Kata Ammi Aan*

Perjalanan Solok ke Bukittinggi, Januari 2013

Ammi Aan dan keluarga (Ammah Ika, Abang Gaza, Adik Ayyash dan Uwak) plus saya, pulang dari Solok dengan kijang LGX warna biru malam.

Di perjalanan banyak hal yang ramai-ramai kami bicarakan, diantaranya ada beberapa hal yang saya simpan baik-baik. Di akhir usia 19 ini, banyak pemahaman-pemahaman baru yang saya dapat.

***

a: “Ammi sedang mengajukan pindah ke Lampung.”

h: “Loh, kenapa mi? Disini -Bukittinggi- menyenangkan. Aku aja sampai betah gini.”

a: “Iya Teh, dulu juga Ammi berpikir seperti itu, mau pergi saja dari Lampung. Bahkan terpikir untuk menetap dan dikubur di Bukittinggi. Disini enak, beda sama Lampung.”

“Tapi sekarang setelah punya anak, Ammi baru ‘tahu rasanya’. Oh orangtua Ammi tuh dulu begini ngurusin Ammi. Nah, sekarang mereka sudah sepuh, nggak ada yang nemenin. Kapan lagi bisa berbakti? Makanya Ammi memutuskan akan balik lagi ke Lampung.”

“Ada sih saudara (kakak-adik) Ammi Aan yang di Lampung juga, tapi mungkin sudah beda orientasinya.”

“Ammi tersadar ketika baca novel Negeri 5 Menara. Malam-malam Ammi baca. Ada kisah Baso yang pulang kampung ke Sulawesi. Padahal sebentar lagi dia tamat dari Gontor. Dari situ Ammi menangis, dan teringat orang tua.”

“Padahal Baso itu pulang karena neneknya. Untuk berbakti pada neneknya. Nah, gimana kalau terhadap orangtua? Kewajiban untuk berbakti lebih besar kan?”

“Makanya Ammi mantap untuk memutuskan pindah ke Lampung. Ammi telfon Ibu: ‘Bu, Aan mau pindah ke Lampung.’ Ibu langsung menangis, ‘Alhamdulillaaah, ini doa Ibu sejak dulu.'”

“Jadi Teh, sebenarnya orangtua itu kepingin sekali ditemani anaknya, hanya tidak terkatakan.”

“Lagipula, kalau disini dapat rezeki sekian, masa iya di Lampung nggak bisa cari rezeki? Apalagi dengan niat mau berbakti kepada orangtua.”

“Ini semua efek dari tarbiyah, Teh. Betul.”

h: “Tuh kan ujung-ujungnya pasti mau bilang ‘Tarbiyah bukan segalanya, tapi semuanya berawal dari tarbiyah’. Sudah kaya Abi aja, mi -..-”

a: “Betul Teh. Kalau nggak kenal tarbiyah, mungkin orientasi hidup Ammi juga beda.”

“Abi tahu sekali lah dulu Ammi itu seperti apa. Pemikiran-pemikiran Ammi sekarang, itu hasil tarbiyah. Tapi itu buat Ammi.”

“Dan terutama, yang paling Ammi rasakan, kemanapun Ammi pergi, Ammi nggak pernah sendirian. Selalu saja ada saudara.”

h: “Tapi mi, banyak loh anak-anak yang ortunya tarbiyah anaknya rada hilang arah. Kita lihat deh nanti Gaza dan Ayyash.” *senyum*

a: “Kita nggak bisa menyalahkan orang-orang terdahulu. Para perintis berjuang sulit sekali. Bukannya mudah. Ngaji sembunyi-sembunyi. Mau pakai kerudung susah bukan main. Generasi kita ini, tinggal memetik buahnya. Tinggal menjalani. Maka, kalau ada hal-hal yang kita nggak setuju, nggak perlu protes. Kita masuk, lalu perbaiki.”

“Kalau Ammi, nggak apa-apa. Misalnya Gaza mau nakal dulu, muter kemana dulu. Asal nantinya ‘kembali’. Atau kalau nanti dia mau ambil jalur umum, silakan. Asal dia juga ikut tarbiyah.”

***

“Tarbiyah mengubah hidup”.
Hey K, mungkin itulah formula yang perlu kita temukan.

*catatan:
Ammi: diambil dari bahasa Arab yg artinya ‘paman’

Iklan

3 thoughts on “Kata Ammi Aan*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s