Catper: Persiapan (1/5)

Bismillah,
Ini dia catatan perjalanan ke Padang. Sebuah janji kepada -uhuks- suaminya Uni, Mas Dirga

Karena lumayan panjang, oh oke bakalan panjang banget, tulisan ini saya bagi jadi lima bagian, yakni: Persiapan; Di Perjalanan; Pagi, Bukittinggi!; Tujuan Utama; Misi Kenegaraan Bonus Jalan-jalan.

***

Ini kali pertama saya mendapat kabar pernikahan (yang seharusnya disambut bahagia) dan saya menangis kencang karenanya. Bayangkan saja, selama tiga hari, selalu ada “sesi menangis” ingat Uni.

Tidak ada pertanda yang terlalu kentara, tapi berita datang tiba-tiba. Lengkap bersama waktu akad dan resepsi. Kaget. Sedih. Senang -dan tidak tahu apalagi rasa itu bernama.

Tapi satu yang tertanam dalam hati: insyaAllah akan hadir di hari bahagia uni sayang.

Malam sebelumnya, Kak Euis baru saja bertanya: “Peh, kapan lo ke Jakarta?” “Kalau psikotes, kak. Ngapain ke Jakarta nggak ada tujuan.” “Emang lo nggak mau magang?” “Enggak ah, gw sih disini aja.”

Setelah tahu kabar gembira bahwa uni segera menikah, dalam sehari strategi berubah. Segera kirim pesan singkat ke Kak Euis: “Kak, ketemuan yuk ngomongin magang.”

Mengapa tiba2 saya semangat magang? Sebab bila magang saya akan punya penghasilan, dan dengan sumber daya tsb, saya bisa pergi ke Padang.

Saya pun membuat CV dan mngirimkan email ke KAP. Juga mendatangi kantor2 KAP yg ada di Bandar Lampung. Pokoknya on fire sekali cari kerja.

Kata ummi dan abi, “Untuk apa sih Teh, pergi ke Jakarta? Kalaupun Teteh mau kerja, yg deket rumah aja. Emangnya kamu pikir di Jakarta nggak ngekos? nggak makan?”

Sementara Kak euis sudah lebih dulu ke Jakarta dan kerja di KAP di bilangan Jaktim.

Baiklah kita mengalah sm ortu. tp sebelumnya harus dicapai win win solution terlebih dulu. Ini dia deal-nya: 1) Diongkosin ke Padang tapi naik bus. 2) Boleh cari kerja asal di bd lampung.

Gimana?

Selisih ongkos naik bus & naik pesawat lumayan jauh. Lagipula, untk naik pesawat, mesti ke Cengkareng dulu jadi ongkosnya dobel. Hmm..meskipun tentu rasa lelah di perjalanan juga bedanya berlipat.

Tapi gini deh, tujuannya kan hadir di hari bahagia uni. Nah, ada banyak cara kan? :)) Sekalian nggak membantah ortu juga. Oke. Deal!

Sembari menunggu hari istimewanya Uni tiba, saya magang di UD. Shafira Mandiri -usaha kue milik Ammi Rohim dan Bu Tris. Nambah bekal ke Padang plus nambah ilmu ;)

Ini dia produk-produk Shafira Mandiri. Hehe, sekalian promosi :D

martabak isi daging ayam

martabak isi daging ayam

bolu kuning original

bolu kuning original

pai

pai

puding cake jeruk

puding cake jeruk

sus gulung

sus gulung

Ummi berencana menemani. Sekaligus kami berdua mengulang perjalanan ke kampuang nan jauah di mato setelah 15 tahun berlalu–ya, waktu TK, umur 5 th, saya kesini brsama ummi dan Bu Metri. Perjalanan bersejarah :))

Banyak juga teman ummi & abi yg ada di Sumatera Barat. Jadi, sekalian silaturahmi ceritanya.

Namun kemudian ummi nggak jadi menemani. Masih ngurusin gajian orang yayasan. Ummi bisa apabila berangkat tanggal 23. Namun, beliau khawatir saya akan terlambat menyaksikan akad nikah bila berangkat pada tanggal tersebut. Jadi begini hitungannya, kalau berangkat tanggal 23 malam maka perkiraan sampai tanggal 25, hari H. Dengan asumsi akad dilaksanakan pada waktu pagi, saya kemungkinan besar tidak hadir pada acara akad. Padahal itu kan ya yang penting? Iya aja deh.

Alhasil, saya pergi sendiri.

Mungkin ada yang bertanya-tanya? Kok boleh sih safar jauh gitu sendirian?

Well, 1) Saya sudah berisik minta ke Padang sejak sebulan yang lalu. Siapa yang nggak pusing dengarnya? -jangan ditiru, tengkyu-

2) Persis di pool Gumarang, saya akan dijemput oleh kenalan saudara seiman. Sudah dititipin sama orang yang insyaAllah amanah, yakni Ammi Aan dan Ammah Ika, jadi insyaAllah sudah terkondisikan aman.

Balik lagi ya,

Di tiket, tertera tgl keberangkatan tgl 22 pukul 18.00. Tanggal 22 adalah hari Selasa.

Hari Senin (21) saya masih bantuin sedikit sekali di UD Shafira Mandiri, masih pula mengiyakan ajakan main teman2 SD. Belum ngeh kalau perginya itu BESOK.

Mbak Fira (teman SD) mengajak nonton Habibie-Ainun di bioskop, tapi Puput (teman SD) baru saja menonton semalam. Akhirnya saya bilang saja, yasudah kita bikin saja ‘bioskop kecil’ di tempatnya Puput. –nonton film pakai LCD.

Sorenya, nonton Perahu Kertas, pas lihat kado ulang tahun dari Kugy buat Keenan yang nggak jadi dikasih itu loh. (Yang nggak tau iya aja deh.) *tring* Dapat ide untuk nulis surat buat Uni dengan format yang mirip.

Besoknya (22), Hanifah masih mikir: Ah masih pukul 6 berangkatnya. Masih banyak waktu :P

Berangkat cari-cari tempat berbentuk silinder untuk tempat kado -carinya ke toko kue- dan bahan-bahan bikin surat + kertas kado di Gramed. Saya pikir akan selesai sebelum Dzuhur. Ternyata pukul 1 saya baru sampai rumah.

Oke, menyalin surat dulu. –yang pas bikin berlinang air mata —yang ternyata panjang juga suratnya >.<
Bikin surat juga ternyata lama masbro. Kepanjangan sih ya #eh Curahan semua isi hati sih. #ehlagi

Kenapa bikin surat dulu? Sebab suratnya mau dimasukkin ke dalam kado. Nah, jadi kadonya nggak bisa dibungkus sebelum suratnya selesai.

Bikin surat selesai pukul lima. Packing? Bekal? Belum dong :D

Ummi pulang melihat sisa-sisa kerja saya yang berantakan. "Yaampun Teteeh, kamu ngapain sih? Packing sudah belum?" "Harusnya packing dulu baru bikin surat. Lagian, kamu kurang kerjaan, kaya suratnya dibaca aja."

(Un, suratku dibaca kan Un? T_______T)

Sorenya, Ammi Rohim dan Bu Tris datang ke rumah. Dapat amplop. Yeeeey! Alhamdulillaaah. Plus dibawakan pula empat loyang brownies panggang tabur wijen :'

Pukul enam. Barusan beli bekal di alf*m*rt. Masih belum packing. Hey Hanifah, kamu kira bus bakal nungguin kamu?

Deg-degan.

Gimana kalau ditinggal? T.T

Abi pulang. Kata Abi, berangkatnya pukul tujuh malam. Yeeey, alhamdulillaaah. Ada tambahan waktu sat jam. Berhasil! Berhasil! *ala ala Dora* Masih sempat packing, bebersih, dan makan dulu.

Setelah Maghrib. Hujan. Diantar ke pool Gumarang. Bawaanku banyak sekali. "Kakak aja yang KKN 40 hari bawaannya nggak sebanyak Teteh." -..-

Alhamdulillah lagi, ternyata bus benar-benar berangkat pukul 9. Namaku sudah dipanggil sejak tadi hahaha. Maap Pak. Ummi yang konfirmasi ke tempat tiket sementara saya dan Abi memasukkan barang-barang ke dalam bus.

Tempat duduk saya persis di belakang supir. Teman sebelah duduk saya namanya Ibu Ita, asal Kotaagung. Ummi dan Abi menitipkan saya kepada beliau selama di perjalanan.

Waktu Ummi dan Abi menuju mobil untuk kembali ke rumah, menatap punggung beliau berdua menjauh, saya merasa sedih.

Iklan

2 thoughts on “Catper: Persiapan (1/5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s