Selamat Jalan, Mas Medy

Perawakannya tinggi besar, warna kulitnya hitam manis. Ah, dan jangan lupakan senyumnya yang tidak kalah manis!

Saya selalu mengingatnya sebagai senior yang sangat baik hati. Ngayomi. Membuat saya (kami) merasa diterima di sepetak rumah kontrakan yang kami sebut bengkel.

Bengkel adalah cara kami menyebut markas Media Center. Awaknya punya panggilan khusus: mabeng (makhluk bengkel) –atau bahasa “unyu”-nya sekarang, bengsky.

Dia adalah “penghuni” bengkel. Orang yang mau menjaga markas –dengan kata lain: rela diketuk pintunya meski sedang asik tidur, mau menunggu kami semua pulang sehabis rapat redaksi (yang seringkali sampai larut dan meninggalkan banyak sampah), memperbolehkan wilayahnya diinvasi sama kami (kalau salat sering di kamarnya), mau beresin bengkel …

Karena ada dia, tiap lewat bengkel, daun pintu hampir selalu terbuka. Hampir setiap hari ada mabeng yang mengunjungi bengkel, bukan hanya saat ada rapat redaksi atau origami.

Saya selalu ingat senyumnya. Dan satu lagi yang sangat mengesankan,

Rapat redaksi dibatasi hingga pukul sepuluh malam. Kadang waktunya nambah-nambah antara sepuluh hingga tiga puluh menit kemudian. Pukul segitu terhitung cukup larut. Peraturannya, mesti ada mabeng laki-laki yang mengantar mabeng perempuan demi alasan keamanan. (Fyi, ada juga mabeng perempuan yang nggak merasa perlu diantar karena jalanan masih ramai.)

Dia termasuk yang keukeuh untuk nganterin. Meskipun sudah dibilang, “Nggak perlu, Mas.” Suatu malam saya dan Sicchi hendak pulang dari bengkel. Katanya, “Ayo, diantar.” Saya dan Sicchi merasa aman-aman saja pulang berdua. Lagipula, kami tidak mau dibonceng dengan sepeda motor.

Apa yang dia lakukan?

Dia duduk diatas jok sepeda motor, sambil menjalankan motor dengan bantuan kedua kakinya. Seperti menjalankan motor di antrean pom bensin. See? Dilakukannya supaya bisa mengimbangi kecepatan saya dan Sicchi yang berjalan kaki. Begitu terus sampai tiba di depan gang kosan Sicchi. Dilanjutkan dengan mengiringi saya di belakang hingga tiba di gerbang kosan.

Sebegitunya karena mau mengantar kami.

Sudah tiba di gerbang Sister Fillah, saya bilang, “Makasih, Mas!”

“Ya, sama-sama …” balasnya. Ringan.

Sekali lagi, terimakasih banyak atas segala kebaikan selama ini, Mas Nur Ahmadi (mabeng angkatan #11).

Selamat Jalan.

mas Medy #11 (kiri belakang, tangan di pinggang) bersama anak magang #13

mas Medy #11 (kiri belakang, tangan di pinggang) bersama anak magang #13

Mas Medy, kanan bawah --bersama Tim Danus Panitia Daftar Ulang 2011

Mas Medy, kanan bawah –bersama Tim Danus Panitia Daftar Ulang 2011

Langit mendung pagi ini.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihii wa’ fu’anhu

nothing but amusement

Catatan:

*dapat jarkom dengan tanggal 20 April, yang mengabarkan kalau beliau sedang koma, dirawat di RS Bengkulu.

**kembali mendapat jarkom, tanggal 22 April, dengan redaksi “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, Mas Nur Ahmadi telah kembali ke sisi-Nya subuh tadi. Mohon doakan supaya Mas Medy mendapat tempat yang lebih baik, serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Terimakasih.”

Iklan

2 thoughts on “Selamat Jalan, Mas Medy

  1. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihii wa’ fu’anhu…
    Ikutan sedih banget walaupun cuma ketemu sekali dua.
    Dan baca cerita ini, jadi kangen sama suasana bengkel yang dulu, yang rame, yang ada penunggunya. Suasana pas masih diemong sama mabeng senior.

    Sekarang ketemu cuma tiap hari Jumat, udah gitu pas yang dateng cuma sepuluh, “Kok yang dateng dikit banget?” | “Ini udah lebih dari setengah”.

    Oya, sekarang perempuan-perempuan di bengkel menyebut dirinya sebagai wanita Batak lho Kak, sementara para akhi leha-leha di lapo tuak, para ukhti ngeloper berdus-dus majalah :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s