Waktu Magang Dulu

Saya magang sebentar saja, kira-kira hanya hitungan tiga bulan. Before it was cool and famous. Tapi, ada banyaaaak pelajaran yang bisa diambil dan saya masih terkenang. (Eaaa, segitunya.) *Soal yang disana gak inget sama saya sih, kayaknya enggak, sebab turn-over pegawai -terutama pegawai kontrak- luar biasa cepat.
Hal-hal yang memorable bagi saya, misalnya:

1. Atasan yang sering ajak diskusi dan kasih nasihat. Tentang apa saja, pernikahan, keluarga, pekerjaan. Misalnya nih: “Honeymoon itu penting lho. Sebab nanti akan ada suatu saat kita berantem sama pasangan. Nah gunanya honeymoon, sebagai tabungan kebahagiaan. Ingat-ingat lagi, bahagia lagi deh.” Lain waktu misalnya: “Nggak ah, aku nggak datang ke acara itu, aku gak mau tanda tangan.” Waktu saya menyodorkan daftar hadir dan uang dinas. Juga, “Mba saya gak usah diikutkan di acara. Kan saya gak ikut.” Me: “Tapi pak, kan Bapak dan staff bekerja juga ikut mendukung dari kantor. Ini pesan atasan saya, Pak.” Sambil tanda tangan beliau berkata, “Iya mba tapi ini jadi kerjaan saya lagi, uangnya pun nggak bisa saya pakai. Saya puas apabila sudah memastikan gaji dan hak kawan-kawan di sini diterima dengan jumlah sesuai dan tepat waktu.” Kemudian saya jadi kepingin nangis. What a humble director. Doaku untukmu, Pak. Dan banyaaaak lagi petuah-petuah yang selewat tapi diam-diam jadikan prinsip.

2. Bapak Dirut! yang ngajinya bagus, care terhadap staff. Tiap Dhuha rame deh tu mushalla. Trus suatu waktu salat Magrib dan diimami si Bapak. Ngajinya? Surat Al-Baqarah, merdunya. Pernah juga ketemu di bank Mandiri gedung sebelah, beliau mau ajak senior makan siang bersama Bank BJB. Karena kami lagi bareng, diajak juga deh. (emang rejeki gak kemana 😊) Pernah juga waktu beliau jadi narsum di Bandung dan kami mendampingi, malamnya diajak makan malam di The Valley bersama keluarga beliau. Gak tau deh itu honor narasumber cukup atau gak, mesti nombok kayaknya πŸ˜‚ Pernah juga waktu sudah masuk Eselon I yang sekarang, ketemu beliau sedang jalan kaki sendirian. Saya gak ngeh karena nggak pakai kacamata. Dan beliau duluan yang menyapa. (Well, Halimah again πŸ˜‚) Beliau tanyakan, sekarang saya penempatan dimana, sekaligus mengucap selamat karena waktu itu sehabis menikah ditambah maaf karena tidak hadir. Terkesima lah saya, kirain si Bapak sudah lupa. Hihihi i take it too personal πŸ˜›

3. Pengajian tiap Rabu pagi pukul delapan. Ilmu yang luar biasa, ustadz yang keren, rekan yang baik, ruangan yang bagus, snack dan teh. Hihi. Di atas itu semua, kemauan orang-orang untuk berpartisipasi, kelihatan dari pertanyaannya dan woro-woro sebelum acara dimulai. Khidmat. Ah, I miss pengajian hari Rabu.

4. Pengalaman sebelum yang sebenarnya. Tentang divisi yang lebih sering DL, atau siapa yang pekerjaannya lebih berat, dan bumbu-bumbu lainnya dalam pekerjaan. Untunglah karena sudah pernah, saya gak heran lagi. Waktu penempatan definitif, saya dapat seksi yang santaaiiii sekali. And I am blessed, karena waktu itu lagi hamil dan bisa bawa anak ke kantor sampai usianya satu tahun. Gak kebayang kalau di seksi yang sibuk.

5. OB-nya ngangenin! (Waktu itu) ada tiga orang OB: Mas Hendrik, Mas Aan dan Mba Evi. Semuanya baiknya puoooollll (dan mba evi meuni geulisss!) walaupun berdasarkan pengakuan, kerjanya berat banget kaya dibudakin. Hahaha. Coba, pagi ditanyain mau minum apa, siang ditanyain mau makan apa, sore juga sama. Tring tahu-tahu ada di meja. Service-nya luar biasa. Dan pegawainya maunya luar biasa, ada yang mau kopi susu lah, sampai pernah ditegur pak direktur. “Kalian ini gayanya … udah kaya pejabat.” πŸ˜‚πŸ˜‚ #AmpunPak

6. Gak ada ahli hisap. Aseeeeek! Gak ada yang merokok. Hanya beberapa OB dan supir yang sering merokok. Itu pun di tangga. Di tangga pun, masih dimarahin waktu rapat. Kurang jauh. Wkwkwk. Inilah kalau jejeran manajemen gak merokok. Bahagia <3

7. Di Gedung keren suka banyak mobil menteri. Hahaha. Sempat beberapa kali lihat menteri, misal Bp Dahlan Iskan (media darling in that time). Ntar pas udah naik kantor cerita deh “Ada Pak Dahlan lho di bawah.” Or ada “Pak Hatta di bawah.” Waktu itu juga pengumuman kenaikan BBM di gedung yang sama. Pantesaan di bawah rame wartawan. Ada apa sih, oh ternyata. Berasa penting *salah perasaan* yang bener kerja di tempat penting.

8. Banyak makanan! Dari Hotel X habis konsinyering, hadiah dari Bank Y, ditraktir Bos Z. Makmur pokoknya. Oh apalagi kalau para bos habis rapat. Bapak yang ini maunya buah, bapak yang itu lain lagi. Special request. Kalau buka kulkas ada buah udah rapi, langsung diperingatkan “Jangan! Sajen Bapak X” Oooo. Mafhum lah kami. Nanti habis rapat giliran pasukan semut berpesta πŸ˜‚

9. Ketemu banyak orang. Ke Angkatan Laut, ke Lemhanas, ke BEI, kemana lagi ya. Gak sampai advance seperti kawan-kawan lain yang sampai ke luar pulau/ luar negeri. But it was enough for me. Jadi ngerti juga sedikit-sedikit tentang Public Relation, branding dkk. Kepingin belajar design tapi belum pernah dilakukan πŸ˜‚πŸ˜…

10. Selama magang itu lah, sempat ke Solo dan ke Bandung bertemu dua sahabat baik. Rencana sejak lama yang akhirnya terwujud. Grateful.
Mungkin itu dulu, kalau ingat lagi akan ditambahkan poinnya, kenapa baru tulis sekarang, karena pada masanya: terlalu dihayati. Hahaha. Sekarang cukuplah jadi kenang-kenangan. Terimakasih ***P.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s