Catper: Pagi, Bukittinggi! (3/5 part 1)

Mobil kijang LGX warna biru malam masuk ke area pool Gumarang. Alhamdulillah, jemputan datang :’ Ammah Ika dan Ammi Aan (plus Abang Gaza) keluar dari mobil, menghampiri saya.

“Kok Teteh nggak bilang-bilang sih pas sudah sampai? Nelpon ketika sudah sampai.”

“Kan sudah dibilang jam berapapun sampai insyaAllah dijemput.”

._.

Habisnya, maksud saya kan mau menunggu hingga pagi di pool supaya tidak terlalu merepotkan. Eh tapi ternyata malah nambah ngerepotin T.T

Pak Akhyar dan Ammi Aan berbincang. Ngomongin saya yang kok begini amat sih. Huehe. Ammi Aan (dan saya) berterimakasih ke beliau. Ternyata, beliau orang asli Bukittinggi dan berdomisili disana. Hanya, baru kembali dari Solo dan hendak pergi ke Riau.

Karena masih pagi buta, Ammi Aan menawarkan supaya Pak Akhyar diantar saja. Tapi kata beliau, akan menunggu Subuh saja di masjid di daerah Jambuair.

Usai mengantar beliau ke masjid itu –bahkan masjidnya belum buka, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Ammi Aan. Letaknya di Jalan Birugo Raya. Sampai rumah pukul empat, sementara Subuh di Bukittinggi barulah pukul setengah enam sodara-sodara! Asik, bisa bangun siang. Hahaha. *jelek amat niat*

Siaran teve di Bukittinggi bila nggak pakai Parabola, cuma bisa menangkap dua channel: RCTI (isinya sinetron terus) dan MetroTV (isinya berita mulu). Padahal ada siaran yang ingin sekali saya tonton T____T
Yasudahlah, memang lebih baik salat.

Di tempat Ammi Aan, saya tinggal di paviliun. Jadi, rumah berbentuk letter L. Ada ruangan khusus dengan kamar mandi sendiri. Juga ada dua pintu penghubung: ke luar dan ke dalam. Seperti kamar kos saja. Privasi terjaga sekali :’

Biasanya ruangan itu disewakan. Penyewa terakhir adalah manajer BCA –baru saja keluar minggu lalu sehingga paviliun kosong dan bisa saya tempati :)) Rezeki Hanifah, alhamdulillah.

Oya, di rumah ada lima orang yang tinggal. Ammi Aan, Ammah Ika, Abang Gaza, Adik Ayyash, dan Uwak. Abang Gaza lengket sekali sama Abi (Ammi Aan maksudnya), kalau Adik Ayyash, nggak mau lepas dari Uwak.

Saya tiba di Bukittinggi pada waktu maulid Nabi Muhammad saw. Artinya? Yak! Libuuur! Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.

Paginya, diajak Ammah Ika untuk ikut acara DPC: rihlah keluarga ke Ngarai Sianok –kalau teteh nggak capek. “Ikuuuuuut! Aku nggak capeek!” :D

***

Pukul setengah tujuh, kami berkumpul di pelataran masjid jami’ Birugo. Salah satu masjid tertua di wilayah ini loh :) Satu per satu keluarga berdatangan. Para Ummi, Abi, dan adik-adik yang lucu-lucu :3

Fyi, kalau disini perempuan yang lebih tua biasanya dipanggil “kakak” (atau Uni) dan laki-laki yang lebih tua dipanggil “Abang” (atau Uda).

Ada kakak-adik bertiga yang datang sendiri. Mereka diantar abinya ke Birugo kemudian abinya pergi lagi. Mandiri sekali. Nama mereka: Hana-Hanif-Halimah. Ih, awalan H semua yah. *toss*

Sampailah rombongan kami di Ngarai Sianok. Masya Allah. Subhanallah. Berdecak kagum terus. Alangkah bagusnya negeri ini yaAllah >.

Untuk ke tempat yang dimaksud, kami harus berjalan kaki. Sambil menyusuri jalan setapak, melihat pemandangan kanan kiri. Tebing yang menjulang. Sungai yang mengalir. Subhanallah. Merekam baik-baik dalam ingatan.

Acara demi acara dimulai. Buat anak-anak, ada balap karung, belut masuk botol, dan pindahin kelereng pakai sendok. Buat abi-abi ada balap karung dan tarik tambang. Buat ummi-ummi gamenya injek balon #sangar Nah buat pasangan #ck gamenya ambil kerikil pakai sumpit.

Ada tausiyahnya (jelas), Dhuha, Dzuhur jama’ah juga. Habis itu baru kami makan siang bareng. Senaaaaang.

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok

adik-adik unyu :3

adik-adik unyu :3

sungai di Ngarai Sianok

sungai di Ngarai Sianok

Balap Karung, yang semangaat!

Balap Karung, semangaat!

makan siaang :9

makan siaang :9

ternyata ada yang kelupaan: REFITA (Epi)

Hahaha. Maap ya nak :P

Jadi ceritanya, si Epi akan sampai di bandara pukul dua siang. Perjalanan dari Padang ke Bukittinggi kira-kira tiga jam. Nah, dari situ dia mau naik apa? Rencananya dipesanin travel. Deal. Tapi karena tadi pagi sibuk bersiap berangkat rihlah dan ingatnya saat Ammi Aan menyetir, jadilah pemesanan tiket tertunda. Sampai tengah hari, masih belum pesan tiket. Alamaaak T_____T *mana Epi, sini peluk dulu*

Epi sudah dipesanin travel. Oke.

Kami pulang dari Sianok sekitar pukul dua. Ngantuk sekali. Tapi nunggu kabar dari Epi. Anak ini sudah sampai mana hmmm?

Epi nanya, “Han ada remah roti nggak?” | “Remah roti? Buat apa?” … *mikir* Oh, maksudnya petunjuk jalan seperti yang di cerita Hansel & Gretel. “Hmmm, aku taunya Jam Gadang, Pi.” | “Terus apalagi habis itu?” | “Apaya, kalau sudah kelihatan jam Gadang sih artinya sudah sampai di Bukittinggi. Hehehe” » sama sekali tidak membantu.

Kalau saya parno sama bus masuk jurang, Epi parno dibawa kabur sama abang travel.

***

Ternyata si Epi nggak jadi naik travel. Ada “om-om” yang jemput. Siapakah om-om itu? Om-om yang dimaksud adalah “anak buah papa.”

*Hm, jadi Epi itu anak kolong. Bukan karena sering tidur di kolong tempat tidur. #krik Tapi karena dia anak tentara. Dalam disiplin militer, kepangkatan seseorang amatlah berpengaruh. Ya kan? Lihat kan pas kita CB? :’)

Papa Epi menghubungi kawannya, Kepala Kas -aduh apasih jabatannya? :( – yang menjemput Epi di bandara. Terus dimandatkan ke anak buahnya untuk diantar ke Bukittinggi. Lalu di Bukitinggi dimandatkan lagi ke prajurit lain yang bertugas di wilayah itu untuk diantar ke Birugo.

Sebenarnya Epi ditawarin untuk menginap di hotel. Tapi karena bujuk rayu Ipeh, Epi mau berangkat bareng ke tempat Uni. Jadi menginap di tempat yang sama dengan saya: rumahnya Ammi Aan.*

***

Saya tidur siang dan baru bangun sore harinya. Alhamdulillah belum ada telpon dari Epi. Saya nggak telat bangunnya.

Masih komunikasi sama Epi via whatsapp.

Selepas Magrib. Tiba-tiba negara api menyerang. tiba-tiba ada telpon dari nomor tidak dikenal. Saya angkat. Dia bicara bahasa Minang. Saya nggak ngerti. Handphone saya berikan kepada Ammi Aan. Beliau berdua yang bicara.

Posisi Epi sudah dekat. Sebentar lagi sampai. Om prajurit nanyain ancer-ancer pakai bahasa Minang. Saya bengong.

Tau Epi sudah mau sampai, saya tunggu di depan gerbang. Ciiit. Avanza berhenti. Mana Epi? Mana? Ciit. Satu lagi mobil mengikuti. Si Epi nongol juga. Dia ada di mobil kedua. Ampuuuuun. Anak ini dianterin dua mobil. Antara gemes, mau ketawa, kagum sama protokoler militer, mau ngelempar anak ini pake sandal, tapi udah kangen juga. *loh kok nggak nyambung*

Di dalam rumah, “serah terima Epi” dari Om prajurit ke bawah pengawasan Ammi Aan :D

Yah berhubung kami di rumah orang, di depan para bapak-bapak. Dituntut untuk behave. Kami duduk sopan #ihir mendengarkan pembicaraan mereka. Baru pas om prajurit pergi dan kami masuk paviliun, keributan terjadi.

Blah blah blah blah » pembicaraan sama Epi.

Kata Epi, “Ish. Sudah jauh-jauh ke Padang, ujung-ujungnya sekamar lagi sama kamu ya Han. Sepertinya kejadian kaya gini akan terus berlanjut.” Hahaha 4L: Lu Lagi Lu Lagi :))

Iklan

4 thoughts on “Catper: Pagi, Bukittinggi! (3/5 part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s