Mati Lampu

Tanpa listrik, tidak bisa menonton teve, sulit untuk membaca, atau melakukan aktivitas lain yang melakukan penerangan. Lalu ngapain dong?

Dulu, zaman saya SD, hampir tiap kali mati lampu (lampu emergency belum tren waktu itu) jadilah momen kami berkumpul sekeluarga, apakah itu tidur-tiduran di kamar, kumpul di ruang tamu atau ruang tengah.

Diterangi temaram cahaya lilin, kami akan mendapatkan cerita-cerita lama. Apakah itu tentang masa kecil Ummi –petak umpet sampai tukaran baju dengan kawan, dipanggil menyanyi oleh Bank, mompa air sebelum Abah datang, dll. ; atau tentang kisah masa kecil kami dulu.

Bila kebetulan nenek sedang menginap, di ruang tengah, kami mendengar cerita beliau rumah panggung di pegunungan Pulau Panggung sana. Kayunya dari hutan, ditarik oleh kerbau. Atau, cerita beliau harimau masuk kampung. Cerita Abi yang ditinggal di dangau di tengah hutan lalu ada monyet besar datang. Cerita wewe –anak yang tidak taat pada orangtuanya lalu berubah menjadi kera. Cerita batu bertangkup, Ibu yang saking bersedih hati masuk ke dalam batu yg merekah lalu batu itu tertutup kembali. Sungguh asyik. Tapi dari semua ceria kampung kami itu, yang paling populer adalah cerita gajah.

Rumah nenek terletak di Desa Tanjung Tiga, Pulau Panggung terletak di paling ujung. Urutannya:Dari jalan raya ada gang kecil dengan barisan rumah panggung,susurilah, rumah terakhir adalah rumah keluarga Pak Sulani. Setelah sepetak kolam ikan yang cukup lebar (tebat kami sebut, balong kalau kata urang Sunda), sungai kecil, terdapat bukit -yang merupakan rangkaian Bukit Barisan.

Alkisah, zaman itu masih banyak binatang liar -harimau saja pernah masuk kampung-. Nah, ada orang yang mengetuk pintu rumah nenek. Dia numpang menginap. Diberitahu, “Boleh. Tapi tak ada tempat di dalam. Kalau mau, tidurlah di beranda.” Singkatnya tamu tersebut setuju. Di beranda dia ngopi sambil ngobrol dengan temannya. Bergurau sana-sini, dia sempat menyinggung soal gajah. Bilang kalau dia berani menghadapi gajah. Eh, gajahnya benar benar datang lalu mengangkat dia dari beranda dengan belalainya!

(Itu karena kuping gajah lebar. Bisa mendengar apa yang kita katakan.)

Terlepas dari benar atau tidak, cerita itu berkesan sekali buat kami. Apalagi setting-nya adalah beranda rumah nenek. Rasanya dekaat sekali :))

Aah, mendengar cerita saat mati lampu benar sungguh asyik. Semoga kebiasaan ini bisa dilanjutkan di keluarga kami.

Mati lampu; momen yang mendekatkan. Jeda sejenak dari aktivitas. Sampai saat lampu menyala kembali, kompak kami mengucapkan satu kata: “Alhamdulillaaah!”

Pangkalpinang, mati lampu kedua kali untuk hari ini ;)

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s