Hakim Seadil-adilnya

Kita memulai hidup dari titik yang berbeda.

Soal kita semua lahir dalam keadaan fitrah, ya saya percaya.
Yang saya maksud disini, soal sosial. Latar belakang. Pendidikan, Lingkungan, Etnis, dll (daftar ini bisa ditambahkan sendiri).

Saya pernah dengar cerita dari seorang teman, namanya A. Ayahnya – muslim sejak lahir, Ibunya Ibu rumah tangga – memeluk Islam ketika menikah dengan Ayahnya A. Jika lebaran, A merayakan. Natal datang, A turut senang.

Ibu A masih sering melakukan kebiasaan berdoa di pinggir ranjang sebelum tidur, dengan khusyu – merekatkan kedua telapak tangan, mendekatkannya ke dada, dengan mata terpejam.

A mulai menyadari kalau ada yang salah dengan caranya beribadah sejak teman-teman mainnya bilang “Ih, kok kamu cara salatnya aneh sih?” Mulailah ia belajar Islam.

Saat cerita, A sudah 5 tahun pakai kerudung. Katanya, kerudung bukanlah hal yang mudah diterima di keluarganya.

Saya selalu menduga-duga. Mungkin “poin pahala” A lebih besar daripada orang yang memakai kerudung karena suruhan orangtua sejak kecil.

Kalau begitu, orang yang memulai tidak dari titik nol tapi “perjalanan kebaikan”nya tertinggal jauh. Rugi sekali?

Karena itu juga, “adil harus sejak dalam pikiran”. Sebab kita semua berproses -dan treatment untuk tiap orangnya tidaklah sama.

Alangkah hebat, kelak akan ada perhitungan super cepat dan super akurat. Betapa banyak variabel terkait -terutama soal latar belakang. Semuanya hingga yang terkecil diperhitungkan.

———————–

updated 11 Agustus ’13:

Ada kisah budak Rasulullah yang telah banyak berjuang tp kedapatan mencuri harta ghanimah sehingga tempatnya di neraka. Sementara banyak waktu Ia habiskan bersama Rasulullah.

Adapula org majusi mantan budak yang baru saja masuk Islam. Penggembala. Gembalaannya ia suruh pulang ke tempat majikannya. Ia maju ke medan perang dan mati terbunuh. Masuk surga. Padahal ia belum pernah salat sama sekali.

Maksud cerita: si budak Rasul berlaku khianat sementara si Majusi berlaku amanah.

Tapi boleh juga diartikan: Tempat kita kelak ditentukan oleh akhir hayat kita. Apakah husnul khatimah atau sebaliknya.

Kalau gitu soal “latar belakang” (misal: anak siapa) nggak terlalu pengaruh dong? Karena sayyidah Fatimah saja nggak bisa ditolong sama Rasul. Berarti di akhirat kita akan dihisab sendiri-sendiri.

Tapi juga, anak bisa “minta pertanggungjawaban” orangtua. Ortu yang tadinya di surga bisa terseret ke neraka karena protes anaknya. “YaAllah, sesungguhnya mereka sibuk dengan amalan mereka sendiri sehingga lupa pada kami.” Di ayat Qur’an, penghuni neraka saling laknat.

——

Kalau gitu masuk syurga bukan karena ibadah, melainkan karena rahmat Allah.

Jadi latar belakang tadi nggak jadi pengaruh dong dalam yaumil hisab?

-,-

euy lieur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s