harus dijahit terlebih dahulu sementara hari wisuda sudah dapat dihitung jari. Tapi, yah saya memilih bahan kebaya ungu –saya melanggar perjanjian ._.

Nah, bukan hanya kebaya kan yang perlu disiapkan? Tapi juga barang-barang lain yang dibutuhkan: selop, kerudung, hiasan kerudung. Zzz. Why so ribet?

Nah, lagi-lagi Hanifah nyusahin Ummi. Saya sudah ‘kabur’ ke Bintaro padahal bahkan urusan kebaya belum selesai. Alhasil, Ummi telfon: “Teh, kerudungnya mau warna apa? Katanya kalau ungu muda nanti jadi mati, lebih baik warna kuning emas. Gimana?” | Telfon lagi: “Teh, kamu mau kerudung paris yang ada payet di pinggirannya atau hiasan bunga-bunga?” |(Lagi-lagi) telfon: “Teh, kalau selopnya ada pita-pita gitu, kamu suka nggak? Nanti malah nggak dipakai.”

I felt sorry for her, or maybe I felt bad for myself. Sebab teringat tweet teman saya @dwinar: “Buka fb. Ada temen yg ngurusin orangtuanya banget, mulai dari akomodasi sampai rencana jalan-jalan di ibukota. Wina gimana win? *showeran*”

Langsung jleb. Selama ini si hanifah nggak ngurusin apapun. Semuanya diurus sama ummi, mula dari pakai baju apa, nginep dimana sampa gimana cara mencapai Sentul International Convention Center (SICC). *silet mana silet?*

Nah, pas Ummi telfon lagi aku pun minta maaf: “Mi, maaf ya nggak kaya orang-orang yang pada ngurusin orangtuanya. Ada temen yang ngejemput ortunya di bandara, segala macem. Lah Teteh?” Lalu kata Ummi: “Yailah Teh, Ummi sih nggak perlu acara dijemput-jemput segala. Bisa sendiri lageee.” :’) :”) :’”) #HUG

Wisuda = officially terusir dari kosan. Anda datang bersih, maka begitu pula saat Anda tinggalkan. Jangan sesaki kosan dengan barang-barang Anda. Maka saya mengulang packing, dan terkumpullah 5 kardus, 1 set laci-lacian, 1 meja belajar resin kecil, 1 kipas angin, dan 1 sepeda. *alamaak banyaknya.

Dua pendamping, yakni Ummi dan Aa, berangkat dari rumah naik kendaraan umum pada hari Selasa (H-1). Rencananya, mau sewa mobil di hari wisuda. Sementara untuk menginap ada beberapa opsi: Ciputat, Ampera, Depok, atau Bekasi –yang akhirnya kebagian direpotkan adalah keluarga Ammi Ahyudin dan Amah Kun di Ciputat. Nah, masalahnya: kalau nggak bawa mobil pribadi, ini barang-barang gimana ngangkutnyaa?

Agak sangsi kalau ada taksi yang mau mengangkut barang segabruk, ditambah lagi ada sepeda ;| opsi lainnya: nyarter angkot.

Singkat cerita, sudah sepakat soal harga dengan supir angkot bernama Pak Tikno yang nomor hpnya 0813xxxx (nomor disamarkan demi kebaikan semua pihak), tapi dia nggak punya nomor saya  Saya cuma bilang kalau saya tinggal di Komplek X Jalan Y dan saya akan menghubungi beliau sekitar pukul dua. Saat itu cuaca sangat panas dan saya baru tiba di indekos sekita pukul setengah satu. Meleset satu jam dari perkiraan awal. Capek sekali.

Juga baru panik, besok rias nggak? Mau pakai kerudung model apa? –telat banget si Hanifah paniknya. Padahal dulu tiap ditanya milki selalu jawab: “nggak tau nih, mil belum kepikiran.” Dan sekarang di H-1, baru kepikiran? zzxbvfsyz. –

Janjian sama Isna, untuk tutorial kerudung dulu sebelum berangkat ke Ciputat. Hasilnya? Failed. Malah menertawai diri sendiri: “Kok kalau pakai kerudung yang dobel-dobel gitu jadi mirip bajak laut sih?” Isna bilang: “Ipeh nggak cocok pakai kerudung yang modelnya macem-macem, soalnya Ipeh orangnya lugu.” -______-

Tapi kemudian terselamatkan oleh pesan singkat dari ummi: “Teh, keponakannya Ammah Kun ada yang bisa rias dan modelin kerudung.” Yeeey! :D

Jam menunjukkan pukul setengah tiga. Eh, apakabar Pak Tikno? Tadi bukannya janjian pukul dua? Saya telfon si bapak belasan kali. Tidak diangkat. Juga saya sms: nggak ada respon. Masa saya harus ke jalan depan komplek lagi buat cari carteran angkot? -,- Di saat-saat desperado itulah , *tring* masuk pesan singkat dari Pak Tikno: “Ini nomor siapa ya?” Alhamdulillaaaaaaah :’
Kata Pak Tikno: “Tadi pukul dua saya sudah keliling komplek ini, Neng. Saya bolak-balik di jalan Y, tapi ternyata nggak ada yang nungguin.” T____T Ampuni hanifah ya Allah.

Sesampainya di Ciputat, sudah ada Ummi dan Aa. Meluruskan kaki, ngobrol ditemani cemilan. Sorenya, keponakan Ammah Kun yang bisa merias itu datang bersama beberapa teman kuliahnya. Ada tugas dadakan yang mengharuskannya menginap di rumah teman. Teruuuus, nasib gueh besok gimana? T________________T Siapa yang mau ngurusin soal rias? MAKE UP SURELY IS A BIGDEAL! Bayangkanlah, para wisudawati yang sudah daftar untuk fasilitas tambahan rias sejak lama. Dengar-dengar mereka harus siap dirias sejak pukul dua pagi, padahal acara dimulai pukul delapan.

Oya, saya belum lihat kebaya saya. Mengingat kebaya dibikin ngebut dua minggu sebelum hari H sehingga saya nggak sempat melihat wujud kebaya itu, maka pertanyaan pertama saya adalah: “muat nggak nih?”

Kata ummi: “Tenang aja teh, ummi udah bawa make-up kit lengkap kok, teh. Tenang aja, nanti ummi yang rias.” Hehe agak gimanaa gitu mempercayakan rias kepada orang yang ketika nikah aja nggak pakai make-up :”

*sebenarnya bimbang: mau pakai make-up atau enggak? Kebanyakan teman saya memilih tidak. Rempong amat ya masalah make up? hehe :” karena setelah saya dan milki mengobservasi foto-foto wisuda kakak kelas, kami menyimpulkan: yang nggak rias itu kebanting pas foto 
Tapi juga di satu sisi takut bakalan aneh kalau ber-make up. #apadeh*

Habis Magrib, coba kebaya dan coba-coba dirias sama ummi. Kebaya? Alhamdulillah, masih muat. Fiuh. Rias? Gagal. Hahaha. Dan ternyata dirias itu risih juga 

Ummi dan saya melakukan percobaan make-up trial and error. Saat itu, Mbak Evi mengetuk pintu kamar, melihat kondisi saya yang menyedihkan, dengan maskara meleber dan nggak rata –saya nggak bisa diam sebab tidak terbiasa dengan make-up. “Duh, teteh, ini waterproof lagi.” “Eh, tapi coba dulu deh (maskara yang luntur itu) dicuci pakai air.” Untungnya, Mbak Evi segera mencegah: “Nggak bisa, Bu. Kalau dicuci pakai air nanti malahan di bawah lingkaran mata ada bekas hitam seperti sembab.” Lah, katanya ummi bawa make-up kit lengkap? Yes, tapi minus remover -____-

Diputuskan: baiklah, besok saya akan pergi wisuda dengan dandanan ala kuliah –alas bedak, dan bedak tabur. cukup—bedanya, pakai kebaya.

*zwing* mbak Evi pun berbaik hati membelikan make-up remover di alf*mart terdekat. Pulangnya, selain membawa make-up remover (fyi, remover untuk mata dan mulut berbeda dengan remover untuk wajah ternyata :O), ia juga membawa selembar kartu nama bertuliskan “Aurel Salon”. Yah, saya tahu nama tempatnya agak tidak meyakinkan :s

Segeralah Ammah Kun menghubungi nomor yang tertera di kartu nama itu. Setelah sepakat soal harga mbak-mbak Aurel setuju untuk datang merias pukul empat pagi. Alhamdulillaaah, satu masalah beres.

Soal mobil, (nggak bawa mobil pribadi dari rumah jadi berencana rental), ternyata dipinjami Innova oleh Pak Yayat atas prakarsa Ammi Ahyudin. Jazakumullah khairal jazaa’ :”

Soal akomodasi, ada Kak Nas –kakak sepupu ganteng sangat oke—yang bersedia nyupirin. Bahkan, malamnya sekitar pukul sebelas , Ammi Ujang (paman) dan Kak Supani (masih terhitung saudara) kasih tau kalau posisi mereka sedang di jalan raya, “Lagi cari rute ke SICC, supaya besok nggak repot nyari-nyari lagi.” Aaaa~ T.T Terharu abis T___T

***
Bangun (well, dibangunin) pukul tiga pagi dan bersiap. (Oh, ternyata inilah kegunaan Capacity Building; pembiasaan bebersih di pagi buta).
Sekarang tinggal menunggu mbak-mbak dari Aurel salon. Kediaman beliau di daerah Jombang –jauh dari Ciputat—dan fyi, beliau sudah punya anak. Namun, beliau masih bisa menyanggupi datang pukul empat pagi. Hebat yak? d(^^)b

Sekitar pukul empat, mulai dirias, tapi kamar yang memiliki cermin besar nggak memiliki pencahayaan yang baik. Jadi selama pakai make-up, –karena redup—nggak ngerti lagi, itu menor atau nggak, aneh atau nggak.

Berkumandang azan Subuh, “Hah mau salat? Dihapus dong (make-upnya)?” komentar spontan dari si mbak 

Sehabis salat, saatnya memodel kerudung (:headache -.-) Kerudung yang dipakai menutupi dada sih—tapi cukup pendek. Inginnya, diulang supaya lebih lebar. Namun, sudah terlanjur dibunga-bunga (diapain sik? Jam sudah menunjukkan hampir pukul lima. Kalau beneran mau mengulang ritual memodel kerudung, bisa-bisa tiba di SICC tidak tepat waktu. Baiklah.

Keluar dari kamar, sudah siap, si Aa merusak suasana “Hahaha. Nifah kamu kaya badut Ancol,” katanya. Minta dilempar pakai wedges. Udah tau suasana hati lagi nggak mood 

Saya cemberut sepanjang jalan. (Cuma) gegara kerudung pendek. Padahal pagi-pagi buta, si teteh sudah nyiapin sarapan plus bawaan makanan buat di jalan, kak Nas sudah bangun pagi, mbak salon sudah datang pagi buta, pokoknya banyaaak sekali orang yang sudah direpotkan oleh Hanifah –tapi dianya malah cemberut :’(( (Maafkan Hanifah ya Allah).

Di jalan diomelin sama Ummi, “Teh orang ya biar cakep juga kalo cemberut jadinya anyep lihatnya.” Masih cemberut.

Curhat sama Uni Septri kalau hari ini badmood akibat kerudung yang terlalu pendek. Dibalas via pesan singkat, “Teteeeeeh… ga boleh gitu. Bismillah ya buat hari ini  hati2, pinter2 jaga hati orang2, terkhusus yg sayang sama kita ” :” Lagi-lagi terharu. Peluk Uni tersayang. Dan saya mulai tersenyum.

***
Ketika sampai, suasana SICC sudah sangat ramai. Bingung juga harus lapor ke meja yang mana. Ternyata, meja laporan itu tergantung pada peringkat. Peringkat 11-100 di meja pertama, 101-200 di meja kedua dan seterusnya. Sementara, untuk wisudawan dengan peringkat 10 besar tiap spesialisasi diperlakukan khusus. Orangtua mereka pun diperlakukan khusus. (Teman sekelas di 3H, yakni, Muhammad Afdhal Usman, ada di peringkat 2. Aaaa~ Afdhaaal! >.<) Kalau udah begini baru berasa deh beda kasta.

Ditelfon Abi, tapi tidak terangkat karena mode telepon genggam dalam keadaan hening. Alhasil, hanya membaca pesan singkat dari Abi: “Teh selamat wisuda. Maafkan Abi tidak bisa hadir dalam momentum bersejarah ini. Semoga teteh bahagia dunia akhirat.”

Para wisudawan diminta menunggu di hall. Lalu dibariskan berdasarkan peringkat genap dan ganjil. Setelah menunggu beberapa lama, para wisudawan diminta masuk ke dalam ruangan SICC. Sayangnya, karena terlalu mematuhi aturan, beneran nggak bawa kamera ke dalam ruangan. Jadilah, nggak ada foto-foto selama di ruangan. Nasib.

Berdasarkan ingatan sih ya, waktu itu para wisudawan disuruh hormat toga ketika para guru besar(?) masuk, sambutan dari Sekretaris Kemenkeu (cmiiw), orasi ilmiah dari pejabat perwakilan BPK, acara inti (wisuda), sisanya hiburan.

Barusan juga wisuda dimulai, saya sudah mau nangis aja. Sebab ada teman baik sesama mabeng #13 yang termasuk 10 besar di spesialisasinya. Namanya Siti Armayani Ray. Nah, khusus untuk para mahadaya sepuluh besar ini, di layar ditampilkan foto mereka beserta foto kedua orangtuanya. Ketika layar menampilkan foto Sicchi dan orangtuanya, rasanya air mata mau tumpah.

Puisi yang dibawakan Fauziah Mahabbatussalma tentang orangtua juga benar-benar menyentuh. Sulit untuk tidak menangis. Sampai teman samping tempat duduk nanya: “Ipeh, maskara Nisa luntur nggak?” :D

Yah, wisuda itu perpaduan antara capek, terharu, bosan, tapi semuanya tertutupi oleh rasa bahagia. Akhirnya momen ini datang juga!

Ah ya, selama prosesi banyak wisudawan yang terkantuk-kantuk bahkan tertidur. Selain itu banyak juga yang keluar ruangan ketika seluruh spesialisasinya sudah selesai dipanggil –suasana jadi kurang khidmat. Well, saya juga termasuk yang keluar saat prosesi sih :hammer

Masalahnya, di akhir acara, ketika semua peserta sudah keluar ruangan, akan ramai sekali. Mau gerak aja susah T.T Apalagi mau foto-foto. Iya juga kalau ketemu sama orang yang dimaksud. Lah kalau enggak?

Kalau diingat masih sedih juga karena nggak punya foto wisuda dengan teman-teman tertentu 
Misalnya, h2o, 3H, Nurul Septiani :(

Memang seharusnya sebelum wisuda, janjian dulu dimana meeting point untuk foto bareng :(

Tapi alhamdulillahnya masih ada foto sama mabeng, sama ‘Afiifah, Refita, Nda, dan Bude juga :D :D

SAM_0039

***

Malamnya, main eh, silaturahmi ke tempat Ammah Era. Yes, Bakmie Gratis :9 Ketemu Rahmi :))

Terus juga rencana pulang naik Damri nggak jadi. Sebab, kakaknya Ammah Kun ada usaha ke Jakarta, tapi pas pulang mobilnya kosong, jadi kami bisa ikutan. Sampai depan rumah dengan selamat.

Masya Allah. Syukur. Alhamdulillaaah.

Jazakumullah khairal jazaaa’

SAM_0082

Iklan

4 thoughts on “Wisuda: Alhamdulillah. Jazakumullah Khairal Jazaaa’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s