Catper: Tujuan Utama (4/5 part 2)

Kedua pemeran utama dipanggil keluar ruangan, mereka mau foto pre-wed (ceremony). Epi dan saya ikutan para tamu lain untuk bersantap.

Saya (dan Epi juga) pikir, nggak bakalan makan banyak-banyak. Teorinya, makan itu satu lauk saja, Kalau ikan ya ikan, jangan dobel atau malah tripel, ikan sama daging sama ayam, misalnya. Tapi, kami khilaf T_T Makanan yang disediakan sungguh sungguh sangat enaaaaak :9 Tambo cie! Cie lagi, cie lagi. Lol. #khilafapakhilaf

Sorenya, Andaleh diguyur hujan. Ibu mertua Uni bergumam, “Kasihan ya yang lagi foto. Kehujanan nggak ya?”

Barang-barang saya dan Epi ada di kamar pengantin. Segan juga sih sebenarnya masuk ke situ. Tapi adat di Padang berbeda. Kamar pengantin itu fungsinya semacam display. Maksudnya, untuk memberi tahu kepada khalayak, “Ini yang dibawakan oleh keluarga laki-laki.” Pantas saja, kok setiap ada tamu, selalu hendak menengok kamar pengantin.

kamar pengantin

kamar pengantin

Kami tidur di kamar yang sebelumnya ditempati saudara-saudara Uni (Uda Jef, Rinal dan Iwan). Huaaa, kami ‘mengusir’ mereka secara nggak langsung. Maaf ya u.u

Karena sudah disediakan kamar sendiri, kami bisa ngobrol dengan leluasa. Senaaang. Tidak lupa penyerahan tanda cinta dari kami buat Uni.

dari h2o :)

dari h2o :)

Dari akhwat '09. Apasi isinya? :3

Dari akhwat ’09. Apasi isinya? :3

Camera 360

Malamnya, malam bainai (ber-inai), yakni memakaikan pacar di kuku dan punggung tangan pengantin wanita. Yang memakaikan Uni inai adalah sepupu yang jauh-jauh datang dari kepulauan Riau.

malam bainai

malam bainai

Uni lihat sini dooong :)

Uni lihat sini dooong :)

Epi menghasut saya lagi, ayo dong kita bikin goal kedua: Membuat Uni dan Mas Dirga ngobrol. Dasar saya gampang terhasut. Oke Epi. Siap!

Uninya dimanaaa, Mas Dirganya dimana. “Mas Dirga, sini dong ngobrol-ngobrol,” kata saya yang ada di dekat uni. Biar Mas Dirga mendekat maksudnya. Hahaha. Mas Dirga pun datang dan duduk di dekat Uni, melihat Uni yang lagi dipakaikan inai :D

Uni nggak akan mempan sama ledekan Epi dan saya. Kalau Mas Dirga, ya masih terpengaruhlah sedikit-sedikit :P Ada reaksi sedikiiit saja, Epi dan saya senang bukan main dan kepingin nambah godain aja. Yah, pokoknya gimana caranya supaya mereka ngobrol.

Hmmm, memang keadaan kurang mendukung untuk mereka ngobrol berdua. Sebab, ada saja yang “nempel”. Misalnya, Khayla yang lengket banget sama Uni :)

Meskipun di dekat Uni, Mas Dirga kerjanya menunduk terus. Sambil memainkan handphonenya. Saya berniat kirim foto-foto hasil jepretan tadi sore. Eh, nggak sengaja terlihat kalau wallpaper hp Mas Dirga sudah berganti jadi foto mereka berdua :3 Hahaha. Berarti Mas Dirga sudah mengunduhnya dari facebook. Saya senyum sendiri – lalu ngasih tau perihal ini ke Epi pastinya.

Pura-pura nggak tahu, saya kirim foto-foto hasil jepretan tadi sore ke Mas Dirga, apa komen beliau? “Aih, kalian ini beraninya maen keroyokan.” Yup. Epi dan saya benar-benar di atas angin. Sebab, Mas Dirga nggak ada kawannya XP

Sambil menunggu Uni dipakaikan inai, Epi dan saya turun ke lantai bawah.

Malam itu super sibuk. Para ibu-ibu (dan bapak-bapak juga loh! Bapak-bapak disini potensial ikut masterchef!) memasak di bawah. Sambil diiringi pertunjukan musik semalam suntuk, namanya saluang. Jadi, semacam lagu minang yang diiringi alat musik tiup gitu.

Saluang

Saluang

Epi dan saya ikut bantu-bantu para Ibu yang lagi membersihkan buncis sembari mengobrol. Kalau di tanah Minang, yang anak itu yang perempuan. (Jadi yang laki-laki ga dianggap anak gitu? Ya nggak gitu juga.) Kata Epi, “Uni kan materialistis ya Han?” Me: *ketawa* “Matrilineal, Epii.”

Yak, lanjut.

Nah, kalau anak perempuan yang menikah itu pestanya meriah. Terus juga, kalau di Payakumbuh, menikah di gedung itu masih tabu, sebab tradisi gotong-royongnya masih sangat kental. Para tetangga ramai-ramai membantu masak kalau ada yang baralek (pesta). Semisal, pesta diadakan di gedung, sangat mungkin tetangga tidak mau hadir –karena tidak merasa dilibatkan.

Ibu-ibu lagi bersihin buncis

Ibu-ibu lagi bersihin buncis

Hari menjelang malam –sekitar pukul sepuluh, dan kami diajak turun untuk makan. Apaaah? Makan lagi? T____T Sejak kedatangan kami, sudah dua kali kami makan. Diajak makan lagi? *pingsan* Disini begitu. Soal makan, sangatlah penting buat orang Minang.

Oya, tatacara makan begini: Para tetua laki-laki dahulu, berlanjut laki-laki dewasa, dan kemudian barulah yang perempuan –sekalian beres-beres. Saya bilang ke Laura, “Kalau gini sih, (perempuan kloter makan yang terakhir), kita jadinya dapat makanan banyak :9”

Epii makannya banyak bangeets :O

Epii makannya banyak bangeets :O

Besok paginya (26 Januari 2013), hari resepsi. Epi pulang tanggal 26 pukul enam sore. Namun Epi ingin terlebih dulu foto sama kedua mempelai. Gimana dong?

Kata Uni, Uni akan dirias di rumah bako (rumah bako itu rumah saudara perempuannya bapak). Oh, oke. Kita ikutan boleh dong? *ngarep* Iya, kata Uni boleh. Tapi dua mobil cuma cukup untuk dua keluarga.
Uni (lagi-lagi) ngurusin kita. “Yasudah nanti Septri carikan motor. Ada motor Uda Jef.” Yes, masalah terpecahkan.

Selesai salat Subuh berjamaah berdua –di Padang waktu subuh pukul setengah enam, Epi dengan sigapnya langsung menuju kamar mandi. Pokoknya pagi-pagi kita harus sudah siap (y). Habis Epi, saya langsung tuh mau mengecup kamar mandi juga. Tapi keduluan orang lain. Hahaha. Yah maklum, suasana ramai gini kan harus berebut XD

Pagi-pagi kami berdua sudah siap pakai kebaya. Orang-orang belum. Malu. Haha. Diajak turun untuk sarapan. Sarapannya nasi goreng. Kalau di Padang, sarapan nasi goreng itu lazim. Seperti nasi uduk saja.

Karena waktu masih lumayan pagi dan berangkat ke rumah bako pukul delapan nanti, Epi dan saya jalan-jalan dulu di sekitaran rumah Uni. Banyak sawahnya loooh. Epi yang nggak pernah lihat sawah bahagiaaaa banget. Foto-foto dulu disana :) Saya suruh dia ke tengah-tengah tapi Epi nggak mau karena takut jatuh. Repot lagi urusan. Eeeeh tiba-tiba ada anjing yang mendekat. “Epi ada anjing di belakangmu!” “Mana manaaa? Dimana?” si Epi berjalan cepat, nggak mau nengok ke belakang. Untunglah anjingnya berlalu. Fiuh.

Pas sampai rumah Uni, sudah pada bersiap mau ke rumah bako. Ekoooot! Epi dan saya naik motor Scoopy cokelat punya Uni (eh atau punya Uda Jef ya?).

Kata Epi, “Aku kira kamu nggak bisa naik motor, Han.” (Pemberitahuan ya sodara-sodara. Saya bisa naik motor loh, dengan syarat: 1) motor matic, 2) jalanannya nggak seramai dan se-ngebut Jakarta dan sekitarnya. #gubraks)

Jadilah, dua orang pakai kebaya ini naik motor berboncengan, mengekor mobil yang sudah berjalan terlebih dulu. Zwing~

Selain dua mobil tipe kijang, ada juga satu mobil colt yang diatasnya sudah ada sofa. Tujuannya sama, ke rumah bako. Buat apa sih?

Padahal loh ya, periasnya dari tempat Uni, baju dan segala peralatannya juga. Kenapa pakai acara ke rumah bako segala? Kan repot toh?

Ternyata, tujuannya untuk menjaga silaturahim dengan keluarga dari pihak bapak. Hmmm, gitu.

Sementara Uni dirias, Epi dan saya nungguin sambil merecoki. Epi coba pakai suntiang (hiasan kepala untuk pengantin perempuan khas Minang). Biar ketularan katannya. Uni lama juga diriasnya. Ngobrol lah kami dengan Ibunya Mas Dirga. Tanya-tanya tentang beasiswa AUSAid –Epi kepingin sekolah di Aussie—sambil melipir nanya-nanya tentang “proses”nya Mas Dirga. Hahaha :D

Ibunya Mas Dirga keren sekaleeeeh. Beliau mengurus segala sesuatunya –jadi Ibu itu repot yes. Beliau juga sudah selesai S3 loh *_* (daftar jadi fans). Dan satu lagi, penuh pertimbangan. Kata Ibu Mas Dirga, (kutipan ini kira-kira –maap ga bawa recorder) “Septri itu siapa? Kamu kenal dimana? Menyelami karakter seseorang itu bukan hal yang mudah.”

Tapi akhirnya beliau menyetujui, “Supaya (pernikahan) Mamas jadi contoh adik-adiknya. Pergaulan anak sekarang ngeri soalnya.” Waaaah :O Gitu ya ternyata pertimbangan seorang Ibu :’)

Ibunya Mas Dirga dan Khayla :)

Ibunya Mas Dirga dan Khayla :)

Ngomong-ngomong, lapar juga ya. Di Padang jadi kebiasaan makan banyak. Itu ada karamel, jeruk, dan pisang. Tadi sih kami diajak makan. Tapi tadi pas diajakin nggak lapar. Sekarang … lapaar pake banget!

Mojok dulu, makan pisang :-9

Mojok dulu, makan pisang :-9

Uni selesai dirias! :O Cantiiiiiik :3 *Suntiangnya berat un?

Uniii

Uniii

foto teruuus :)

foto teruuus :)

Sekarang giliran Mas Dirga yang dirias. Mas Dirga berwudhu dulu. Terus kata mbak-mbaknya “Itu yang merah di gantungan dipakai buat handuk.” Apaan yang merah?

Loh kok bukan handuk? Kok jaket? Hanifah yang pernah budnus kelompok Minang dengan pedenya bilang: “Itu looh Mas Dirga, pakai itu. Masa nggak inget budnus sih?”

Sipks. Mas Dirga pakai.

Ternyata
….

Salah
….

Itu adalah jaket biasa.

Orang yang ada di kamar itu tertawa.
T______________________T

Mas Dirga nyeletuk, “Ipeh nih sok tau.”

Hahahaha *tertawa kering*

Maaf ya Mas Dirga. Kenapa sih Hanifah ini sok tau banget _——–_

Dan dari dulu sering sekali nyusahin Mas Dirga. Maaf ya T______________________T

Habis, kalau budnus yang prianya cuma pakai kemeja dan jas merah loh. Serius. #pembelaan

(Tapi kan ini pernikahan Hanifah, bukannya mau tampil budnus. zzz.)

Aku dimaafin kan Mas Dirga? Ya kan kan kan?

(Mas Dirga: “Iya Ipeh, dimaafin kok.” >> percakapan imajinatif Ipeh )

tragedi jasmerah -kata Masdir

tragedi jasmerah -kata Masdir

Oke. Mas Dirga didandani juga. Kata Mbak perias: “Pakai lipstik ya?” | Mas Dirga: “Hmmm, sedikit aja ya tapi.” *rofl*

Mas Dirga. Azeeeek

Mas Dirga. Azeeeek

Khayla manja sekali sama Mas Didi

Khayla manja sekali sama Mas Didi

Uni dan Mas Dirga siap. Yak, foto dulu dooong sama kita :3

Alhamdulillaah. Foto sama kedua mempelai + Khayla :)

Alhamdulillaah. Foto sama kedua mempelai + Khayla :)

Ternyata inilah kegunaan mobil colt + sofa tadi. Buat arak-arakan sodara-sodara. Iya, saya ulangi, arak-arakan! Jadi dari rumah bako, diarak (pakai mobil –tempatnya jauh sih) sampai ke pertigaan dekat balai desa kemudian diarak lagi (dengan berjalan) sampai ke pelaminan.

Waaaaah :O

Uni dan Mas Dirga naik colt

Uni dan Mas Dirga naik colt

Sudah pukul sebelas. Epi mau berangkat ke bandara pukul dua belas.

Saya bisik-bisik ke Epi. “Epiii, ikutan naik yuk.” Ternyata terdengar oleh mertua Uni. “Naik aja… naik aja…,” kata beliau berdua dengan ramahnya. Huaaa mauuu (dalam hati). Saya bimbang, mau ikut naik nggak yah. Kata Epi, “Mereka nggak nungguin kamu, Hanifah.” Oke, saya naik. Hap.

“Ayo Epiii naik jugaa,” pinta saya. Meminta-minta. Memelas. Banget.

“Nggak keburu, Han,” kata Epi.

(Disinilah perpisahan saya dengan Epi. Perpisahan yang jelek sekali. Mau musuhan dulu tiga hari rencananya. Tapi gabisa. Hahahahah u.u )

Ikutan naik colt

Ikutan naik colt

Kurang melas apalagi coba? Tapi tetp aja ditinggalin Epi -___-

Kurang melas apalagi coba? Tapi tetp aja ditinggalin Epi -___-

Hahahaha –_______– Jadilah, yang naik di mobil colt ini; kedua pengantin, orang yang memayungi Uni, adik-adik kecil dayang-dayang, para pemain musik talempong ….. dan saya. *lemes*

pemain talempong

pemain talempong

Gaji buta amat sih gueeeeeh naik colt ini. Iya mending juga kalo saya ada kerjanya. Mayungin Uni kek, apaan kek. Manapula space untuk duduk sempit sekali. (Yaiyalaah itu kan pasnya buat adik kecil. Lah elu? #selftoyor)

Alhamdulillah (?)nya, di jalan si adik dayang-dayang (sebut saja adik 1) hiasan kepalanya tersangkut ke adik dayang-dayang lain (sebut saja adik 2). Mereka minta tolong benerin ke kakak ini. Yeah, ada kerjaan. *apacoba*

Sementara di dunia lain, eh, di atas sofa, Mas Dirga sedang membuka obrolan dengan Uni. Yeaah, first move! Bagooos! Lanjutkeun Mas Dirgaa! Tapi ya, kalau saya lihatin pas mereka ngobrol. Merekanya berhenti. Haish -..-

Mas Dirga ngobrol sama Uni

Mas Dirga ngobrol sama Uni

Adik 1 manggil saya lagi. Kenapa adeeek? Nyangkut lagi hiasan kepalanya. Oke sini kakak benerin yah :3

Saya foto-fotoin pemain talempong, kedua pengantin, sambil lihat-lihat perjalanan. *Dalam hati; Ini pertama dan terakhir lah saya ikutan arak-arakan naik colt :”*

Adik 1 nowel saya. Apaaaaah? Hiasan kepalanya kesangkut lagi deeek? *gemes*

Sampai di pertigaan yang dimaksud, arak-arakan sambil berjalan dimulai. Diiringi tabuhan musik talempong. Makin mendekat ke rumah Uni, iramanya semakin bersemangat.

Uni dan Mas Dirga berjalan beriringan sambil dipayungi. Langkah kaki mereka berdua seirama. Kanan-kiri, kanan-kiri. Lomba PBB Mas? :3

Berjalan beriringan, bahkan langkahnya seirama. Lomba PBB? :))

Berjalan beriringan, bahkan langkahnya seirama. Lomba PBB? :))

Sampai di tempat Uni.

Orang tua Uni dan orangtua Mas Dirga dengan segera mengambil tempat di pintu masuk tenda. Bersegera menyambut para tamu yang datang.

Selamat dataang!

Selamat dataang!

Saya, sudah dijemput Ummi Defi –hendak silaturahim ke tempat beliau.

Tapi sebelumnya, sempat foto terlebih dulu dengan kedua mempelai di pelaminan :D

Jazakumullah khairal jazaa’ atas kebaikan dan sambutan yang hangat dari keluarga besar Uni dan Mas Dirga. Semoga selalu dirahmati Allah. Aamiin.

Jazakumullah khairal jazaa' atas kebaikannya :')

Jazakumullah khairal jazaa’ atas kebaikannya :’)

Sekian cerita utama saya dari CatPer ini. Yang paling penting adalah bagian (4/5) –terutama bagian Uni dan Mas Dirga, kalau ada kisah Epi dan saya. Itu hanyalah figuran belaka.

Terimakasih sudah membaca.

Wassalamualaikum warahmatullah.

*dadah-dadah ke pemirsah*

P.S. Dengan ini, hutang tulisan saya ke Mas Dirga dianggap LUNAS! *prok-prok* Alhamdulillah :)

Mau lihat kisah ini dalam bentuk lainnya?
Cek:
1. CatPer Padang versi Refita
2. Behind The Scene versi Refita

Iklan

5 thoughts on “Catper: Tujuan Utama (4/5 part 2)

  1. ndak cuma ibunya aja yang S3, abinya mas dirga juga. tapi udah pensiun

    dulu pas maen ke rumah mas dirga, khayla emang manja banget sama mas dirga
    terus beberapa bagian rumah lagi di renovasi
    jangan2 untuk mempersiapkan ini kali ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s