Jodoh Aa Qudwah

jodoh. aa dan kak nad

“Haah? sama siapa mi?”

saya berseru saat menerima telfon dari Ummi di lorong kantor. Bila pagi dan tak ada jadwal rapat/pengajian, lorong tersebut memang biasa sepi.

Busyra (kabar gembira) itu datang di akhir April, keadaan saya saat itu, seseorang berusia 20 awal, telah dilamar seseorang beberapa bulan sebelumnya dan rencana resepsi digelar 18 Agustus.

Sebagai anak ketiga dari empat; afdalnya bertanya pendapat para tetua (Aa dan Kakak). Ummi yang melancarkan pertanyaan ini -saat itu mereka belum tahu kalau sudah ada yang datang melamar- : “Kalau Hanifah menikah, bagaimana?”

Jawaban kakak: “Nifah itu masih kecil, Mi. Tapi kalau dianya mau ya nggak papa.” Lain hal dengan respon Aa yang lebih emosional: “Hah? Nggak! Aa dulu, Aa dulu!” Kalau jawaban Adik jujur saya lupa. Hahaha, Maaf ya Mud, jatah kamu kan memang habis Teteh :P

Jadilah, ternyata Ummi punya kabar mengejutkan pagi itu. Bukan hanya saya, melainkan juga Aa, akan menikah! >.<

Luar biasa, bahkan sama anak sendiri si emak nggak ada kasih kabar-kabari. Langsung kasih kabar. Benar-benar penganut aliran "Rahasiakan khitbah, umumkan walimah” :)

Jadi, siapakah calonnya si Aa?

*jreng jreng*

***

Sejak Sekolah Dasar, Ummi bisnis kerudung bordir Padang. Supplier-nya asli orang Payakumbuh. Jadi, Ummi dapat dari tangan pertama. (Kelak saya akan mengetahui bahwa sebenarnya yang pertama kali mengenalkan adalah Ummi Dima’ tapi Ummi terus-terusan minta diskon :D sampai akhirnya Ummi Dima’ luluh juga hatinya dengan menunjukkan “Langsung aja deh ke Big Boss a.k.a Ummi Desfi.)

Biasanya Ummi mendapat pesanan -pesanannya sampai luar kota dan luar pulau lho :) Kemudian Ummi telfon ke Padang, minta kiriman. Nelfonnya malam-malam karena di atas pukul sepuluh lah saatnya tarif Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) murah. Tak lama setelah pemesanan, barang dikirim dengan Bus Gumarang. Bila ditelfon bahwa paket sudah tiba, Abi segera berangkat dengan motor Astrea-nya. Dilengkapi dengan tali karet limbah ban untuk mengikat barang di jok belakang motor. Paket yang diambil biasanya satu atau dua karung besar berisi kerudung bordir Padang dengan segala macam warna, ukuran, dan bordir yang cantik-cantik. Kalau paketnya hanya satu, Abi cukup sekali jalan. Tapi kalau paketnya dua, Abi bolak-balik.

Sampai di rumah, karung segera dibongkar. Untuk sortir, Ummi mengerahkan anak-anaknya (minus Aa karena dia di pesantren). Dikelompokkan berdasarkan ukuran dan warna. Apakah S, M, L, atau XL. Jika ada perkecualian ukuran, misalnya XS dan XXL, atau ukuran yang “spesial” (custom), hal tersebut tercatat di nota. Bila sudah beres dan tidak ada perbedaan pencatatan, barulah kerudung-kerudung tersebut disusun di etalase kaca. Pokoknya bisnis kerudung bordir Padang saat itu berada pada masa jaya-jayanya -sebelum tergusur oleh kerudung instan Rabbani dan kerudung Paris. Bisnis kerudung inilah –usaha kerjasama antar Ummi dan Abi: Ummi pesan Abi ambil, Ummi dapat pesanan Abi antar dst — yang mengantarkan anak-anak Ummi sekolah di Kuningan.

Nah, ceritanya dua Ibu ini dulu suka bercanda “Kita jodohin anak kita yuk?” Lah anaknya masih pada SD ._.

Waktu berlalu. Saat sudah tidak ada ikatan bisnis lagi, frekuensi telfon otomatis berkurang. Sesekali saling bertanya kabar. Sampai Januari lalu, ketika saya ke Padang untuk menghadiri pernikahan sahabat baik, saya diajak pula untuk bersilaturahmi ke rumah Ummi Desfi. Kata Ummi Desfi, saya semacam “lost” gitu karena ditinggal temannya –Refi. Huehehe –‘

Sebenarnya rencana Ummi Desfi masih banyak: mau ngajak saya kesana dan kesitu. Tapi berdasarkan rencana, saya akan segera pulang. Jadilah, diatar ba’da Maghrib oleh Ayah Didi ke Bukittinggi. Sampai di Birugo (rumah Ammi Aan) cukup malam. Jazakumullah khair Ayah Didi dan keluarga!

Nyatanya, saya di Padang masih lama. Hehe. Statusnya masih libur sih Jadilah dikompor-kompori Ammi Aan dan Ammah Ika: “Disini aja dulu, Teh.” (terimakasih yes, peraturan yang bikin kami nganggur 1 tahun. It was blessing in disguise.) :)

Selang seminggu kemudian barulah saya pulang. Status saya sudah jauh melebihi tiga hari, bukan tamu lagi ceritanya :’ Terimakasih Ammi Aan dan Ammah Ika! Plus Uwak, Abang Gaza dan Ayyash.

Cerita ini baru saya ketahui setelah lama kejadian. Ummi Desfi menelfon, menanyakan kabar saya. “Kok sejak pulang dari rumah Payakumbuh, Hanifah nggak ada kabar lagi?” Jawab Ummi, “Hanifah itu lama juga di Padang!” Obrolan berlanjut, bla bla bla <insert some Ibu-ibu talk here> hingga …. topik itu muncul lagi: “Gimana kalau kita jodohin anak kita?

Ealaah Ibu-ibu bisa aje :))

Ummi segera menangkap umpan tersebut, “Jodohin jodohin. Mana dulu dong foto anaknya?” Ummi Desfi mengirimkan gambar putri tertuanya yang sedang tersenyum memangku adik laki-lakinya –dikirim tanpa sepengetahuan si empunya foto.

*dan darisinilah semua bermula*

Waktu itu awal Februari. Ummi mengirim foto tersebut kepada Aa Qudwah, “Aa, kalau nikah sama Nadya, gimana menurut Aa?”
Kata Aa, “Hmmm, Aa pikir-pikir dulu ya Mi.”

Sebulan, dua bulan, belum ada jawaban dari Aa.

Wah, alamat nggak jadi nih -mungkin begitu sangkaan Ummi.

Sampai akhirnya sehabis Aa umrah, dia telfon Ummi dan bilang, “Iya Mi. Aa mau nikah sama Nadya.”

(Posisinya disini Kak Nadya nggak tahu soal persekutuan kedua Ibu ex- rekan bisnis ini)

Ummi menyampaikan kabar ini ke Ummi Desfi. Ummi Desfi in charge mengabarkan ke Kak Nadya. Mereka berdua nggak pernah bertemu. Sama sekali. Hanya sama-sama ‘dengar cerita’ dari orangtua masing-masing dan nazhar (melihat) lewat foto. Apalagi interaksi, gimana mau tahu kepribadiannya, sifatnya, kebiasaannya, kesukaannya (?)

“Terus jawabannya apa, mi?”, tanya saya.

Yang hebat, seseorang yang masih mahasiswi tingkat akhir dan kelahiran ’92 ini mau menerima. Alhamdulillaah. Yeeeeey. *tepuk tangan*

“Tapi,” kata Ummi, “walaupun sudah deal kan mereka belum pernah bertemu, Teh. Gimana kalau nanti pas bertemu muka eh ternyata nggak cocok? Makanya Ummi, Abi, sama Aa sebelum Ramadan ini mau berangkat melamar ke Payakumbuh. Doakan lancar yaa.”

***

Kunjungan di akhir Sya’ban itu membawa hasil positif. Menikahi wanita Minang itu “sesuatu” banget. Perjalanannya juga -kalau menuruti adat, penuh lika-liku. Ada minta izin ke para ninik-mamak / datuak, bahkan memasang umbu-umbul tanda adanya baralek juga mesti dilakukan oleh para datuak, dan banyak lagi sebenarnya. Tapi keluarga kami, Alhamdulillah, benar-benar dimudahkan oleh keluarga Payakumbuh.

(Oh ya, kisah ini saat acara lamaran. Makanan dihidangkan. Laki-laki di keluarga kami terbiasa makan banyak. Kali itu, Aa makannya sedikit sekali. “Aa beneran makannya segitu?” tanya Ummi. “Ya Mi,” kata Aa. Tidak lama sesudah acara, Aa mengeluh lapar. Hahaha.)

***

Tibalah saat menentukan tanggal pernikahan. “Kapan ini mau walimahnya?” Aa ada di Indonesia hanya sampai Oktober, setelahnya kembali ke Mesir. Sementara 18 Agustus sudah ditetapkan ada walimah di Lampung. Ummi bingung. Ummi Desfi memberi saran praktis, “Yasudah disini saja dulu tanggal 15 Agustus. Seminggu kemudian, sekalian acara walimah di Lampung.” Begitulah diputuskan bahwa acara di Lampung diundur menjadi tanggal 25 Agustus :)

H+3 lebaran, disupiri Ammi Ujang, Abi, Ummi, Uwak Shalihah, saya dan Mahmud berangkat ke Payakumbuh. Aa sendiri posisinya di Kalimantan. Dia akan datang ke Sumatera Barat pada H-1 akad, yaitu tanggal 13 Agustus.

Perjalanan darat lumayan melelahkan, kami berhenti dulu di Palembang -mampir ke rumah Mas Medi hendak mengantar undangan, lanjut lagi. Tidur sebentar di teras masjid :’) Berhenti sebentar di Danau Singkarak, rehat menginap di rumah Uni Dilla …. Di perjalanan, lapar. Ummi bilang, “Berhenti sebentar, ada jualan pisang goreng.” Wajah Abi langsung berseri bahagia X) Kami juga sempat makan sate Padang di perjalanan.

Abi sedang salat sunah, di sebuah masijd di Palembang

Abi sedang salat sunah, di sebuah masjid di Palembang

Rehat sejenak, Pelambang

Rehat sejenak -Ammi Ujang dan Kakak, Palembang

Di tepi Danau Singkarak

Di tepi Danau Singkarak

(not) fullteam

(not) fullteam

Uwak Shalihah, senyum doong :)

Uwak Shalihah, senyum doong :)

raut wajah Abi, waktu dibilang "ada pisang goreng"

raut wajah Abi, waktu dibilang “ada pisang goreng”

Sampai di Payakumbuh , Ayah Didi sudah memesan kamar di Hotel Kolivera untuk tempat kami istirahat. Tempatnya bagus, halamannya luas dan nyaman. Bila akhir pekan, hotel ini seringkali penuh dengan wisatawan asal Pekanbaru.

Plang hotel Kolivera, Payakumbuh

Plang hotel Kolivera, Payakumbuh

Foto di hari kedatangan Aa, sehari sebelum Aa jadi suami orang.

Foto di hari kedatangan Aa, sehari sebelum Aa jadi suami orang.

Mahar yang diminta Kak Nadya adalah hafalan surat Ar-Rahman dan satu set buku fiqh sunnah. Malam hari, Aa murajaah surat Ar-Rahman disimak Abi. Eh, pas hari H (hari akad), kata Aa, “Aduuuh. Gimana ini Aa deg-degan. Lebih seram daripada MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an). Hiiii.”

Teman-teman Aa juga hadir. Seingat saya selain Kak Rifqi, Abang Jihad dan (who?) juga datang dari Pekanbaru.

Sampai di masjid.

Masjid tempat akad

Masjid tempat akad

Saat sambutan, Aa kelihatan sekali tegang. Tidak berhenti menggosok-gosok tangannya yang dibungkus sarung tangan putih. Ia berkeringat. Sampai pembacaan Surat Ar-Rahman secara tasmi‘ -memperdengarkan tanpa melihat teks-. Aduh, khawatir ada ayat yang terlewat atau yang terlupa. Deg-degan sekali T_______________T Pas Aa tasmi‘, air mata saya mulai mengalir. Aa’ ku sayang T_____________________T

Alhamdulillah, lancar semuanya.

Kak Nadya, sebelum akad

Kak Nadya, sebelum akad

Serah terima satu set buku Fiqh Sunnah

Serah terima satu set buku Fiqh Sunnah

 <3

<3

Abi dan Ummi memeluk Kak Nadia ba'da akad.

Abi dan Ummi memeluk Kak Nadia ba’da akad.

Aa Qudwah: can't help but smile :)

Aa Qudwah: can’t help but smile :)

Hari resepsi terdiri dari dua hari. Hari pertama: akad dan tamu undangan. Hari kedua, untuk warga sekitar. Makanannya ya jelas masakan Padang. Hehe. Yum!

Kak Nadya siap-siap acara resepsi hari pertama

Kak Nadya siap-siap acara resepsi hari pertama

Foto sama Apak dan Amak

Foto sama Apak dan Amak

Dengan Ummi Dima' --beliau yang menunjukkan Ummi 'bandar kerudung'

Dengan Ummi Dima’ –beliau yang menunjukkan Ummi ‘bandar kerudung’

Dengan Aisyah

Dengan Aisyah

Bunga papan dan Selamat Datang

Bunga papan dan Selamat Datang

(Sayangnya, pohon jeruk di depan rumah ditebang -padahal sedang berbuah. T_T Kata Ummi Desfi, nanti Aa yang disuruh bertanggungjawab.)

Ketika sesi foto-foto, fotografernya mengarahkan pengantin untuk berpose. “Ya, tangannya disini ya,” katanya. “Astaghfirullahal ‘adziim … Astaghfirullahal ‘adzhiim..” Aa spontan nyebut. Hahaha.

Tamu-tamu berdatangan. Nggak berhenti. Sampai malam. Karena jalan cukup sempit sementara banyak kendaraan yang hendak masuk, jadilah macet. Tamu-tamu berjalan kaki meninggalkan kendaraannya di depan jalan.

Hari kedua, yang datang adalah warga sekitar …. *penulis capek wkwk*

Baarakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khair, Aa dan Kak Nadya tercinta.

Big Family Time!

Big Family Time!

Iklan

2 thoughts on “Jodoh Aa Qudwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s