Menjemput Sekolah Impian: SAI Move On !

"Bekicot aja punya rumah sendiri ...."

“Bekicot aja punya rumah sendiri ….”

Ceritanya saya bukan komunitas -murid, orangtua murid, guru- SAI (Sekolah Alam Indonesia) hehe. Namun, kebetulan saya sudah beberapa kali ke sana (bisa dihitung pakai jari di satu tangan sih).

Daaaan, senang dengan suasananya.

Ada kontainer kosong, empang, saung, rumah pohon, rumah panggung, macam-macam pokoknya.

Pertama kali kesana, *tring* langsung berpikiran, “Duh kepingin esempe lagi.” Hahaha. Karena nggak mungkin, pikirannya diubah jadi, “Kalau punya anak nanti, akan disekolahkan di tempat dengan konsep seperti ini.”

Masalahnya adalah, lahan SAI sekarang di Ciganjur nggak diperpanjang masa sewanya sama pemilik tanah. Padahal sudah 13 tahun SAI berdiri di sini –untuk kali kedua sekolah alam ini “terusir”. (Hal serupa pernah terjadi di lahan yang lama. Pemilik tanah meninggal, mewariskan tanah tersebut ke ahli waris. Melihat perkembangan SAI, ingin juga mendirikan sekolah di lokasi tsb. Terusir-lah SAI.)

Enggan “terusir” lagi, Pihak sekolah dan orangtua murid bahu-membahu mengumpulkan dana untuk mewujudkan “rumah baru”. Ya, lahan milik sendiri!

"Kompeni aja punya gedong ...."

Ini baazar terakhir di lahan Ciganjur, sebelum ‘move on‘ ke Cipedak. Yang berjualan komunitas SAI (orangtua, murid, guru [?]). Menyumbangkan keahlian masing-masing. Ada yang jago desain, buat banner, poster, pin, gantungan kunci, stiker –berbagai macam merchandise. Ada juga yang jual handicraft, baju, jual makanan. Kebanyakan beslogan, “100% keuntungan untuk SAI!” Ada juga yang menyumbang 50% keuntungan. Bahkan, ada yang sekaligus modalnya! Sinergi yang luar biasa. Sense of belonging sangat terasa. Psst, ada orangtua siswa yang menyumbang kelas Octopusi (desain berbentuk gurita) senilai Rp400 juta!

Suasana baazar

Suasana baazar

100% keuntungan untuk SAI

100% keuntungan untuk SAI

Jaga stand merchandise

Jaga stand merchandise

Anak-anak kecil kesana kemari memegang keranjang atau baki berisi barang jualan. Pssst, karena area becek, mayoritas bersepatu bot. Unyu maksimal :3

Pukul 15, mulai ada pentas dari murid-murid. Mulai dari testimoni alumni, persembahan lagu dari kelas 2, penampilan drum dari siswi kelas 7, paduan suara siswa kelas 9 -menggubah lirik lagu Changcuter jadi tema move on.

Lagu-lagu lain yang dinyanyikan rata-rata adalah karya dari para guru, orangtua, atau gubahan murid sendiri.

Pentasnya bukan diatas panggung biasa, tapi di atas ‘panggung truk’ -didukung sound yang jernih. Kece berat adik-adik!

Panggung Truk

Panggung Truk

Para penonton berkerumun

Para penonton berkerumun

wpid-20131116_161350.jpg

Acara berakhir pukul 19. Ditutup dengan menonton video bersama macam “layar tancap”. Sambutan dan doa. Saat sambutan, di sekeliling penonton sudah ada orang-orang yang membawa obor membentuk lingkaran. “Untuk membangun SAI, kita butuh banyak cahaya!”, kata pembicara. Kemudian, “bruummmm”, truk dinyalakan, sebagai simbol kalau siap SAI siap ‘move on‘ ke Kampus baru =)

Obor. Lebih banyak cahaya.

Obor. Lebih banyak cahaya.

20131116_161438[1]
P.S. Kalau soal hafalan Qur’an, saya nggak sempat nanya-nanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s