Catper: Misi Kenegaraan Bonus Jalan-jalan (5/5 – part1)

Selesai dari resepsi Uni, saya melanjutkan perjalanan ke rumah Ummi Defi. Kebetulan, Nadia (putri Ummi Defi) adalah kawan baik Septri. Jadi, Ummi Defi hadir di acara resepsi Uni. Sekitar pukul 12, bersama beliau saya mohon diri dari acaranya Uni. Kata beliau, “Hanifah sudah kelihatan nggak tenang karena temennya (baca: Epi) sudah pulang.” Haha. Sepertinya terlihat jelas di raut muka saya ya …

Sebelum sampai ke rumah, kami menjemput Bang Mad (Muhammad) dulu di sekolahnya. Bang Mad laki-laki tapi sangat talkative. Mungkin pengaruh keempat kakaknya yang kesemuanya perempuan. Di jalan ada saja dia cerita, “Kakak nanti kita melewati jalan yang rasanya sepeti terbang”, “Kakak jangan kaget ya lihat rumah kami, depannya sih warna putih tapi dalamnya warna-warni”, “kakak…” “kakak….” Mungkin efek kangen sama kak Nadia dan Kak Faizah yang merantau kuliah di Medan  Di jalan, sempat dibelikan banyaaak oleh-oleh makanan khas Sumbar. Hampir semuanya terbuat dari ketela. Kata Ummi, “Disini ketela bisa jadi apa saja.” Di dalam mobil, sebungkus keripik singkong tipis rasa keju hampir tandas :-9

Rumah Ummi Defi keren sekali. Seolah berdiri sendiri di tengah sawah. Jarak dari para tetangga cukup jauh. Di depan ada pohon jeruk, pohon cokelat, dan bermacam bunga-bungaan. Di samping kanan rumah ada bangunan terbuat dari kayu –katanya itu buat kandang ayam. Di samping kiri rumah ada kolam ikan. Di belakang rumah terhampar sawah, dan terlihat pula perbukitan. *fyi, Padang itu bentuknya hampir seperti mangkuk. Mudah untuk menjumpai perbukitan/tebing/gunung. Dan setiap kali jalan, hampir selalu terkagum-kagum karena keindahan alam di sepanjang jalan nggak habis-habis.

Beristirahat sejenak di tempat Ummi Defi, lalu sekitar pukul lima sore, datang dua anak perempuan ABG tanggung: Fatinah Faradise (Titin) dan Rafiqa (Fika). Kedatangan mereka berdua membuat suasana jadi ramai. Fika langsung cerita tentang tanding futsal tadi (dia jadi panitia), Titin cerita kalau beberapa buku di kamarnya adalah hadiah dari Pak Dahlan Iskan. Titin menang lomba fotografi tingkat nasional bertajuk “Sepatu Dahlan” loh 

***

Di Situjuh, Payakumbuh. Malam-malam. Terdengar suara hujan di luar. Damai sekali. Menyaksikan keakraban kakak-adik ini, keinginan untuk punya saudara perempuan muncul kembali. Memang sejak dulu sering terbersit, “Enak ya kalau punya saudara perempuan …”

Dari sinilah, dari hasil menjual kerudung bordir khas Padang, kami bisa bersekolah di Kuningan. Alhamdulillah. Semoga tercatat sebagai amal kebaikan mereka ya Allah.

Ah ya, Ummi Defi bilang supaya lekas tidur. Besok kita mau jalan-jalan :)

***

Esoknya, pagi-pagi kami sudah bersiap. Melewati Payakumbuh Cyber Park. Sarapan apa kitaa? NASI PADANG! Pagi-pagi makan nasi Padang? Iyalah kita kan di Padang :’) Pukul setengah tujuh dan mengisi perut di Warung Nasi Jay dengan ayam bakar- sambal hijau dan sup daging. Padang ini keren-keren serem ya? Tapi enaaaak :-9

Sudah dipesenin es teh sama Ummi Defi. Pernah dengar, kalau kandungan teh akan menyerap protein di tubuh kita. Tapi berhubung sudah dipesenin, lanjutkan! *seruput teh manis hangat*

Pagi-pagi sudah makan berat. Tapi senang. Oya, disini ya beneran sayurnya cuma sayur singkong itu aja nggak ada yang lain.

Pertama, menuju Lembah Harau. Pas mau masuk diminta 15ribu per orangnya (katanya, untuk pembangunan), tapi kemudian dinego sama Abi Zul –duh lupa jadi berapa tapi jadi jauh lebih murah. Titin misuh-misu, sebel sebab kemarin dia kesini bersama temannya dan dikenai tiket masuk lebih mahal. “Titin muka orang kaya sih, jadinya kena lebih mahal,” canda kami.

Mulai masuk ke Harau. Speechless. Pujian pada Allah nggak berhenti. Benar-benar Cuma Tuhan yang bisa bikin landscape seperti ini. Sepanjang perjalanan, di kanan-kiri persawahan menghampar, dinding tebing kokoh berdiri. Mobil melaju di jalanan aspal yang terbentang di tengah-tengahnya. Kemudian mulai memasuki daerah Harau, sedikit kelok-kelok hingga sampai di air terjun. masyaAllah. Sebelum air terjun, ada toko-toko yang menjual tanaman paku, anggrek, dan segala macam lainnya. Tempatnya indah. Ada juga semacam hutan kecil. Ada air terjun yang dibawahnya terdapat kolam jernih. Ada batu yang menghijau karena ditumbuhi lumut. Cuma satu kata: masyaAllah.

Kata Titin sih ada air terjun pertama, kedua, ketiga, sampai lebiih dari sepuluh. Ada jembatannya pula. Sayang, belum sempat kesana.

Foto sana-sini bersama adik-adik. Di bawah batu-batu berlumut. Di dekat air terjun. Di atas batu di tengah-tengah kolam. Pokoknya segala pose nggak terlewat. Oh ya, paling banyak adalah pose dengan jari menunjukkan jumlah “tiga”. Kata Ummi Defi, kita sekarang sudah “nomor tiga” jadi kalau ‘bergaya’ pun disesuaikan. #terselubungsekali :))

Sempat juga ke lembah Echo. Jadi kalau kita berteriak di tebing ini, akan bergema dan terdengar sampai jauh. Abi Zul teriak suaranya baguuuuus. Beda sama kami –tiga cewek bersuara cempreng ;’) Kami teriak “Umiiiii~” Kalau lagi kondisi frustrasi dan kepingin marah-marah cocoklah datang ke lembah Echo. Bisa teriak sepuasnya. Hihihi.

20130127_093556

Waktu kami nggak banyak. Harus segera melanjutkan perjalanan. Ummi Defi beli buah kecil-kecil namanya sajantiak –rasanya asam. Tujuan selanjutnya adalah Bukit Ngalau. Dari atas sana, terlihat pemandangan kota Payakumbuh. Namun, untuk tiba di puncak, kami memilih untuk mendaki. Kebetulan Abi Zul ada rapat sehingga kami di-drop dan nanti dijemput lagi sekitar pukul dua.

Yeeaaah. Ngalau: Area Bebas Galau. Sudah lama nggak berlelah-lelah naik bukit seperti ini. Di sepanjang jalan penuh obrolan dan canda. Dengan Fika dan Titin, meski baru bertemu, rasanya sudah seperti saudara sendiri.

Sesampainya di puncak kami istirahat dulu. Lumayan capek ternyata. (Apalagi buat yang jarang olahraga seperti saya #ups). Yak, kami siap masuk ke dalam goa! *Jadi ceritanya di puncak Ngalau, ada goa –yang di dalamnya ada batu kelambunya.

Sebelum kami masuk, ada titipan dulu. Seorang Ibu berpesan ke dua anaknya. Kata beliau, “Ikut kakak ya!” Wah, kami punya dua pentul korek untuk dijagain :D kakaknya perempuan, –duh lupa namanya—memakai headphone di telinga. Gaul sekali penampilannya. Si adik laki-laki, masih kecil dan jiwa petualang lagi tinggi-tingginya. Salutnya, mereka berdua berani masuk ke goa yang gelap itu. Padahal Titin saja sudah maju-mundur mau menyusuri goa. #upsbukakartu :P

Di mulut goa cukup terang, lalu semakin dalam dan semakin gelap. Udara pun semakin pengap dan tercium bau khas –bau kelelawar. Kami satu per satu menuruni anak tangga dengan hati-hati. Mulai ada penerangan. Goa ini sudah dikelola ternyata, sudah disediakan trek serta lampu penerangan. Di dalam goa ada “batu kelambu”, kalau kata saya sih Demi keamanan, kami menjaga di bagian depan dan belakang. Kakak-adik ini di tengah-tengah.

Kami sempat tersasar, keluar ke mulut goa yang lain tetapi bukan jalur umum. Kalau kami terus menyusuri jalur tersebut, selanjutnya kami akan keluar di area hutan. Tahu begitu, langsung saja kami berbalik arah. Dengan dua anak titipan ini, mana mungkin kami ambil risiko.

Keluar dari goa, kami mengantar kedua anak itu dulu kepada induknya. Kemudian kami duduk-duduk di tempat istirahat sembari meluruskan kaki dan melepas dahaga. Adik itu –si Kakak, yang berkerudung merah dengan headphone—mendekat ke arah kami. Lho? “Kak, minta PIN BB,” katanya. Yaampun anak sekarang ;) mintanya pin. Jadi dua adik tadi asalnya dari Pekanbaru. Si kakak masih kelas 5 SD. Berhubung akhir pekan, mereka berlibur ke Padang.

Goa Ngalau Indah - Payakumbuh Indonesia

Goa-Ngalau-Indah-Payakumbuh

*gambar dari sini, sini dan sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s