Sebelum Mengambil Keputusan Besar Itu (Sebuah Ringkasan)

Saya menggemari tulisan-tulisan Anis Matta. Beliau mengupas banyak sisi dalam tulisannya. Mulai dari yang bernafaskan pemikiran politik: Menikmati Demokrasi, Dialog Peradaban, Dari Gerakan ke Negara, 8 Mata Air Kecemerlangan. Ruhani: Konsistensi Menyongsong Husnul Khatimah. Dan sisi yang paling lembut, soal keluarga: Serial Cinta, serta Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga.

Nah, di Padang -tepatnya di rumah Ammi Aan- saya menemukan tulisan beliau yang lainnya. Buku ini tidak ada di rumah. Judulnya: Sebelum Mengambil Keputusan Besar Itu. Sebuah kumpulan ceramah-ceramah pernikahan dari beliau sehingga bahasanya terasa akrab.

Ilmu dulu sebelum amal. Saya mengharuskan diri untuk baca buku tipis itu sebelum pulang. Nah, ini dia ringkasannya :)

***

“Keluarga islami yang kompak seperti sebuah kapal layar yang mempunyai satu misi: berlayar menuju-Nya.” –kata pengantar, hal. vi

Minimal ada empat hal yang perlu dipersiapkan sebelum menikah: pemikiran, psikologis, fisik, dan finansial.

1. Kesiapan pemikiran

: kematangan visi keislaman, visi kepribadian, dan visi pekerjaan.

Memiliki dasar-dasar pemikiran yang jelas tentang ideologi. Mengapa ia menjadi muslim?

Iqra’ bismi rabbikal ladzii khalaq | Laa ikraaha fid diin | Innaddiina `indallahil islam

Konsep diri!
Konsep diri yang jelas membuat kita mengerti siapa yg kita butuhkan. Bukan suami/istri yang unggul. Tapi suami/istri yang TEPAT.

“Seorang wanita biasanya akan melahirkan anak yang mirip dengan saudara laki-lakinya.”

Dengan harapan sosial, kita memandang anak bahwa begitulah seharusnya anak itu menjadi. Bukan sebagaimana anak itu adanya.

Visi membuat kita mampu percaya kepada orang lain apa adanya.

Di dalam Islam, ilmu itu didahulukan atas amal.

Menurut Yusuf Qardhawi, hubungannya hierarkis. Pertama ada ilmu lalu iman. Iman menghasilkan kekhusyuan. Inilah yang mengerakkan hati untuk beramal.

Jadi sebelum menikah (beramal), harus punya ilmu dulu. Tentang apa? 1. Hak & kewajiban suami istri. 2. Tarbiyatul Aulad.

2. Kesiapan psikologis

Orang dikatakan memiliki pribadi yang matang apabila ia mampu mentransfer semua visinya menjadi karakter.

Sudah menikah tentu beda dengan waktu bujang. Waktu tidak seluang dulu.

Ada waktu individual, sosial, dan sejarah. Bila sudah menikah, sebagian besar waktu individu terintervensi oleh waktu sosial.

Waktu bukan lagi punya diri sendiri, tetapi juga punya istri, anak-anak, dan masyarakat.

Perlu kesiapan psikologis pada keseimbangan emosi di dalam jiwa kita. Ambivalensi antara cinta dan benci, harapan dan realisme, rasa berani dan takut.

Paling sering dialami dalam pernikahan adalah fluktuasi emosi yang lebih cepat ketimbang masa bujang.

Anda gembira menerima gaji di awal bulan. Sampai di rumah, anak sakit. Fluktuasi emosi berlangsung dalam orde yang sangat cepat.

Bagaimana memindahkan situasi kesal menjadi menggembirakan, adalah urusan lain.

Aisyah ra. pernah mengahancurkan nampan yang dikirim istri Rasul yang lain di depan para sahabat.

Apa reaksi Rasul? Apa reaksi seorang kepala negara yang tengah berkumpul bersama rekannya, kemudian istrinya datang dan menghancurkan nampan di hadapan para rekan?

Rasul berkata: “Ibu kalian (ummul mu’minin) sedang cemburu.”

Dengarlah lantunan nasyid ini: “Di rumah dia istri di jalanan kawan. Di waktu kita buntu, ia penunjuk jalan.”

Kata Rasul, “Kalau dilihat suaminya, ia menggembirakan.”

Mengharap istri selalu cerah, ketika pulang dan dalam keadaan pergi. Sulit untuk bisa seperti itu.

Butuh kemampuan psikologis luar biasa untuk setiap saat melakukan tiga pekerjaan sekaligus: pekerjaan sekretaris, resepsionis, dan pramugari.

Tiga pekerjaan ini memaksa orang untuk tersenyum tiap hari. Sama seperti yang dilakukan seorang istri. Saya kira ini bukan pekerjaan ringan.

Bila pekerjaan yang saya sebut itu, memiliki timbal balik berupa aktualisasi diri dan gaji bulanan, bagaimana dengan istri yang sejak pagi mengurus rumah, anak-anak, serta belanja bulanan sering terlambat?

3. Kematangan fisik

Dalam Islam, tidak berfungsinya alat reproduksi bisa jadi salah satu penyebab cerai. Kita harus meyakini bahwa fisik kita sudah memadai untuk menikah. Makanya, menikah terlalu dini juga tidak terlalu bagus. Tidak ada kriteria kapan seseorang matang secara fisik –umumnya adalah keadaan dimana kerangka tubuh kita sudah siap.

Yang menikah di usia muda umumnya tahan godaan dunia, sebab saat puncak kebutuhan seksual datang, langsung terpenuhi dengan cara yang halal.

Ukuran fisik harus dipertimbangkan dengan baik -bukan hanya fisik calon- tapi juga kesehatan keluarganya.

Dalam hadits dijelaskan bahwa cacat fisik bisa jadi syarat bercerai setelah menikah.

Rasul pernah ditawari wanita untuk menikah, ada cacat fisik di bagian perutnya. Akhirnya dicerai pada saat itu juga.

Ada orang, yang disebut cantik tidak, disebut jelek lebih sulit. Ada orang, yang jelek tidak, tapi disebut cantik lebih sulit.

Fisik yang perlu kita perhatikan bukan berarti harus membuat orang tertarik. Cukuplah bila tidak membuat orang lari saat melihat kita.

Misalnya, di dalam Islam, menyuruh saudara wanita untuk mengetahui bau badan si calon: bau ketiak dan bau mulut.

Tidak berarti yang punya masalah ini tidak boleh menikah. Tidak berarti juga calon harua ditolak. Tapi minimal Anda tahu.

Minimal mengukur tingkat kepuasan Anda. Kemampuan menerima apa adanya.

Jangan sampai, sekarang tahu tentang kekurangan tersebut, tapi di kemudian hari Anda tidak bisa menerimanya. Ini tidak boleh.

Dalam anjuran umum, sebaiknya laki-laki muslim yang masuk usia baligh melakukan olahraga keras supaya membentuk maskulinitas.

Pernah ada wawancara dengan wanita lawan main Arnold Schwarzenneger. Ia mengatakan, Arnold terlalu maskulin. Karena maskulinnya, semua wanita menjadi feminin di depan matanya.

Saya ingin mengatakan bahwa banyak wanita yang jadi kuat di rumah tangga karena suaminya lemah. Bukan karena dia yang kuat.

Kelemahan suami memberinya peluang untuk lebih kuat dari suami. Ini merusak rumah tangga.

Daya tarik gender terjadi akibat perbedaan yang kontras antara keduanya. Semakin mendekat keduanya, semakin hilang daya tarik itu.

Di dalam Islam dianjurkan untuk mempelajari 3 jenis olahraga: menunggang kuda (kekuatan), berenang (kecepatan), dan memanah (kejelian).

Dalam riwayat Imam Syafi’i disebutkan bahwa kalau ia memiliki 10 anak panah, memanah ke satu tujuan, semuanya akan tepat sasaran.

Imam Bukhari pun begitu.

Pada waktu yang lain, kita juga dengar, ulama malamnya menyalakan lampu 10 kali, untuk tetap bisa belajar.

Mereka belajar kuat, namun fisiknya tidak terlupakan.

Dahulu ada preman jahiliyah bernama Rukana. Dia bilang ke Rasul, “Saya masuk Islam kalau Anda bisa mengalahkan saya.”

Waktu itu perkelahian yang ada adalah gulat. Rukana dibanting habis. Ia minta diulangi. Kalah lagi. Begitu sampai tiga kali. Diapun masuk Islam.

Pada waktu yang sama, Rasul bilang: “Sebaik-baik orang adalah yang paling baik memperlakukan istrinya. Dan sayalah orang yang terbaik memperlakukan istri.”

4. Kesiapan finansial

Perkawinan juga kerja ekonomi, bukan cuma kerja cinta!

Harus punya keyakinan! Jangan sampai masuk pernikahan cuma modal semangat: “Kalaupun fakir, nanti Allah yang buat kaya.”

Kita harus percaya. Tapi kita juga harus ketahui, bagaimana cara Allah membuat orang jadi kaya. Prosedur itu manusiawi.

Kata Allah, “Wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja.” Barangsiapa bertakwa kepada Allah, Ia akan memberikan jalan dari arah yang tidak disangka-sangka.

Ada sebagian yang tidak manusiawi, tapi sebagian besar adalah kerja-kerja manusiawi.

Kata Umar ra., “Langit tidak akan menurunkan emas.”

Seorang wanita yang mempertanyakan calon suaminya masalah ini, tidak berarti wanita tersebut materialistis.

Seorang wanita perlu yakin bahwa seorang suami yang bisa mengatakan I love you 1000 kali sehari juga bisa memberikan susu buat anak-anaknya.

Romantika yang bagus, dibangun diatas realisme.

Baik mengatakan I love you dan memberi nafkah, dua-duanya sama-sama perlu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s