Catper: Di Perjalanan (2/5)

Setelah menatap punggung Ummi dan Abi menjauh #eeaaa Saya pun naik ke bus Gumarang Jaya, mencari posisi nyaman di tempat duduk sembari berkenalan dengan Ibu Ita.

Pukul sembilan malam mobil melaju. Bismillah. Saya membaca doa safar yang diajarkan Aa:

(Allahumma inna nas’aluka fii safarina hadzaa / al birra wat taqwa/ wal ‘amalina ma tardho/

Allahumma hawwin ‘alayna safarana hadzaa/ wathwi’anna bu’dah/ allahumma antas shaahibu fis safar/ wal khaliifatu fil ahli/

Allahumma inna na’uudzubika min atsaa is safar / wa ka’aabatil manzhar/ was suu il munqolab/ fiil maali wal ahli wal walad.

aaibuunal taaaibuuunaa ilaa rabbina haamiduun. )

Ibu Ita (yang selanjutnya minta dipanggil Uni) adalah seorang guru SD. Tinggal di Kotaagung. Melakukan perjalanan ke Solok karena ada acara 100 hari nenek beliau meninggal.

Uni Ita keren sekali. Beliau bisa banyak bahasa. Bahasa Minang, jelas. Lampung juga bisa -karena suami beliau orang Lampung. Nggak ketinggalan bahasa Semendo (karena lingkungannya banyak yg merupakan suku tsb.) serta bahasa Sunda. :O

Mas Dirga pernah bilang via sms: “Eh, serius mw pake jalan darat? Keluarga saya aja urung pake jalur darat krn berat dan lama. Smoga dberi kekuatan aj dah.”

Ehm, berhubung saya orang Sumatera, dan sudah dua kali bepergian ke Bengkulu antah-berantah menengok kebun yang jalan kesananya susaaaah banget itu, ke Padang Alhamdulillah terasa ringan :)

Ngomong-ngomong, kalau naik bus ke Bengkulu, bus-nya akan jalan terus -berhenti hanya untuk makan. Nah, yang sulit dijaga saat perjalanan adalah waktu salat. Terutama salat Subuh. Kalau Dzuhur-Ashar kan bisa dijamak. Begitu pula Maghrib-Isya’.

Ini dia istimewanya bus jurusan Padang. Bus-bus tersebut berhenti di waktu Subuh. Seolah (atau memang niatnya demikian?) memberikan kita waktu untuk terlebih dulu menunaikan salat.

Menjelang Subuh kami turun di Rumah Makan Padang entahlah namanya.Ketika turun, ada sosok yang sepertinya kukenal. Siapa dia, o o siapa dia? #nyanyi Agak ragu juga mau menyapa, ternyata beliau menyapa lebih dulu. Ternyata oh ternyata, saya satu bus dengan seorang saudara -Ayuk Sahlah.

Sikat gigi, cuci muka, wudhu, masih pukul 4.15. Di Lampung, 4.45 sudah masuk waktu Subuh. Sementara, semakin ke utara, waktu Subuh semakin siang. Nah kalau disini jam berapa?

Di musala RM, siap-siap menunggu Subuh. Sudah pakai mukena. Tapi Ayuk Sahlah dan seorang bapak asal Solo berdebat soal waktu: sudah masuk waktu Subuh kah? Karena salat adalah ibadah yang sangat terkait soal waktu. Setelah yakin bahwa telah masuk waktunya, kami salat berjamaah diimami bapak tersebut.

Bus mengklakson berkali-kali sebagai panggilan kepada penumpang untuk segera naik.

***

Paginya, sudah benar-benar terasa bahwa kami memasuki wilayah Sumatera Selatan. Dimana lagi coba, ada orang jualan pempek pagi-pagi kalau bukan disini?

Lapar T___T karena terburu-buru saya nggak sempat beli jajanan. Bekalnya cuma dua buah roti dan dua botol air mineral. Mari kita sarapan pempek pagi-pagi, nak!

Ada juga penjual kerupuk Palembang, saya tanya ke Uni Ita, “Mau Un?” Maksud saya, mau nggak? nanti saya yang beli. Harga kerupuk 10ribu/ bungkus. Sudah mau saya beli tuh. Eh trus si Uni menawar jadi 7ribu untuk sebungkus kerupuk biasa. *_* Lalu menawar lagi untuk dapat kerupuk keriting 15ribu/2 bungkus. Alamak. Saya semacam tersepona. Wow. Masih ya ditawar? Ibuk-ibuk banget >.< Sementara saya nggak ada kepikiran kesana. Kemampuan menawar harus diasah nih. Btw, saya nggak jadi beli kerupuknya ._.

Di daerah Sungai Lilin, Ayuk Sahlah turun. "Ooh ini pesantrennya si Sofi," kata saya dalam hati. Baru inilah saya lewat daerah Sungai Lilin.

*Pesantren Sungai Lilin didirikan oleh Ust. Al Mukarram Malik Musir. Salah satu anak Ust. Malik bernama Sofia, yang merupakan seorang-sahabat-super-baik. Kami bertemu di HK. Waktu itu kami satu kamar di Zainab 2. Sayangnya Sofi hanya satu tahun di HK karena nggak betah. Ingat sekali waktu itu pagi-pagi nangis karena dia pindah :(

Di bayangan saya, Sofi tetaplah Sofi yang dulu: heboh, cerewet, dkk dll :P Tapi sekarang Sofi sudah kuliah psikologi (dengan beasiswa) di UIN Syarif Hidayatullah. Dia sudah sangat berbeda. Ngeri emang bergaul sama anak psikologi. Hiy. Pas pertama kali janjian ketemu di suatu mall dulu, saya takut juga kita bakal teriak-teriak nggak jelas. (yep, begitulah kebiasaan anak pondok kalau ketemu teman lama. Ribut nggak kenal tempat dan waktu :D) Tapi ternyata dia sudah mature sekali. Lembut juga. Aaaah dewasa pokoknya. Aaah keren.

Padahal dulu kalau mau ujian tafsir (biasanya kelasku duluan yang ujian karena jamnya lebih awal. Aku 1G, Sofi 1H) dia nanya-nanya dulu, apa-apa saja yang akan keluar. mufradat apa? pendapat siapa? surat yang mana? hahaha :P

Oh oke cukup melipir tentang Sofi. Balik lagi yak,*

Ayuk Sahlah turun di gerbang pondok. Sebelum turun ia berpesan ke Uni Ita, "Titip adik saya ya!"

Uni Ita itu …. serius jagain saya T.T Ketika Dzuhur, dan berhenti di rumah makan, barulah saya tahu kalau beliau sedang kedatangan tamu bulanan. Jadi, yang salat hanya saya. Tapi, tapi, Uni nggak langsung masuk rumah makan. Beliau duduk di warung dekat musala, nungguin saya salat. Hiks T.T

Di musala, bapak-bapak dari Solo yang tadi pagi berdebat sama Ayuk Sahlah soal waktu Subuh itu, menyapa saya. "Adik mau kemana?" "Payakumbuh. Ada kenduri." "Sendiri?" "Iya. Tadinya mau sama Ibu, tapi Ibu ada kerjaan." "Sudah sering ke Padang?" "Enggak juga. Tapi dulu pernah satu kali pas TK main kesana." "Adik kuliah dimana? dst dsb
"

Yang kemudian saya ketahui, bapak tersebut naik bus ini mulai dari Solo. Menengok saudaranya yang sedang studi kedokteran disana. Sekarang, bapak itu hendak ke Riau menjenguk Ibunya yang sakit. Setelah itu, si bapak mohon diri mau salat dulu, dan saya makan siang.

Makan siang bersama Uni Ita. Harga standar RM: nasi + 1 lauk = 20ribu.

Memasuki wilayah Jambi. Di kiri kanan jalan banyak baliho. Hmm, sebentar lagi pilkada. Pantas saja. Banyak pula barisan bendera berlambang ka'bah, bulan sabit dan padi di pinggir jalan. Hmm, nggak heran. Hasil Safari Dakwah sewilayah Sumatera kemarin.

Malamnya, berhenti lagi di RM Umega. Kalau sudah sampai sini, perjalanan kira-kira tinggal 8-9 jam lagi. Oh ya lupa kan, saya ada bekal Popmie goreng. Cuma butuh air panas saja untuk menyeduhnya. Beli air panas, harganya seribu. Karena nggak enak cuma beli seribu padahal uangnya pecahan 50ribu, saya juga beli Milo kalengan.

Di jalan saya tertidur. Hampir sampai daerah Solok, Uni Ita minta pindah tempat duduk. Saya jadi duduk si dekat jendela. Waktu Uni turun, saya masih setengah sadar. Dan baru sadar kalau nggak ada foto sama Uni Ita :( Uni bilang ke pak supir, "Jaga adik saya ya. Dia turun di Bukittinggi."

***

Saya benar-benar merasa berada di Tanah Minang, waktu saya lihat persis di sebelah kiri adalah air yang nggak habis-habis. Warnanya hitam karena masih pagi buta, ditambah kaya ada sinar-sinar gitu refleksi dari cahaya yang menimpa. Duh gimana bilangnya ya :s Pokoknya kereeen sekali. *Dazzled*

Ditambah pula si abang supir menyetel lagu Minang. Di kanan sudah banyak rumah rumah gadang dengan bentuk atapnya yang khas. Waaah. Rasanya nggak terkatakan. Teriak dalam hati: "Heyyy! Setelah 15tahun aku kembali lagiiii!" Senang sekali rasanya. Hingga mata nggak terpejam lagi.

Ngomong-ngomong ini di sebelah apaan sih? Ngecek google map, itu di sebelah saya Danau Singkarak. Aaaak. Danau Singkarak, tempat Tour de Singkarak! Halo! :')

Sebelum pergi saya sempat parno sama bus masuk jurang. Tapi ternyata saya nggak lewat jurang-jurang gitu loh. Padahal berdasarkan ingatan masa TK, kalau ke Padang itu mesti lewat jalanan yang satu sisi tebing dan sisi sebelahnya jurang. Etapi, sekarang parno busnya nyebur danau. Ha! :s

Hampir sampai Bukittinggi, saya sms Ammah Ika kalau sudah mau sampai. Mau telfon tapi nggak enak karena masih pagi buta. Jadilah saya sms. Agak deg-degan juga sih. "Kalau tempatnya terlewat gimana?"

Syukur, PO. Gumarang memiliki pool tersendiri di Bukittinggi. Jadilah, saya turun di pool tersebut.

Selesai turun-turunin barang -yang bejibun itu-, barulah saya telepon Ammah Ika kalau "Sudah sampai di Bukitinggi."

Ternyata, bapak-bapak asal Solo tadi turun juga di tempat yang sama. Beliau bertanya ke saya, "Habis ini gimana?" "Ada yang jemput," kata saya.

Oalaah, ternyata si Bapak mengkhawatirkan saya. Pikir beliau, "Ini kasihan sekali anak gadis malam-malam sendirian." Jadi seharusnya beliau turun sebelum pool, tapi karena khawatir sama saya, beliau turun di tempat saya turun. Emaaaak. Mau nangis nih T_T

Padahal ya padahal, kami nggak kenalan loh di jalan. Cuma obrolan singkat sehabis Dzuhur itulah satu-satunya komunikasi antara kami sebelum ini. Deuh, banyak sekali orang baik di dunia ini T_T

Nama beliau Pak Akhyar. Orang Bukittinggi juga, jadi beliau memperhatikan, katanya mau ke Payakumbuh, tapi kok saya nggak turun? Payakumbuh ke arah sana tapi saya malah ke arah sini?

Iklan

4 thoughts on “Catper: Di Perjalanan (2/5)

  1. iya nifah, alhamdulillah ya orang baik jumlahnya banyak ^^
    asik banget penuturan kamu,
    ahh mesti nunggu lagi nih utk catper berikutnya
    #dudukmanis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s