Sungguh Berat

Pernah bilang: “Uhibbuka(ki) fillah (arti: Aku mencintaimu karena Allah)?

Artinya, cinta kita padanya itu dilandasi cinta pada Allah. Titik.

Pernah? :)

Bu Olfah pernah cerita, memiliki suatu kelompok binaan yang –masyaAllah persaudaraan di dalamnya sangat kental. Dari luar terlihat harmonis, satu sama lain saling mendukung. Namun, saat ada evaluasi, tiap-tiap orang mengaku bahwa minimal satu orang dari anggota kelompok tersebut pernah menyakiti hatinya! Kelompok itu pun menangis, saling memohon maaf serta memaafkan. Daaan kabarnya, meski telah berganti murabbiyah, kelompok tersebut semakin solid :)

Kadang, sadar maupun tidak, bentuk interaksi kita dengan orang lain adalah hubungan timbal-balik.

Kita baik sama dia karena dia baik pada kita, vice versa. Kalau nanti dia tiba-tiba gak baik lagi, gak ramah lagi, gimana dong? Apakah perasaan dan sikap kita terhadapnya berubah?

Inilah bedanya dengan ‘apapun’ yang karena Allah.

Terserah deh dia mau nggak baik lagi, mau jutek, mau fitnah, bla bla blah.
Kalau sudah karena Allah, itu semua nggak ada pengaruhnya sama sekali.

Begitu juga sama suami, kita ta’zhiim (hormat, memuliakan) kenapa? Apa karena suami kita salih, ganteng, baik sama keluarga, murah hati dkk?
(ehm :D, teringat seseorang)

Atau karena Allah?

Iklan

2 thoughts on “Sungguh Berat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s